Foto

Filipina yang Terus Produktif

Ahad, 15 January 2017 09:41 WIB Penulis: Susanto

MI/Susanto

SUARA tangisan bayi menggema di bangsal besar berisi puluhan tempat tidur dengan seprei putih bersih. Hiruk-pikuk ibu membawa bayi dan lalu-lalang petugas medis menambah ramai kondisi ruangan besar di lantai tiga Rumah Sakit Jose Fabella, Santa Cruz, Manila, Filipina. Sang ibu duduk berjejer, menunggu antrean panggilan dari para perawat.

Sesekali mereka mengusap pipi dan kening anaknya. Kecup dan bahasa ibu mampu menghibur sang anak agar tidak menangis. Satu tempat tidur biasa ditempati dua hingga tiga ibu dan sang jabang bayi. Bukan apa-apa, tingkat kelahiran bayi di Filipina tergolong sangat tinggi.

"Umumnya kami menangani sekitar 100 ibu yang melahirkan di sini tiap harinya...," ujar Mary, perawat yang bertugas. Siang itu merupakan jadwal rutin bagi para ibu untuk memeriksakan bayi-bayi berumur dua hingga tiga hari untuk mendapatkan perawatan. Selain itu, bayi-bayi tersebut diukur, ditimbang, serta diberikan penanda identitas agar tidak tertukar. Sang ibu pun mengisi formulir tentang data anak mereka.

"Ini anak ketiga saya dan semuanya lahir di sini...," kata Eliza, ibu berumur 17 tahun. Kali ini, Eliza yang bersuamikan pengemudi tricycle akhirnya mendapatkan anak lelaki, dua anak sebelumnya perempuan. Rumah Sakit Jose Fabella Memorial telah berdiri sejak 1920 dan merupakan salah satu rumah sakit tertua di Manila, yang mengkhususkan diri menangani persalinan ibu dan perawatan anak.

Awalnya hanya memiliki enam tempat tidur dan kini mencapai 700 tempat tidur dengan enam lantai. Kendati dalam sehari rumah sakit tersebut membantu hingga 100 persalinan, angka tersebut menurun dari tahun sebelumnya. Kebijakan Presiden Rodrigo Duterte mewajibkan ibu-ibu yang akan melahirkan agar ditangani di rumah bersalin di setiap barangay atau distrik sehingga tidak terpusat dan menumpuk di Fabella.

Filipina menjadi salah satu penyumbang kelahiran tertinggi di Asia Tenggara selain Indonesia. Agama menjadi salah satu halangan utama program pengendalian populasi, sebab Keuskupan Katolik Filipina menganggap penggunaan alat kontrasepsi merupakan campur tangan manusia terhadap kehendak Tuhan. (M-3)

Komentar