Film

Pantang Menyerah Gapai Impian

Ahad, 15 January 2017 00:30 WIB Penulis: (Her/M-4)

DOK. QUAD PRODUCTIONS

DI 1880-an, Felicie (diisi suaranya oleh Elle Fanning), tumbuh dengan naluri yang meletup-letup untuk menari. Suatu hari, gadis yatim piatu itu memutuskan kabur dari panti tempatnya tumbuh di pinggiran Britania menuju Paris, demi mengejar mimpinya menjadi penari. Upaya pelarian diri bersama Victor (Dane DeHaan) sahabatnya yang seorang penemu muda, mengantarkan Fe­licie ke sekolah tari balet. Gadis yang terkesima dengan tari balet itu menemukan jalan untuk mendapatkan pendidikan menari di sana. Namun, dia harus merahasiakan identitasnya selama menjalani audisi untuk mendapatkan peran yang akan ditampilkan di Paris Opera Ballet.

Tanpa pengalaman menari formal, apalagi balet, audisi itu tentu saja tidak mudah baginya. Apalagi, Merante (Terrence Scammell) koreografer di sekolah itu, terbilang dingin. Dia mengeliminasi penari terburuk di setiap sesi latihannya. Mau tidak mau, Felicie harus berkembang cepat, bila dia mau bertahan di kelas tersebut. Secara tidak terduga, dia akhirnya mendapatkan pengajaran balet tambahan dari seorang petugas kebersihan sekolah bernama Odette. Odette pula yang menampungnya selama di Paris, dalam pelarian dari panti. Melihat Odette yang pincang, Felicie tak mengira perempuan itu dulunya seorang balerina tersohor.

Itulah kisah yang diangkat dalam film animasi Ballerina yang sudah mulai tayang di bioskop Tanah Air. Film asal Prancis-Kanada itu menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utamanya. Film ini diproduksi Quad Productions bersama Caramel Film dan Main Journey. Selain sebagai film animasi keluarga, Ballerina tergolong musikal yang amat bisa dinikmati. Tampil­an grafisnya amat memukau, jalan cerita yang ringan tetapi menyentuh, dan dialog-dialognya pun kaya dengan selera humor yang baik.

Jalur berliku Felicie dalam mengejar cita-cita­nya menjadi pengingat yang menyentak tak hanya bagi anak-anak, tetapi juga orang dewasa. Sering kali manusia mudah cepat puas dengan pencapaiannya dan tanpa sadar, di saat itulah kita telah melemahkan diri sendiri dan membiarkan diri terpuruk. Kesuksesan bukanlah hasil instan, sementara keberhasilan lebih sulit dipertahankan ketimbang diraihnya. (Her/M-4)

Komentar