Khazanah

Silat Betawi Era Kolonial

Ahad, 22 January 2017 01:30 WIB Penulis: ABDILLAH M MARZUQI abdi@mediaindonesia.com

Ebet

BUKAN rahasia lagi, Jakarta merupakan daerah istimewa. Begitu pun dulu, baik ketika masih bernama Batavia atau Jayakarta. Di Tanah Betawi itu pula, tradisi silat atau biasa disebut maen pukulan tumbuh subur. Hampir separuh dari sekitar 600-800 aliran atau perguruan yang ada di Indonesia berasal dari Jakarta. Ada sekitar 317 aliran maen pukulan, sebutan untuk silat di tanah Betawi, yang merupakan pengembangan dari sekitar 100-200 pecahan aliran dari empat aliran inti. Jumlah 317 aliran tersebut merupakan data yang dimiliki PPS. Putra Betawi.

Bahkan saking kayanya Betawi dengan silat atau dalam dialek lokal disebut maen pukulan. Ada ungkapan “tiap utan ade macannye, tiap kampung ade maenannye” (setiap hutan ada macannya, setiap kampung ada mainannya). Hampir di setiap kampung dapat ditemukan maen pukulan, yang tentunya berbeda antara satu dan yang lain, karena begitu lekatnya masyarakat Betawi dengan silat, sekaligus masyarakat Betawi yang berdiam di Jakarta. Lalu bagaimana maen pukulan Betawi di masa kolonial ataupun bagaimana sepak terjangnya pada zaman itu?

Menurut catatan sejarah, Jayakarta menjadi daerah jajahan pertama di Nusantara sejak 30 Mei 1619 dan berganti nama menjadi Batavia. Kala itu, muncul kebijakan dari Hindia Belanda untuk kerja rodi, tanam paksa, dan menaikkan pajak. Kebijakan-kebijakan itu melahirkan gejolak revolusi dan perlawanan masyarakat tani. Di tanah Betawi, perlawanan masyarakat tani dipelopori para jago. Istilah ini merujuk pada guru maen pukulan dan melindungi masyarakat. Seorang jago Betawi dilarang atau pantang berjudi, merampok, memerkosa, minum minuman keras, atau melakukan perbuatan tercela lain.

GJ Nawi dalam buku Maen Pukulan: Pencak Silat Khas Betawi menyebut, terdapat tiga peristiwa paling terkenal. Pertama, sepak terjang Entong Tolo dari Pondok Gede (1904-1908). Kedua, perlawanan rakyat Condet di 1916 yang dipimpin Entong Gendut, disusul episode kedua di 1923, serta pemberontakan Kaiin Bapak Kayah di Tangerang pada tahun 1924. Entong Tolo adalah seorang jago dan pedagang dari Pondok Gede, yang pindah ke Pagerarang Jatinegara. Dengan dalih membantu para petani di tanah partikelir yang menderita karena tekanan pajak, ia merampok para tuan tanah di sekitar Sawangan dan Jatinegara. Entong Tolo ditangkap oleh Camat Sawangan yang juga pandai ber-maen pukulan. Entong Tolo dibuang ke Manado.

Melawan kesewenang-wenangan
Aksi perlawanan terhadap kesewenangan pajak yang Entong Gendut lakukan terjadi pada 5 April 1916 di rumah peristirahatan Gedong Villa Nova perkebunan Cililitan. Bermula dengan merusak kendaraan sampai menghentikan pertunjukan topeng di halaman gedung. Perlawanan tersebut memaksa pemerintah kolonial Belanda turun tangan. Entong Gendut dianggap sebagai pimpinan kerusuhan dan menjadi sasaran utama. Wedana Meester Cornelis pun mengerahkan satuan kepolisian untuk mengepung rumah Entong Gendut di Batuampar. Bersama 200 orang pengikutnya, Entong Gendut melakukan perlawanan dan berhasil menawan Wedana Meester Cornelis.

Asisten Residen Meester Cornelis lalu mengirim pasukan tambahan yang melibatkan militer pada 10 April 1916. Dalam peristiwa itu, Entong Gendut tertembak ketika menyeberangi kali di Condet Batuampar menjelang subuh. Dia meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit. Di Tangerang, muncul gerakan perlawanan yang dipimpin Kaiin Bapak Kayah. Ia mengusung pola gerakan yang memanfaatkan gerakan protes dan pertentangan golongan petani terhadap golongan tuan tanah. Dia beranggapan tanah-tanah perkebunan yang dikuasai para tuan tanah harus dikembalikan kepada para petani sebagai pemilik awal.

Rencana perlawanan diawali dengan menggelar pertunjukan wayang. Di tengah pertunjukan Ki Dalang menyebut dirinya keturunan raja Sunda. Perlawanan ditetapkan pada Minggu, 10 Februari 1924. Ki Dalang dan para pengikutnya mulai menyerang rumah-rumah tuan tanah dan kantor Kongsi tuan tanah di Kampung Melayu. Setelah berhasil membakar data-data terkait pajak dan dokumen kerja, rombongan lalu berencana menyerang Batavia. Namun sesampainya di Tanah Tinggi, rombongan Ki Dalang disambut tembakan polisi. Ki Dalang tewas dan beberapa pengikutnya melarikan diri. Menariknya, ada ketentuan menggunakan pakaian putih dan topi anyaman bambu atau topi pandan khas Tangerang yang dijadikan simbol pemberontakan Kaiin Bapak Kayah.

Setelah masa kolonial, Indonesia memasuki masa Perang Dunia II dan masa kemerdekaan. Para jago Betawi tidak pernah melepaskan peranannya dalam mengusir Belanda dan mengawal kemerdekaan. Tercatat beberapa nama seperti Haji Darip dari Klender, Kyai Haji Nur Ali dari Ujung Malang Bekasi, dan Imam Syafei dari Senen. “Mereka tidak saja mengandalkan strategi bertempur tapi juga menyebarkan kepiawaiannya bermata pukulan. Kiprah pencak silat Betawi ini pun terus hidup dalam perjuangan bangsa di masa selanjutnya,” begitu menurut GJ Nawi sebagaimana dalam buku Maen Pukulan: Pencak Silat Khas Betawi.

Tak terkecuali saat penjajahan zaman Jepang. Pada awal masa pendudukan Jepang, ilmu bela diri lokal dijadikan sebagai sarana propaganda guna membangun spirit perlawanan terhadap penindasan bangsa-bangsa barat. Pada masa-masa akhir kekuasaan pemerintah militer Jepang, segala potensi bangsa Indonesia, termasuk ilmu bela diri tradisionalnya dimanfaatkan untuk kepentingan Jepang dalam menghadapi sekutu. Tanah Betawi atau Batavia yang di masa Jepang diubah menjadi Jakarta dijadikan sebagai pusat pelatihan ilmu bela diri tradisional pencak silat yang ada di seluruh Indonesia. (M-2)

Komentar