Internasional

Bom Meledak di Afghanistan, Puluhan Tewas

Rabu, 11 January 2017 17:10 WIB Penulis: Irene Harty

AFP PHOTO / NOOR MOHAMMAD

BOM meledak di tiga kota di Afghanistan dan menewaskan sekitar 56 orang serta melukai 100 lainnya pada Selasa (10/1). Pemboman bertepatan dengan hari pembantaian militan Taliban yang meningkatkan kampanye kekerasan mematikan.

Setidaknya 13 orang meninggal saat bom yang disembunyikan dalam sofa kantor gubernur meledak di selatan Kota Kandahar saat kunjungan Duta Desar Uni Emirat Arab, Juma Mohammed Abdullah Al Kaabi ke Afghanistan.

Gubernur Kandahar dan Al Kaabi berhasil lolos dari peristiwa itu walau terkena luka bakar. Namun lima pejabat UEA yang membawa misi edukasi dan pengembangan kemanusiaan tercatat tewas, menurut kantor berita resmi UEA, WAM pada Rabu (11/1).

Beberapa jam sebelumnya, beberapa ledakan oleh Taliban JUGA terjadi di Kota Kabul saat para pegawai keluar dari paviliun luar parlemen. Tercatat 30 orang tewas dan 80 lainnya terluka.

Menurut Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Waheed Majroh, jumlah itu masih mungkin meningkat karena korban luka-luka masih berjuang di rumah sakit.

Dalam ledakan pertama, seorang pembom bunuh diri meledakkan dirinya di samping minibus yang mengangkut pegawai pemerintah. Lalu saat tim penyelamat mencapai tempat kejadian, sebuah bom mobil meledak.

Di antara 30 korban tewas ada empat polisi yang tewas dalam ledakan kedua ketika hendak membantu korban ledakan pertama.

Sejauh ini belum ada kelompok militan yang bertanggung jawab selain Taliban yang mengaku berada di belakang ledakan Kabul. Presiden Afghanistan Ashraf Ghani mengutuk perbuatan barbar Taliban terhadap warga sipil yang meninggalkan area dengan berlumuran darah itu.

Juru Bicara Taliban, Zabihullah Mujahid mengatakan para korban serangan itu sebagian besar agen intelijen Afghanistan. Pada Selasa (3/1), Taliban juga melakukan bom bunuh diri di ibukota Helmand, Lashkar Gah yang menewaskan tujuh orang.

"Kematian sejumlah warga sipil dalam serangan bom Kabul menunjukkan bahwa Taliban menekan maju kampanye kekerasan tanpa peduli warga sipil," isi pernyataan Amnesti Internasional.

Mereka meminta penyelidikan segera, imparsial, dan independen harus dilakukan untuk menegakkan keadilan bagi para korban dan keluarga mereka. (AFP/X-12)

Komentar