Nusantara

Dua Proyek Besar di Cimahi Terbengkalai

Kamis, 12 January 2017 03:40 WIB Penulis: (DG/LD/DY/PO/N-3)

Ist

DUA proyek besar di Kota Cimahi, Jawa Barat, tidak berjalan seperti yang diharapkan. Pembangunan flyover Padasuka dan pembangunan tahap I Pasar Atas Baru telah menelan anggaran puluhan miliar rupiah terpaksa dihentikan sementara. Ketua Komisi III DPRD Kota Cimahi, Purwanto, mengatakan ada yang tidak beres pada proyek yang dijalankan Pemkot Cimahi tersebut. Pembangunan flyover Padasuka menelan anggaran Rp17 miliar dan pembangunan tahap I Pasar Atas Baru senilai Rp43 miliar. “Kami menilai Pemkot Cimahi asal-asalan dalam melaksanakan sejumlah pembangunan yang bernilai puluhan miliar rupiah,” ujar Purwanto, Rabu (11/1).

Pada kedua proyek tersebut se­harusnya sudah rampung pada Desember 2016. Namun, faktanya pembangunan Pasar Atas Baru hingga saat ini baru mencapai 30% dan flyover Padasuka 76%. Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Cimahi, Achmad Nuryana, buka suara soal proyek tersebut. Ia menjelaskan kendala utama molornya pembangunan flyover ini ada di pihak ketiga. Saat itu pihak ketiga meminta perpanjangan waktu pengerjaan sampai 30 Desember 2016. Padahal, seharusnya pembangunan flyover selesai pada 23 Desember 2016.

“Kami berikan perpanjangan, tapi dari Kementerian Perhubungan meminta semua pembangunan di atas rel kereta api dihentikan sementara,” ujarnya. Alasannya 23 Desember 2016 sampai 8 Januari 2017 itu arus lalu lintas kereta sedang padat untuk liburan Natal dan tahun baru. Dari Jawa Tengah, Pemkab Cilacap tidak mungkin merampungkan perbaikan jalan hanya dalam waktu setahun. Pasalnya, untuk memperbaiki jalan yang rusak membutuhkan biaya hingga Rp500 miliar. Saat ini ada 229 km jalan yang rusak, sedangkan 214 km mengalami rusak ringan.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, A Ristiyanto, mengatakan pengerjaan jalan harus bertahap. Pada bagian lain, proyek pembangunan bendungan di sejumlah daerah terus dikebut. Seperti di Kalimantan Selatan, pembangunan bendungan Tapin di Desa Pipitak Jaya, Kabupaten Tapin, ditargetkan selesai 2019. “Saat ini progres fisik ben­dungan sudah 40%,” kata Bupati Tapin, Arifin Arpan.

Dari 600 hektare yang akan dijadikan bendungan, Pemkab Tapin baru bisa membebaskan 200 hektare. Pembangunan Bendungan Raknamo di Desa Raknamo, Kecamatan Amabi Oefeto, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, hingga Selasa (11/1) sudah mencapai 84,73%. (DG/LD/DY/PO/N-3)

Komentar