Nusantara

Satu Lagi Inovasi Daerah dari Banyuwangi

Rabu, 11 January 2017 14:02 WIB Penulis: Andhika Prasetyo

ANTARA/Ridwan

BUPATI Banyuwangi, Jawa Timur Abdullah Azwar Anas menyebutkan untuk memajukan sebuah wilayah, pemerintah daerah tidak mesti mengikuti upaya yang diterapkan daerah lain.

Ia menyebutkan inovasi setiap daerah justru haruslah berbeda-beda, tergantung pada kemampuan dan potensi yang dimiliki daerah masing-masing. "Kita tidak perlu melihat yang lain. Cukup lihat seberapa besar kemampuan kita. Itu yang diterapkan," ujar Anas dalam Seminar Nasional Inovasi Daerah yang diselenggarakan di Gedung Bappenas, Jakarta, Rabu (11/1).

Proteksi terhadap ekonomi rakyat, ujarnya, adalah satu inisiatif yang diterapkan di kota yang terletak di sebelah timur Pulau Jawa itu.

"Lima tahun lalu kami memutuskan, sebelum rata-rata income per kapita di atas Rp25 juta, tidak boleh ada toko-toko ritel atau mal-mal. Bayangkan, toko ritel itu bisa buka 24 jam, sedangkan toko kelontong paling cuma 6-10 jam. Kalau begitu, bagaimana usaha rakyat bisa berkembang?"

Ia juga menyebutkan pembangunan mal-mal di daerah-daerah tidak lebih dari sebuah simbol kemajuan yang pajaknya tidak masuk ke pemerintah daerah.

Selain itu, salah satu inisiatif lain yang juga dilakukan pemerintah Banyuwangi ialah dengan melakukan pembangunan bandara. "Saat itu, pemerintah dikritik, dianggap tidak pro rakyat. Tetapi kami tetap menajalankan program itu karena kami percaya tanpa bandara tidak akan ada investasi," paparnya.

Pada awal pengoperasian, pada tahun pertama, penumpang pesawat yang menuju Banyuwangi hanya 7 ribu orang. Saat ini, jumlahnya meningkat lebih dari 2.000% mencapai 181 ribu orang. Dampak positifnya pun kini semakin dirasakan oleh masyarakat Banyuwangi.(OL-4)

Komentar