Weekend

Terbakar Matahari 24 Jam Sebanding dengan Pengalaman dan Ilmu

Ahad, 15 January 2017 08:51 WIB Penulis: MI

DOK. PRIBADI

DOSEN Universitas Gadjah Mada (UGM) Nugroho Imam Setiawan, 58, yang ikut dalam penelitian di Kutub Selatan (Antartika) bersama Japan Antarctic Research Expedition (JARE) kembali mengirimkan cerita di benua selatan.

Melalui surel yang diterima Media Indonesia, Jumat (13/1) malam, Iman mengaku tengah rehat sejenak selama satu hari di kapal setelah 17 hari fieldwork di lapangan dengan tiga lokasi berbeda. Rehat satu hari kali ini di kapal Shirase, tutur Imam, digunakan untuk mandi (akhirnya mandi juga setelah 17 hari), cuci pakaian, input data, menyiapkan peta kerja selanjutnya, dan kembali melihat hiruk-pikuk dunia.

"Masih ada satu bulan fieldwork lagi ke depannya. Besok kalau cuaca baik, kembali ke lapangan untuk 15 hari selanjutnya. Untuk pindah lokasi basecamp, kami diantar-jemput dengan dua helikopter secara bergantian," ujarnya melanjutkan cerita.

Pada penelitian lapangan itu, masing-masing dari tiga lokasi memiliki kelebihan dan kekurangan dari segi geologi, medan, iklim, dan lokasi basecamp. Ia menyebutkan, di Antartika, tidak ada tipe batuan lain di lokasi penelitian selain batuan metamorf (gneissik) dan granitoid (pluton maupun pegmatit) ataupun perpaduan keduanya (migmatit).

Honeycomb structure paling sering dijumpai pada batuan akibat gerusan angin dengan iklim kering di permukaan batuan.

"Tiap hari kami mengoleksi 10-20 kg sampel batuan dengan jarak tempuh 5-10 km," tuturnya.

Basecamp dibangun dengan satu tenda besar untuk kegiatan bersama baik untuk makan maupun bekerja, tujuh tenda kecil untuk setiap peserta ekspedisi, dan dua tenda toilet. Kalau beruntung, para peneliti bisa mendapatkan tempat datar dengan alas pasir kasar hasil dari gerusan angin pada batuan. "Namun karena tidak ada pilihan lain, biasanya (kami) dapat alas batu-batu runcing dengan kondisi miring. Baru satu hari, alas tenda dan matras sudah robek.

"Pada musim panas kali ini, tambahnya, suhu udara bervariasi dari -5 derajat celsius hingga 5 derajat celsius dengan kelembapan udara 40%-60%. Beberapa kali tim harus bekerja seharian dalam kondisi suhu -2 derajat celsius ditambah angin dingin dan hujan salju. Pada malam hari menjelang tidur, di dalam tenda pun suhu masih -1 derajat celsius hingga 0 derajat.

"Untung ada sleeping bag hangat sebagai penjamin tidur tetap nyenyak," ungkapnya.

Namun, menurut Iman, medan berat dengan bebatuan runcing membuat 15 hari pertama cukup melelahkan dengan kondisi sepatu sudah robek di sana-sini. Selama 24 jam nonsetop, matahari menghajar para peneliti dan membuat wajah menjadi belang kehitaman walau sudah pakai sun-block spf 50++ setiap hari. Kelembapan yang rendah membuat kulit di tepi kuku mudah mengelupas dan perih.

"Akan tetapi, rasa lelah tersebut sebanding dengan pengalaman, ilmu yang didapat, dan rasa kagum akan keagungan Tuhan," ujarnya menutup surelnya. (AU/E-2)

Komentar