Features

Kenakalan Herlina di Mata Kolega

Rabu, 18 January 2017 20:24 WIB Penulis: Dheri Agriesta

MTVN

KOLONEL Purn Sutrami, 75, tertawa saat mengingat tingkah polah dan kenakalan saat pendidikan militer dulu. Terutama tingkah salah satu kameradnya yang kini berpulang, wanita peraih pending emas Siti Rachma Herlina.

Saat pelatihan militer, lumrah sebuah kesalahan diganjar hukuman. Dulu, hukuman paling sering diberikan adalah masuk ke kamar dipenuhi nyamuk.

"Nah Herlina paling sering, karena bandel," kata Sutrami di TPU Pondok Ranggon, Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (18/1).

Herlina bandel bukan tanpa alasan. Saat berada di Korps Wanita Angkatan Darat, penerima pending emas itu sibuk bukan kepalang. Herlina sibuk berbagai urusan, termasuk kepresidenan.

Tak hanya menjadi perempuan pertama yang terjun di belantara hutan Papua saat Operasi Trikora. Herlina juga menjadi salah satu pejuang saat Operasi Dwikora di hutan belantara Kalimantan.

Sutrami datang bersama Marry Thana dan Hermana Wisan, dua kolega lain saat pelatihan militer. Mereka kenal Herlina sejak 1962. Hubungan mereka terputus saat ditugaskan di berbagai operasi.

Selain prestasi mentereng, kebandelan Herlina melekat di ingatan mereka. Karena, saat di militer, kesalahan satu prajurit harus ditanggung bersama.

"Jadi gini ya, kalau satu yang bandel, dihukum satu kelas. Jadi kalau Herlina yang bandel dihukum semua, semua disuruh merayap," kata dia tertawa.

Kejadian paling berkesan buat Sutrami adalah saat menggelar latihan lapangan bersama. Latihan lapangan harus melewati kebun milik masyarakat setempat. Ia, Herlina, dan kolega lain kerap mengambil hasil kebun untuk disantap nanti.

"Sampai kita nyuri sayur lombok, kita masukkan ke kantong ikat pinggang, saya heran sampai lombok pun kita curi, semua memang bandel sih kita," kenang Sutrami.

Herlina memang akrab dengan Bung Besar, panggilan untuk Presiden Sukarno. Tak hanya Bung Karno, Herlina juga akrab dengan Presiden Suharto. Tapi, Herlina tak sombong.

Sutrami mengingat Herlina sebagai sosok rendah hati. Ia sempat heran saat Herlina memutuskan untuk mengembalikan penghargaan pending emas yang diberikan Bung Karno.

"Dia emang enggak mau diekspose, ya begitulah rendah hati," kata dia.

Lain pula keluarga, sang keponakan Soviati, melihat Herlina sebagai sosok tegas dan peduli dengan keluarga. Herlina tak akan membiarkan anak dan keluarga tumbuh menjadi orang yang memble dan tak mandiri.

"Beliau selalu mengajarkan keluarga agar menjadi sosok yang tangguh dan mandiri," kata dia terisak.

Kini, Herlina berbaring di sepetak tanah berhias karangan bunga dan sebuah potret dirinya berpakaian lengkap siap melakukan penerjunan, di TPU Pondok Ranggon. Ia menolak dimakamkan di TMP Kalibata meski menyandang status sebagai pahlawan nasional. Herlina meninggalkan dua orang putra yang kini tinggal menetap di Malaysia.

Penyakit menggerogoti Herlina sejak lama. Tapi, keluarga memutuskan merawat pejuang Trikora dan Dwikora itu di rumah. Pada 5 Januari, penyakit Herlina kian parah hingga tak sadarkan diri. Ia dibawa ke Rumah Sakit Mitra Keluarga dan mendapatkan perawatan tiga hari.

Tak kunjung membaik, keluarga membawa Herlina ke RSPAD Gatot Subroto. Herlina mengembuskan napas terakhir sekitar pukul 21.30, Selasa (17/1).

Selamat Jalan Srikandi Penerima Pending Emas!

Komentar