Polkam dan HAM

Pengamat: Neonasionalisme Sempit Ancam Kebinekaan

Rabu, 11 January 2017 23:49 WIB Penulis: Christian Dior Simbolon

MI/Galih Pradipta

SITUASI kebangsaan di Tanah Air saat ini tengah ditandai munculnya gerakan-gerakan neonasionalisme berwawasan sempit. Menurut pengamat politik CSIS J Kristiadi, gerakan-gerakan itu mulai 'mendapat angin' karena lemahnya lembaga-lembaga pengusung demokrasi dan lunturnya kepercayaan terhadap partai politik.

"Mereka menggunakan adonan agama, suku, sejarah, dan mitos untuk menggerakan massa. Massa diorganisir sedemikian rupa berdasarkan aspek-aspek nasionalisme yang sempit dan eksklusif," ujar Kristiadi dalam acara Haul Gus Dur ke-7 bertajuk 'Gus Dur sebagai Aktivis' di Kantor MMD Iniative, Jakarta, Rabu (11/1) malam.

Dijelaskan Kristiadi, munculnya gerakan neonasionalisme sempit ini menjadi pertanda kalahnya nilai-nilai kemanusiaan, persaudaraan, dan kebinekaan yang digaungkan Gus Dur.

"Akhirnya yang muncul adalah orang-orang populis. Yang menyebut dirinya anti-elite, anti-establishment, dan wakil rakyat sejati. Meskipun kenyataannya tidak selalu sesuai," ujarnya.

Keberadaan neonasionalisme tersebut, menurut dia, tidak hanya mengancam demokrasi tapi juga bisa menjadi penyebab disintegrasi dan maraknya radikalisme dan intoleransi.

"Karena itu, negara perlu memperkuat peran lembaga-lembaga pengusung ide demokrasi dan partai politik harus mampu mengembalikan kepercayaan rakyat terhadap sistem politik. Hingga kini belum ada jawaban untuk mengatur sebuah negara dengan baik selain demokrasi," ujarnya.

Diakui Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Indonesia berpeluang mengalami disintegrasi jika tidak mampu merawat keberagaman dengan baik. Apalagi, saat ini publik mudah sekali terbakar emosinya dan digerakkan lewat rumor-rumor yang tidak jelas di media sosial.

Menurut Luhut, Indonesia saat ini membutuhkan sosok guyon seperti Gus Dur mampu mencari jalan keluar damai di tengah berbagai ancaman perpecahan karena meningkatnya polarisasi antara masyarakat.

"Gus Dur selalu mengatakan Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan tapi persahabatan yang melewati batas-batas perbedaan," ujarnya.

Intelektual muda Nahdlatul Ulama (NU) Ulil Abshar Abdalla mengatakan, masyarakat Indonesia saat ini hidup di era overdosis agama.

"Artinya nilai-nilai agama kerap disangkutpautkan dengan segala urusan yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan agama. Jadi mudah terbakar," ujarnya.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD mengatakan, acara Haul Gus Dur sangat relevan digelar saat ini. Ide dan nilai-nilai perjuangan Gus Dur sebagai aktivis perekat keberagaman menjadi penting kala situasi kebangsaan sangat rentan dengan konflik yang bisa memecah belah bangsa.

"Kita melihat Gus Dur lebih dari separuh hidupnya dikorbankan demi menjaga keutuhan negara yang inklusif. Kebersatuan dalam keberagaman. Itu yang dibutuhkan sekarang," ujarnya. (OL-3)

Komentar