Internasional

Jangan Banyak Bicara di Pakistan

Kamis, 12 January 2017 06:10 WIB Penulis:

AFP/ABDUL MAJEED

RATUSAN orang memenuhi kota-kota besar di seluruh Pakistan pada Selasa (10/1).

Mereka tidak menuntut presiden mundur seperti di Korea Selatan (Korsel) atau di Venezuela.

Mereka menuntut kebebasan bersuara dan berpendapat untuk kembali ditegakkan di negeri tersebut.

Terutama setelah empat bloger sayap kiri dinyatakan hilang antara 4-7 Januari lalu.

Keempat bloger itu ialah Salman Haider yang merupakan seorang penyair dan akademisi, lalu Waqas Goraya, Aasim Saeed, dan Ahmad Raza Naseer yang merupakan bloger penggiat hak asasi manusia (HAM) dan kebebasan beragama di Pakistan.

Haider terakhir terlihat di Islamabad pada Jumat (6/1), dua hari setelah bloger Goraya dan sepupunya, Saeed, menghilang di Lahore.

Sementara Naseer, menghilang dari tokonya di Skeikhupura di dekat Lahore pada Sabtu (7/1).

Menghilangnya keempat orang ini telah meningkatkan kekhawatiran atas kebebasan berbicara yang semakin terancam di sana.

Bahkan Human Rights Watch (HRW) mengatakan insiden ini telah menimbulkan kekhawatiran akan keterlibatan pemerintah.

Senator oposisi, Afrasiab Khattak mengatakan media di Pakistan--termasuk media cetak dan elektronik--telah mendapat tekanan dan orang-orang pun dipaksa untuk melakukan sensor diri sendiri.

"Namun untuk media sosial, ini merupakan yang pertama kalinya, serangan pertama. Kami tidak akan membiarkan kebebasan berekspresi di media sosial juga dibatasi," ujar Khattak.

Partai Rakyat Pakistan, yang merupakan oposisi, juga mengeluarkan pemberitahuan di parlemen yang mengatakan, "Pola penghilangan ini menunjukkan sebuah tindakan yang terkoordinasi, dilakukan untuk membungkam suara-suara kritis terhadap isu sosial politik."

"Jika memang para bloger tersebut telah melakukan kejahatan atau melanggar hukum, pemerintah seharusnya mengajukan tuntutan sehingga diketahui apa yang telah mereka lakukan," ujar seorang aktivis feminis, Farzana Bari.

Kementerian Dalam Negeri Pakistan sendiri pada akhir pekan lalu telah mengatakan akan menyelidiki hilangnya Haider, namun tidak menyinggung nasib tiga orang lainnya.

Sebuah surat kabar berbahas Inggris di Pakistan, Dawn, mengeluarkan editorial dengan kata-kata keras yang mengutuk insiden hilangnya para aktivis tersebut.

"Bahasa halus, 'orang hilang', 'menghilang', dan lainnya tidak dapat menyembunyikan fakta buruk bahwa Pakistan terus diduga terlibat dalam penghilangan dan penahanan ilegal warga negara," tulis Dawn.

Pakistan memiliki sejarah panjang penculikan dalam beberapa dekade terakhir.

Namun, penculikan itu kebanyakan terjadi di zona konflik di dekat perbatasan dengan Afghanistan atau di Provinsi Balochistan, tempat kelompok separatis mengangkat senjata.

Secara rutin, Pakistan juga masuk peringkat negara-negara paling berbahaya bagi wartawan di dunia. (AFP/BBC/Ihs/I-1)

Komentar