Polkam dan HAM

Elektabilitas Jokowi Masih Ungguli Prabowo

Rabu, 11 January 2017 22:24 WIB Penulis: Cahya Mulyana

ANTARA

PENGUSUNGAN Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sejak dini dinilai sebagaian kalangan merupakan langkah cerdas menyongsong Pemilihan Umum serentak pada 2019 mendatang. Namun, secara elektabilitas, Presiden Joko Widodo masih berada di atas Prabowo.

"Saya kira itu (pengusungan Prabowo sejak dini) hal yang wajar saja. Bukankah Golkar juga sudah mengumumkan akan mencalonkan Jokowi sejak tahun lalu. Dia adalah orang nomor dua terpopuler setelah Jokowi, meskipun kalau diadu sekarang, Jokowi kemungkinan menang," terang Direktur Eksekutif Saiful Mujani Reseach and Consulting, Djayadi Hanan, saat dihubungi Media Indonesia di Jakarta, Rabu (11/1).

Menurutnya, Prabowo layaknya Jokowi sebagai tokoh yang masih sangat populer. Pasalnya, ketokohan Prabowo masih cukup banyak pendukungnya warisan Pemilu 2014.

Langkah politik Gerindra tersebut menuai beberapa dampak. Menurutnya, dukungan potensi kepada Prabowo lebih besar daripada dukungan kepada Gerindra sebagai partai, seperti ditunjukkan dalam Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) lalu.

Karena pilpres 2019 dilaksanakan serentak dengan pileg, kemungkinan partai yang mengusung tokoh populer sebagai capres kemungkinan akan memperoleh dukungan yang cukup besar pula.

"Ini yang disebut sebagai coat-tail effect. Jadi pencalonan Prabowo sebagai presiden adalah juga bagian dari strategi Gerindra membesarkan potensi elektabilitasnya," ujarnya.

Djayadi menuturkan dampak yang lain adalah memelihara potensi pemilih Prabowo yang sudah ada sejak Pilpres lalu. Sejumlah pemilih Prabowo yang loyal akan terjaga, terutama yang memang tidak mau pindah ke Jokowi sekalipun Jokowi dianggap berprestasi.

Dampak lainnya, kata dia, rivalitas antara Prabowo dan Jokowi akan mulai menguat.
"Negatifnya, rivalitas Prabowo dan Jokowi dapat makin menonjol. Tidak mudah mencari momen seperti ketika mereka berkuda bersama, makan siang bareng, saling mengunjungi, dan lainnya," jelasnya.

Namun demikian, lanjut dosen Ilmu Politik Universitas Paramadina itu, peluang di 2019 masih belum kuat. Itu karena Jokowi akan tetap mengunggulinya ketika masyarakat menilai kinerjanya bagus.

"Soal peluang menang masih terlalu dini membicarakannya. Yang jelas kalau Jokowi dianggap masyarakat berkinerja baik, maka tidak mudah mengalahkannya di pemilu 2019," tutupnya. (OL-3)

Komentar