Jendela Buku

Memahami Nias dari Penjelajah Era Pemenggal Kepala

Sabtu, 14 January 2017 10:05 WIB Penulis: Bintang Krisanti

SUASANA musim semi yang romantis di Italia itu ditinggalkannya. Sebagai ganti, antropolog muda berjenggot lebat itu menjejak kaki di sebuah pulau di Samudra Hindia yang sekaligus rumah suku pemburu kepala. Misinya hanya satu, mengumpulkan spesimen fauna eksotis.

Meski hanya berkawan empat pemburu asal Jawa, sang antropolog mampu melakukan hal yang bahkan tidak mampu dilakukan prajurit-prajurit kolonial. Ia selamat tanpa cacat, tinggal di rumah raja dan menyelesaikan misinya dengan sukses.

Kisah mirip petualangan Indiana Jones itu ialah penjelajahan nyata Elio Modigliani pada April-September 1886 di Nias. Modigliani telah memublikasikan cerita perjalanannya pada 1890. Sejak itu pula dunia Eropa, khususnya Italia mengenal orang Nias dan berbagai sisi kehidupannya.

Namun, bagi pembaca Indonesia, kisah itu baru bisa disimak tahun lalu lewat buku Tanah para Pendekar. Vanni Puccioni, sang pengarang buku itu, menerjemahkan kisah penjelajahan Modigliani sekaligus tapak tilas yang ia lakukan mengikuti jejak sang peneliti di Nias pada 2010.

Ide penulisan buku itu sendiri berawal dari penugasan Puccioni di program rekonstruksi di Nias pascagempa yang terjadi pada 2004. Selama bekerja tiga tahun di Nias, Puccioni yang merupakan pemimpin program PBB dan Uni Eropa untuk bangunan tahan gempa bertemu dengan Pastor Johannes di wilayah Gunung Sitoli, Nias.

Pastor Johanes mengungkapkan memiliki sebuah buku yang ditulis rekan senegara Puccioni. Meski tidak bisa berbahasa Italia, pastor yakin bahwa isi buku itu sangatlah menarik. Buku itulah karya Modigliani yang berjudul Viaggo A Nias atau Perjalanan ke Nias.

Pastor Johanes tidak salah. Puccioni menemukan buku tersebut bukan hanya men­deskripsikan detil kehidupan masyarakat Nias pada abad ke-19, melainkan bisa mengungkap cara berpikir masyarakat Nias. Belum dipahaminya karakter masyarakat Nias kerap menjadi kendala introduksi budaya luar hingga di era modern ini, termasuk dalam program bantuan internasional.

Bagi Puccioni pribadi, buku itu pun menyingkap satu persinggungan takdir antara dirinya dan Modigliani. Modigliani memiliki 26 tengkorak manusia yang diam-diam dibawa dari Nias untuk museum antropologi dan etnologi di Florence.

Hal ini seperti menjawab tentang tengkorak manusia yang digambarkan dipegang kakek Puccioni dalam sebuah lukisan. Puccioni yakin kakeknya yang merupakan kepala museum etnografi di Florence, mendapat tengkorak itu dari Modigliani.

Langkah Puccioni menerjemahkan buku Modigliani didukung anak satu-satunya sang peneliti Mohua, yang dalam bahasa Nias berarti harum, memberi akses foto-foto dan peta yang asli kepada Puccioni.

Konteks kekinian
Dalam bukunya, Puccioni tidak sekadar me­nerjemahkan tulisan Modigliani maupun memuji kecakap­an multibidang (antropologi, zoologi, kedokteran, bahasa, persenjataan, teknik mesin, hingga teknik per­kayuan) saudara sebangsanya itu. Ia juga memberikan konteks sehingga pembaca mengetahui kondisi masyarakat Nias maupun konstelasi dunia di pertengahan abad ke-19 itu.

Lewat konteks ini kita bisa memahami mengapa pulau dengan risiko gempa bumi dan tsunami paling besar di dunia itu masuk kancah perebutan kekuasaan bangsa-bangsa Eropa. Di sisi lain, konteks itu juga membuka mata mengapa budaya primitif perburuan kepala manusia merupakan konsekuensi logis dari berbagai tekanan yang terjadi pada masyarakat Nias kala itu.

Predikat Nias sebagai pulau para pemburu kepala sudah tertera di peta navigasi bangsa Arab sejak 100 SM. Namun, kecantikan gadis-gadis Niaslah yang membuat pulau itu jadi target bajak laut dan tentara kolonial yang kemudian menjual mereka ke pasar budak.

Puccioni juga cukup terperinci menuliskan perang demi perang yang dijalankan Belanda untuk menaklukkan Nias. Namun, berkali-kali pula angkatan laut Belanda mesti berlayar balik karena tidak sanggup menghadapi prajurit pemburu kepala dari desa-desa Nias.

Dalam kondisi antikolonial dan perang antardesa itulah Modigliani mendarat di Nias. Puccioni menuturkan penjelajahan Modigliani di berbagai sisi kehidupan orang Nias dengan cara memperbandingkan dengan peradaban yang sudah maju saat itu maupun dengan kondisi Nias saat ini.

Pengalaman bekerja di Nias dan tapak tilas perjalanan Modigliani pada 2010 membuat Puccioni memiliki pemahaman yang cukup baik tentang Nias dan masyarakatnya.
Misalnya, Puccioni sepakat dengan pendapat Modigliani bahwa di balik budaya primitif dan barbar, sesungguhnya masyarakat Nias adalah bangsa yang demokratis dan bebas dari tingkat­an sosial. Bahkan pada akhir penjelajahannya Modigliani mengatakan bahwa orang Nias adalah orang-orang yang baik hati dan terhormat.

Lewat bukunya, Puccioni juga menyimpulkan alasan teknologi tidak berkembang di Nias. Ia menghubungkan tidak dikenalnya alat transportasi dan keterisolasian dengan ketakutan masyarakat Nias pada laut.

Di akhir bukunya, Puccioni juga memberi jawaban akan pertanyaan besar selama ini. Yakni mengapa Modigliani mampu selamat sementara para tentara kolonial dan pembajak kocar-kacir? Padahal Modigliani pernah melanggar adat yang dianggap tabu dan juga dikepung para pemburu kepala.

Perpaduan berbagai elemen inilah, mulai pe­tualangan mendebarkan, deskripsi mendalam seorang antropolog, hingga paduan pemahaman era kekinian dari Puccioni yang membuat buku ini begitu lengkap. Ini adalah buku sejarah, antropologi, sekaligus kisah penjelajahan yang memikat.

Maka Puccioni sesungguhnya bukan saja telah menyempurnakan persinggungan takdirnya dengan Modigliani. Puccioni telah menyumbang sangat berarti untuk literasi tentang budaya Nias masa lampau yang hingga saat ini memang sangat minim, baik di Indonesia maupun dunia. (M-2)

Komentar