PIGURA

Belenggu Kalabendu

Ahad, 15 January 2017 06:30 WIB Penulis: Ono Sarwono. sarwono@mediaindonesia.com

Dok MI

MERUNUT pemikiran pujangga Ranggawarsita (1802-1873), situasi dan kondisi kehidupan bermasyarakat kita saat ini sepertinya sedang terperangkap dalam era Kalabendu. Zaman yang ditandai dengan masifnya penjungkirbalikan nilai-nilai kehidupan. Terlalu banyak untuk menyebutkan tanda dan fakta bahwa kita berada dalam zaman penuh nila ini. Satu di antara yang paling menggiriskan belakangan ini ialah banyaknya berita bohong (hoax). Bukan saja isinya fitnah, hasut, dan sejenisnya, pesan yang disebar dan diumbar pun meng­ancam entitas kita sebagai bangsa. Itu semua terjadi karena bangsa ini telah kehilangan jati diri, bangsa yang memiliki akar budaya luhur. Oleh karena itu, untuk lepas dari Kalabendu, kita mesti segera eling. Kembali ke ‘khitah’ sebagai bangsa yang memiliki sekaligus menjunjung tinggi keadaban.

Semar Badranaya
Dalam cerita wayang, zaman kegelapan seperti itu juga pernah melanda Kerajaan Amarta pada suatu waktu. Saking peliknya, Prabu Puntadewa, pemimpin negeri itu, seperti kehilangan akal dan naluri mencari solusi. Kala itu, Amarta sedang dilanda paceklik dan pagebluk multidimensi. Di tengah sulitnya memenuhi kebutuhan pokok, rakyat justru tidak akur, saling menghujat dan mendamprat. Pada bagian lain, para elite dan pemimpin melenggang dengan nafsu serakah sendiri-sendiri, berebut kekuasaan dan memperkaya diri dengan cara-cara rekayasa. Negara limbung dan terancam terguling ke jurang kehancuran.

Dilandasi rasa panalangsa (keprihatin­an) yang begitu mendalam, Puntadewa memohon pertolongan kepada Sanghyang Manon. Siang-malam ia berada di sanggar pamujan, bermunajat mengiba petunjuk dari Sang Maha Adil demi pulihnya Amarta. Negara yang diberkahi tata titi tentrem, kerta lan raharja, kalis dari bebendu (laknat). Berkat kegenturannya bersemedi, Puntadewa mendapat bisikan gaib bahwa yang bisa memberikan nasihat untuk mengembalikan keharuman Amarta ialah dewa mengejawantah yang bertempat tinggal di Dusun Karangtuma­ritis. Titah yang dimaksud tiada lain ialah pamong Pandawa sendiri, yakni Semar Badranaya.

Turun dari sanggar, Puntadewa bergegas me­ngumpulkan adik-adiknya Werkudara, Arjuna, Nakula, dan Sadewa membicarakan berita wingit dari langit yang baru saja ia terima. Di ruang tengah istana mereka wawan sabda (berdiskusi). Semua merasa yakin bahwa yang didengar sulung Pandawa itu merupakan anugerah dari dewa. Puntadewa lalu memanggil Gathotkaca. Sang senapati ini diutus datang bertamu ke Karangtumaritis menemui Semar. Pesan yang diemban, sang pamong diharapkan untuk segera menghadap sang raja. Dengan kemampuannya terbang, Gathotkaca dapat cepat sampai ke tempat tujuan, rumah Semar yang sederhana. Saat itu ketiga anak Semar, yakni Gareng, Petruk, dan Bagong, kebetulan sedang berkumpul di rumah tersebut. Saat itu Panakawan sedang sarasehan. Melihat ada tamu pejabat negara datang, mereka berbegas menyambutnya dengan ramah.

Setelah sejenak berbasa-basi, Gathotkaca lalu menyampaikan maksud kedatangannya. Ia menyatakan dirinya diutus Prabu Puntadewa untuk menyampaikan pesan bahwa Semar diminta segera merapat ke Amarta. Semar tanggap apa yang dikehendaki sang raja dan segera menghadap. Setelah Gathotkaca pamit dan kembali ke Amarta, Semar bersiap menyusul. Tidak ketinggalan, ketiga anaknya pun ikut pula. Ini memang komitmen dan kewajiban mereka sebagai abdi untuk membantu sesuai dengan kapasitasnya ketika momong­annya sedang kesusahan.

Jimat Kalimasada
Di tempat terpisah dalam waktu yang hampir bersamaan, seluruh keluarga Pandawa beserta sentana dalem dan nayaka praja berkumpul di sitinggil Amarta. Hadir pula dalam pertemuan tersebut botoh Pandawa, Prabu Kresna. Mereka tengah membicarakan cara dan langkah memulihkan situasi dan konsisi bangsa yang kacau. Ketika rapat baru berlangsung beberapa saat, tiba-tiba datanglah Semar. Ia tampak terburu-buru dan terengah-engah. Gareng, Petruk, dan Bagong tidak ikut masuk ke istana. Mereka berada di luar, melepas lelah di bawah pohon beringin yang teduh di pinggir alun-alun. Semar lalu duduk bersila di depan sang raja. Setelah napasnya normal dan keri­ngat mengering, ia kemudian menghaturkan sembah. Tidak lupa, Semar menyampaikan salam kepada semua yang hadir dalam pertemuan tersebut. Lalu, ia memohon dawuh (perintah) tentang apa yang mesti dilakukan demi pulihnya negara.

Puntadewa tersenyum, yang kemudian diikuti ucapan terima kasih atas keha­diran Semar yang cepat menghadap. Ini menandakan betapa setia dan cintanya kepada momongannya. Kemudian, sang raja memberitahukan wangsit yang ia terima terkait dengan upaya memperbaiki kondisi Amarta bahwa Semar-lah yang bisa mengu­dari persoalan. Semar mesem sambil manggut-manggut mendengar cerita sang raja. Setelah memohon izin, Semar menungkapkan bahwa sesungguhnya dirinya sudah lama merasakan keprihatinan tentang rusaknya bangsa. Sesaat kemudian, terjadi keajaiban. Semar yang semula abdi yang serbaprasaja, lalu seperti ‘bertiwikrama’. Jiwanya memancarkan aura aslinya sebagai Sanghyang Ismaya. Suasana pertemuan pun menjadi jenjem (hening) karena tersapu oleh wibawa Sanghyang Ismaya.

Semar sejati lalu memberikan wejangan yang merasuk hingga sumsum tulang bagi siapa saja yang mendengarnya. Pada momen ini, semar tidak lagi bicara dengan bahasa krama inggil sebagaimana rakyat bicara dengan rajanya. Ucapannya pun bak fatwa bertuah. Semar bersabda bahwa Amarta yang tidak tata itu karena telah kehilangan jimat Kalimasada. Yang ia maksud ialah semua pemimpin dan rakyatnya telah kehilangan jati diri sebagai kesatria. Untuk memulihkannya, semua bangsa Amarta, mulai rakyat hingga para pemimpin dan elitenya, harus menemukan Kalimasada.

Kembali ke jati diri
Hikmah dari kisah singkat itu ialah rusaknya Negara Amarta disebabkan kehilangaan pusakanya, Kalimasada. Maknanya, pemimpin hingga rakyatnya telah meninggalkan watak kesatria. Untuk memulihkannya, Amarta harus menemukan jimatnya, kembali ke jati dirinya. Dikontekskan dengan negeri ini, bangsa ini juga sedang kehilangan ‘pusakanya’, Pancasila. Akibatnya ialah terancamnya keutuhan bangsa. Jadi, bangsa ini mesti segera siuman dan kembali ke jati diri sebagai bangsa yang berideologi Pancasila. Pancasila sebagai dasar negara harus diamalkan sehari-hari dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bila itu yang diejawantahkan, bangsa ini tidak hanya terlepas dari belenggu Kalabendu, tapi juga akan menyongsong datangnya Kalasuba atau zaman keemasan. (M-4)

Komentar