Tifa

Emosi dan Karakter Seniman dalam Foto

Ahad, 15 January 2017 07:30 WIB Penulis: (Ardi Teristi Hardi/M-2)

MI/ARDI TERISTI HARDI

FOTO-FOTO para seniman berjejer di ruang pamer Bentara Budaya Yogyakarta. Foto-foto tersebut bukan foto-foto kebanyakan yang mengabadikan peristiwa, melainkan sebuah foto diri para seniman dengan konsep yang sangat personal yang diambil Adhi Kusumo. Ada sekitar 20 sosok seniman yang telah diambil potretnya, seperti Heri Pemad, Gunawan Marianto, Eko Nugroho, Laksmi Shitaresmi, Marzuki ‘Kill The DJ’, Naomi Srikandi, dan Bob Sick. Karya-karya tersebut dipamerkan dengan tajuk Photo Exhibition Adhi Kusumo Art Begins at 40, Portraiture Seniman Kontemporer Yogyakarta Usia 40+, 11-17 Januari 2017.

Bagi Adhi Kusumo, kumpulan foto portraiture itu merupakan bentuk penghormatan terhadap mereka, para seniman kontemporer Yogyakarta yang telah memasuki usia istimewa, 40 tahun. Di usia tersebut mereka masih setia mewarnai dunia seni dengan karya-karya yang semakin matang dan berpengaruh. Karena yang menjadi objek foto ialah seniman, konsep visual foto tidak jauh dari kekaryaan sang seniman tersebut. Dalam konsep foto yang diambil, bagi Adhi, tidak mutlak seniman harus difoto bersanding dengan karyanya. “Paling penting di sini bagaimana kolaborasi emosi dan karakter si seniman mampu terjalin baik dengan imajinasi dan referensi yang dipunyai si fotografer hingga tereksekusi ke dalam sebuah bentuk karya foto portraiture,” kata dia.

Toilet dan ide kreatif
Heri Pemad, misalnya, dipotretnya saat berada di dalam toilet. Alasannya, di toilet tersebut Direktur Artistik Art Jog banyak mendapatkan ide. “Tempat istimewa bagi saya ialah WC. Saat buang hajatlah banyak ide kreatif muncul,” kata Adhi Kusumo meniru pernyataan Heri. Sementara itu, saat memotret sastrawan dan aktor Gunawan Marianto, Edhi memilih sofa, meja klasik, dan tumpukan buku sebagai latarnya. Pemilihan konsep pengambilan foto tersebut berdasarkan atas kesannya ketika bertandang ke rumah Gunawan Marianto. Kesan pertama ketika memasuki rumahnya di Tirtonirmolo, Bantul, ialah rapi, resik, dan sunyi. Di rumah tersebut tidak ada suara radio, musik, ataupun gambar televisi.

Di sanalah sastrawan dan aktor tersebut biasa ‘mengasingkan diri’ dari hiruk-pikuk dunia. “Tapi saya yakin di dalam bungkus yang sepi ini, rumah ini ramai oleh kata-kata,” kata dia. Sementara itu, kala memotret perupa Eko Nugroho, Adhi Kusumo memotretnya dalam balutan kain sarung, laiknya sesosok ninja. Ia mengaku memotret Eko pada 11 tahun yang lalu. “Referensi saya saat menggarap Eko hanyalah The Konyol. Komik striptis figur kese­harian seorang manusia yang suatu hari bisa berlaku bodoh, usil, serta konyol,” kata dia.

Adhi mencontohkan pada karya Eko yang berjudul Sarung Cap Gajah Salah Duduk. Dalam karya tersebut, Eko menggambarkan metamorfosis benda sarung yang dapat digunakan apa saja. Bagi seniman Ong Hari Wahyu, Adhi Kusumo mencoba menyelisik dan merekam kehidupan seniman-seniman yang hidup dan punya andil untuk kotanya. “Mereka orang-orang yang berhasil membawa dan memperjuangkan keseniannya secara nasional dan internasional,” kata dia. Portraiture merupakan cabang ilmu fotografi paling tua yang paling berkompeten dalam studi karakter foto. Lewat foto yang dipamerkan, pengunjung dapat melihat wajah-wajah para seniman dalam foto dan bisa menyelami karakter setiap seniman yang disadari atau tidak mempunyai hubungan linear yang kuat dengan karya yang dihasilkan. (Ardi Teristi Hardi/M-2)

Komentar