Humaniora

Menhub Kutuk Kekerasan di STIP

Kamis, 12 January 2017 06:24 WIB Penulis: Puput Mutiara

Grafis/MI

MENTERI Perhubungan Budi Karya Sumadi mengutuk keke­rasan yang menewaskan Ami­rullah Adityas Putra, 18, di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta, Kecamatan Cilincing, Marunda, Jakarta Utara. Amir tewas dianiaya seniornya di Mes STIP, Selasa (10/1) malam.

“Kami menyampaikan penyesalan dan mengutuk kejadian ini. Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Perhubung­an juga telah membentuk tim investigasi untuk mengusut kematian Amir,” kata Budi saat menyambangi rumah duka di Warakas 3, Tanjung Priok, Jakarta Utara, kemarin.

Budi juga sudah menonaktifkan Kepala STIP Capt Weku F Karuntu. “Kita akan menerapkan suatu pola yang lebih ketat dan kita minta kepala sekolah dan guru lebih intens dan memberikan jaminan agar yang melakukan kekerasan diberhentikan,” ujarnya.

Pakar pendidikan Arief Rach­man meminta pemerintah memberi sanksi tegas terhadap STIP. “Bisa saja akreditasi perguruan tinggi tersebut diturunkan, rektor atau wakil rektor bidang kemahasiswaannya dicopot,” cetusnya.

Namun, menurut anggota Komisi X DPR RI Dadang Rusdiana, STIP dinilai belum perlu dibubarkan. Hanya saja pe­ngelolaannya seharusnya ditarik ke Dikti sehingga lebih mudah diawasi dan bisa menurunkan perpeloncoan antara senior dan junior.

“Kalau dibubarkan, saya kira belum karena masih butuh untuk pendidikan kemaritiman. Ubah saja cara penyelenggaraannya,” kata politikus Partai Hanura itu.

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) M Nasir mengatakan tindak ke­kerasan yang terjadi di perguruan tinggi non-Kemenristek Dikti atau yang berada di bawah koordinasi kementerian/lembaga menjadi tanggung jawab setiap kementerian/lembaga.

“Kemenristek Dikti hanya mengatur masalah kurikulum, proses akreditasi, dan pembinaan akademik, sementara kontrol terhadap perguruan tinggi tersebut tetap dipegang oleh kementerian/lembaga terkait atau pada kasus ini Kementerian Perhubungan RI,” ujar M Nasir.

Para terduga pelaku, yaitu Sisko Mataheru, 19, Willy Hasiholan, 20, Iswanto, 21, Akbar Ramadhan, 19, dan Jariko bin Safi, 19, meng­aniaya Amir bersama lima ta­runa tingkat satu lainnya seusai latihan drum band.

“Itu seperti budaya serah terima alat drum band ke para junior. Harusnya tidak pakai kekerasan, itu yang kami se­salkan,” kata Kapolres Jakarta Utara Kombes M Awal Chairuddin.

Aksi kekerasan berlangsung di sebuah ruang berukuran 10 x 4 meter di Gedung Dormitory 4 kamar DM-205 lantai 2. Korban tidak sadarkan diri seusai dada, perut, dan ulu ha­tinya dipukul para tersangka.

Amir sempat dibawa ke tim medis kemarin dini hari. Namun, nyawanya tidak tertolong.

Petugas medis dan beberapa saksi melaporkan kejadian itu ke Polsek Cilincing, Jakarta Utara. Selanjutnya polisi membawa jasad Amir ke RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, guna menjalani autopsi.

Kejadian penganiayaan itu bukan kali pertama terjadi. Dimas Dikita Handoko, mahasiswa tingkat 1 STIP Marunda, juga tewas dipukuli seniornya pada April 2014. Tiga ta­runa tingkat empat ditetapkan sebagai tersangka. (Mal/Mtvn/Ant/X-11)

Komentar