Internasional

AS Tetapkan JAD sebagai Kelompok Teroris

Rabu, 11 January 2017 19:35 WIB Penulis: Haufan Hasyim Salengke

Ilustrasi

PEMERINTAH Amerika Serikat (AS) melalui Departemen Luar Negeri dan Departemen Keuangannya telah menetapkan sebuah jaringan radikal Indonesia yang berada di balik serangan mematikan di Jakarta sebagai organisasi teroris.

Dalam sebuah pengumuman, Selasa (10/1) waktu setempat, Departemen Luar Negeri AS juga mengumumkan sanksi untuk empat militan karena mengganggu operasi terhadap kelompok radikal Islamic State (IS) dan melakukan perekrutan di Australia dan Asia Tenggara.

Sanksi yang ditetapkan terhadap empat militan, dua warga negara Indonesia dan dua warga Australia, juga sebagai bagian dari upaya untuk memutus akses IS ke sistem keuangan internasional.

Pengumuman itu datang setelah polisi di Australia dan Indonesia menggagalkan sejumlah serangan terinspirasi IS yang direncanakan untuk musim liburan di dua negara ini.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan pihaknya telah menetapkan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang berafiliasi ke IS sebagai kelompok teroris.

Pada praktiknya, sanksi yang ditetapkan itu termasuk pelarangan bagi warga AS terlibat dalam kelompok itu, melakukan bisnis dengan mereka, dan memungkinkan pembekuan properti di AS.

“JAD adalah kelompok teroris yang berbasis di Indonesia yang dibentuk pada 2015 dan terdiri dari hampir dua lusin kelompok ekstremis Indonesia, yang merupakan pengikut IS,” kata Departemen Luar Negeri AS.

Para pejabat AS mengatakan milisi JAD melancarkan serangan penembakan dan bunuh diri di ibu kota Indonesia, Jakarta, pada Januari tahun lalu yang menewaskan empat warga sipil. Serangan pertama IS di Asia Tenggara itu menewaskan empat penyerang.

“Serangan itu didukung secara finansial oleh kelompok militan IS di Suriah,” kata pejabat AS yang tak disebut namanya.

Adapun dua WNI yang masuk daftar teroris AS adalah Bahrumsyah Aman Abdurrahman. Bahrumsyah disebut bertempur dengan IS di Suriah dan diyakini memimpin unit radikal Asia Tenggara. Di pula yang menyeru kombatan melancarkan serangan di dalam negeri dan mentransfer dana ke milisi.

Sementara Aman Abdurrahman, kata pejabat AS, adalah milisi yang dipenjara karena mengotorisasi serangan Jakarta dan dianggap pemimpin de facto semua pendukung IS di Indonesia.

Meskipun berada di penjara sejak 2010, ia telah merekrut milisi untuk bergabung dengan IS, diduga telah berkomunikasi dengan para pemimpin dari kelompok ‘jihad’, dan merupakan penerjemah utama untuk propaganda IS di Indonesia.

Selain Indonesia, Departemen Keuangan juga menjatuhkan sanksi terhadap dua warga Australia, Neil Christopher Prakash, perekrut IS paling senior di Australia, dan Khaled Sharrouf, yang muncul dalam foto memegang kepala orang yang dipenggal oleh milisi kelompok itu.

Indonesia, negara berpenduduk mayoritas Muslim yang paling padat penduduknya di dunia, telah lama berjuang menghadapi ancaman militansi Islam dan telah dilanda serangkaian serangan dalam 15 tahun terakhir, termasuk Bom Bali 2002 yang menewaskan 202 orang tewas. AFP/AP/OL-2

Komentar