Weekend

Viral karena Berbeda

Ahad, 15 January 2017 10:07 WIB Penulis: Fario Untung

MI/Ramdani

LELAKI dengan pengikut 13 ribuan di Twitter dan tulisan-tulisannya dibagikan di Facebook hingga ribuan kali itu, sederhana saja. Berkemeja lengan pendek biru muda dengan tas selempang cokelat dan tentunya secangkir kopi. Secangkir kopi hitam memang selalu hadir dalam narasi-narasi yang ditulisnya saat ia memberikan selamat, mengkritisi, juga mempermalukan seseorang.

Ia menjadi warna yang memeriahkan hiruk pikuk politik kekinian, yang senantiasa terhubung dengan teks dalam gawai yang begitu deras dipertukarkan, dikomentari, diamini, dan dihujat. Denny konsisten menggeluti ideologi, sejarah, keagamaan, serta tentunya toleransi, semuanya diulas dengan gaya penulisan yang nakal dan menyengat.

Media Indonesia, Senin (9/1), menjumpai pengarang buku Tuhan dalam Secangkir Kopi itu di Gula Merah, kafe di Kuningan, Jakarta Selatan. Pria yang mengaku hidup sebagai penulis itu bertutur tentang pilihan kata-katanya yang tak biasa, hingga pengalaman istimewanya dengan hater.

Bagaimana rasanya menjadi selebritas media sosial yang tulisannya senantiasa viral?
Saya tidak paham arti seleb socmed (social media) itu, tapi kalau kemudian tulisan menjadi viral, itu sebenarnya karena banyak orang yang lagi membutuhkan sesuatu yang berbeda dari pandangan yang didoktrinkan selama ini. Mereka banyak melihat keanehan yang tidak sesuai dengan akal dan pikiran, tetapi semua justru terasa benar. Ketika kemudian sebenarnya itu semua ternyata salah, tidak banyak orang yang berani mengungkapkan itu karena takut mendapat intimidasi. Tapi saya tidak. Saya tetap maju dan menyuarakan yang menurut saya dan kebanyakan orang itu salah. Jadi, ketika banyak orang yang sependapat dengan tulisan saya, itu akan menjadi tulisan yang viral.

Di buku Tuhan dalam Secangkir Kopi, Anda menyebut posting-an di Facebook itu hanya menjawab pertanyaan Facebook, what's on your mind/apa yang ada dalam pikiran Anda? Berarti pikiran Anda selalu penuh dengan kisruh politik dan negara?
Saya memang mengungkapkan apa yang ada di pikiran sehingga kata-katanya lebih lugas, lebih bercerita dan berkata-kata daripada sekadar teks. Semua itu karena saya senang melihat karakter manusia. Dalam hal ini, politik merupakan sebuah bagian saja, bukan berarti saya terlibat dalam politik itu sendiri karena politik itu hanya saya jadikan sebagai alat untuk menilai dan melihat karakter orang tersebut. Bukan karena kisruh politiknya, melainkan karena kisruh seperti ini justru akan memunculkan karakter setiap orang yang terlibat di dalamnya. Itu asyiknya!

Tulisan Anda kerap bersinggungan keras dengan SARA, bagaimana pandangan Anda tentang isu ini?
Menurut saya, SARA ini sebenarnya sudah lama muncul, tepatnya sejak Orde Baru. Jadi, dengan konsep jangan menyinggung atau membicarakan SARA, itu saja sebenarnya sudah SARA. Seperti sejak dulu, kan sudah ada yang namanya pembicaraan kaum minoritas dan mayoritas, itu sebenarnya sudah SARA karena di negara kita sebenarnya tidak mengenal konsep minoritas dan mayoritas. Negara kita menganut WNI itu melampaui perbedaan suku, ras, agama, warna kulit, dan lainnya. Ketika Orde Baru selesai dan masuk masa reformasi, barulah sering terjadi perang SARA. Liat saja Poso, Ambon, Sampit, Papua, dan masih banyak lagi. Karena selama dan pasca-Orde Baru itu, kita berada di dalam masa kebodohan. Justru sekarang, kita sedang memasuki masa pendewasaan karena sudah berhasil melewati masa-masa kebodohan untuk membentuk negara kesatuan Republik Indonesia sehingga beruntunglah Indonesia memiliki sosok seorang Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang berani mengatakan dirinya berbeda suku, ras, dan agama dengan lantang. Harus ada yang seperti itu. Selama orang tersebut benar dan membela negara untuk tetap bersatu, bukan justru jadi pemecah belah.

Anda begitu lugas dan berani nakal dalam membuat postingan, apakah gaya menulis Anda memang seperti ini atau memang sengaja dibuat saat mulai memposting?
Kalau lugas, nakal, itu kan hanya gaya penulisan. Tapi saya tidak pernah menyerang individu. Misal saya berbicara sosok ulama. Ulama itu adalah sosok penerus Nabi. Pertanyaannya ulama mana dulu yang mewarisi Nabi?

Ulama seperti itu adalah seseorang yang meneruskan akhlak dan perilaku seorang Nabi, tapi kalau tidak, apa orang tersebut bisa disebut sebagai ulama?
Yang saya serang, kesalahan-kesalahan berpikir orang dalam mengabdi, seorang yang dikira ulama, begitu saja diberikan jubah ulama. Apalagi jika ulama itu masih berurusan dengan duniawi, masih suka uang, masih suka naik mobil mewah.

Ulama itu adalah orang yang hanya memikirkan akhirat, tidak memikirkan duniawi sedikit pun. Namun, jika memang saya menulis tentang seseorang, itu sifat penulisannya bercanda, mengingatkan, bukan memaki-maki atau marah-marah. Namun, banyak orang yang merasa tidak terima saya ingatkan, justru merasa diejek. Tapi kalau seperti itu, ya, berbicara soal pemahaman saja karena saya tanggung jawab atas apa yang saya tulis, tetapi saya tidak tanggung jawab atas apa yang Anda pahami.

Jika ada yang menyebut Anda adalah Ahoker, bagaimana menurut Anda?
Nah, saya juga tidak paham kalau disebut Ahokers karena kalau ada Ahokers, akan ada Agusers dan ada Aniesers. Tapi saya jelaskan, mendukung Ahok itu adalah seperti sesuatu yang benar atau salah, kedua hal itu tidak berwujud.

Menurut definisi saya, sekali lagi menurut definisi saya, Ahok itu sosok yang benar. Tapi kalau ada orang yang tidak mendukung Ahok, mungkin karena dia mendukung sosok yang lain, itu sangat wajar sekali.

Kalau disebut posting-posting itu adalah pesanan, bagaimana? Sebenarnya seberapa independen Anda?
He he he. Bagaimana saya disebut pesanan? Justru saya itu datang ke Rumah Lembang dan bertemu Ahok untuk bilang saya telah menulis buku Semua Melawan Ahok dan semua hasil penjualannya saya sumbangkan untuk dana kampanye sehingga biar semua orang tahu, saya itu bukan dibayar Ahok, justru saya yang memberi uang ke Ahok. Apa itu pesanan?

Ada pengalaman seru atau menegangkan dengan orang yang kontra dengan hater?
Saya sempat paranoid karena pernah suatu saat sedang jalan, saya pernah dimaki-maki. Saya kaget karena ternyata ada orang yang familier dengan wajah saya. Di situ saya sempat jadi paranoid untuk beberapa waktu. Namun, semua itu bisa saya atasi sesuai berjalannya waktu. (M-1)

Komentar