Jendela Buku

Kehormatan Harus Dijunjung Tinggi

Sabtu, 14 January 2017 10:05 WIB Penulis:

DERAP kaki gajah istana yang manis disaksikan dengan sukacita jejeran rakyat Kerajaan Pancala. Pada punggungnya terdapat tandu bertirai dengan empat tiang berlapis emas murni dari Magada dan ber­tabur intan permata dari tambang-tambang Ekacakra.

Begitu istimewa dan indah tandu tersebut, selaras dengan penghuni­nya yang kecantikannya gemilang, Dewi Drupadi. Gajah-gajah tersebut akan mengantarkan Drupadi menuju alun-alun Kerajaan Pancala untuk menghadiri upacara kebesaran, sayembara mencari calon suami.

Drupadi gelisah, ia tidak tahu siapakah di antara kesatria yang mengikuti sayembara bisa dicintainya? Arjuna dan Kresna, sempat terucap dalam pikirannya, tapi kemudian ditepisnya karena Arjuna telah tiada, terbakar dalam peristiwa Bale Sigala-gala, sementara Kresna hanya akan hadir pada mimpinya. Tersadar dari pikirannya di alam mimpi bersama Kresna, Drupadi menyadari tak ada seorang kesatria yang mampu membentangkan busur, apalagi melepaskan anak panah pada sasaran burung yang bertengger di atas kepala sang penari. Ia bernapas lega karena sebagian dari mereka telah gagal.

Drupadi, yang tercipta dari sekuntum bunga teratai saat sedang merekah bergumam dalam pikirannya, kalau saja seorang perempuan bisa memilih suami­nya sendiri. Ia pun menimbang pera­sa­annya, betapa lebih tenang menjadi bunga teratai yang mekar di tengah kolam, daripada menjadi manusia, nasibnya tak pernah terduga.

Pandawa untuk Drupadi
Di tengah sorak sorai rakyat yang mengolok raja muda Kerajaan Hastina, Duryudhana, karena ikut gagal merentangkan tali busur meskipun rapalan mantra sudah di­ucapkannya berulang-ulang. Datang seorang lelaki berbusana seperti pendeta pengembara, sosoknya masih muda dan menunjukkan keningratan istana. Drupadi pun mempersilakan pemuda tersebut untuk mengikuti sayembara dan dengan cepat anak panah melesat mengenai burung serta mengantarkan ke pangkuan Prabu Drupada, ayah Drupadi. Pemuda yang mampu memenangi sayembara tersebut tak lain Arjuna, salah satu dari Pandawa.

Dalam sebuah gubuk, Drupadi bersama dengan para Pandawa dan Dewi Kunti bertegang dalam sebuah pembahasan siapa di antara Pandawa yang akan menikahi Drupadi. Meski Arjuna yang telah memenangi sayembara, ia enggan melangkahi sang kakak, Yudhistira, untuk menikah. Ia pun meminta Yudhistira untuk mempersunting Drupadi. Percakapan tersebut terus berputar. Yudhistira menyerahkan kepada Bima dan berlanjut kepada Nakula Sadewa. Dewi Kunti pun segera menenangkan dan meminta kelimanya untuk menikahi Drupadi. Permintaan tersebut diterima baik oleh Drupadi maupun Pandawa.

Rupanya kehidupan Drupadi tak langsung berubah menjadi lebih baik. Drupadi berpikir apakah memang penderitaan ditakdirkan untuk dirinya kala Yudhistira gagal berjudi dengan Sengkuni hingga kehilangan semua harta dan takhta, serta Drupadi yang dilecehkan Kurawa.

Keadaan tersebut membuat Drupadi dan Pandawa meninggalkan Indraprastha dan melakukan penyamaran selama 12 tahun untuk bisa kembali merebut Indraprastha. Drupadi tak menyukai suratan.

Ia ingin hidup harus diperjuangkan, pun saat kelima suaminya tak mau bertempur dan menggugurkan para Kurawa.

Seno Gumira Ajidarma (SGA) memainkan perasaan dengan tulisan yang apik dan diksi yang lugas dalam novel Drupadi. Kosakata dalam bahasa Sanskerta serta syair singkat sebagai pembuka dan penutup bab membuat pembaca benar-benar diajak ke kehidupan Pandawa dan Kurawa.

Perjuangan seorang perempuan dalam pemikirannya juga ikut dituliskan. Bagaimana keinginan untuk mampu ikut berbicara dan tak mau tinggal diam meskipun sebagai perempuan sudah ada sejak masa Drupadi.

Sebagai penutup, SGA menggambarkan arti kehidupan yang bukan hanya berupa persoalan untuk menjadi baik dan buruk, melainkan bersikap pada keburukan dan kebaikan. (Siti Retno Wulandari/M-2)

Komentar