Kesehatan

Menjauhkan si Kecil dari Pilek

Rabu, 11 January 2017 07:52 WIB Penulis: Eni Kartinah. eni@mediaindonesia.com

Thinkstock

Pilek bisa dikatakan penyakit 'langganan' anak-anak. Meski terkesan sepele, berbagai gejala yang ditimbulkannya bisa sangat mengganggu. Hidung yang tersumbat dan beringus membuat si kecil sulit tidur. Kepala yang pening membuat anak rewel dan tak enak makan. Orangtua, terutama ibu pun menjadi repot. Karena itu, menghindarkan anak dari pilek sejatinya merupakan hal penting yang perlu diupayakan secara serius oleh para orangtua. Bagiaman caranya?

Menurut dokter spesialis anak, Isabella Riandani, pilek atau yang dalam dunia medis disebut rinosinusitis dapat dipicu beberapa penyebab, antara lain infeksi kuman, paparan asap rokok, obat-obatan, perubahan lingkungan, bau-bauan, makanan, dan stres. Selain itu, zat alergen seperti tungau debu rumah, spora jamur, dan susu juga bisa menimbulkan pilek pada anak yang alergi. "Karenanya, untuk menghindarkan anak dari pilek, kita perlu mengenali dulu apakah pileknya terjadi sebagai bentuk reaksi alergi atau bukan," ujar Isabella pada diskusi bertajuk Kupas Tuntas Rinosinusitis pada Anak yang diadakan Aqua Maris, produk cairan pembersih hidung keluaran Soho Global Health, di Jakarta, Desember lalu.

Jika pilek yang terjadi merupakan reaksi alergi, orangtua perlu memastikan pemicu alergi (alergen) tersebut. langkah selanjutnya, minimalkan kontak anak dengan zat alergen tersebut. "Kalau alergennya berupa tungau debu, harus rajin-rajin membersihkan debu dari karpet, jendela, seprai, dan benda lain yang biasa jadi sarang debu. Kalau alergennya karena susu sapi, jangan beri anak susu sapi dan makanan atau minuman yang mengandung susu sapi," papar dokter yang berpraktik di RS Mitra keluarga Kelapa Gading, Jakarta itu.

Ia menambahkan, sejauh ini cara terbaik menangani alergi ialah menghindari pemicunya sebab langkah pengobatan seperti imunoterapi kadang tidak efektif. Isabella menjelaskan, pilek yang terjadi karena alergi berbeda dari pilek yang terjadi karena infeksi kuman. Pada alergi, cairan ingusnya bening dan kejadiannya berulang ketika anak terpapar zat alergen. "Jadi, orangtua harus cermat mengamati sehingga bisa ketahuan apakah si anak pilek karena alergi atau bukan."

Adapun pada kasus pilek karena infeksi, penyebabnya bisa berupa virus maupun bakteri. Kuman penyebab pilek itu ada di lingkungan sekitar kita. Karena itu, langkah terbaik untuk menghindarkan anak terinfeksi kuman-kuman tersebut ialah dengan meningkatkan daya tahan tubuhnya. "Cukupi gizinya dan kebutuhan tidurnya. Jaga kebersihan lingkungan dan kesehatan orang-orang sekitar, termasuk biasakan mencuci tangan dengan benar," pesan Isabella.

Untuk bayi, lanjutnya, berikan air susu ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan pertama dan lanjutkan hingga dua tahun. ASI kaya akan komponen daya tahan tubuh. Hanya saja, saat anak pilek, posisi menyusui sebaiknya sambil duduk atau setengah duduk, tidak berbaring.
"Hidung dan telinga terhubung oleh suatu saluran yang dinamakan saluran/tuba eustachius. Saat bayi menyusu sambil tiduran, saluran tersebut lebih terbuka sehingga berisiko mengalirnya ingus ke saluran tersebut hingga dapat memicu infeksi saluran tengah," terang Isabella.
Selain pemberian ASI, sambung Isabella, orangtua perlu melengkapi imunisasi bayi sebab anak yang divaksin lengkap memiliki daya tahan tubuh yang lebih kuat.

Terkait dengan penanganan pilek karena kuman, Isabella mengatakan pilek yang disebabkan virus umumnya akan sembuh sendiri dalam waktu 3 hari-5 hari. Jika pilek terjadi berkepanjangan, kemungkinan penyebabnya bakteri yang memerlukan pengobatan dengan antibiotik. "Harus dibawa ke dokter agar pengobatannya tepat."

Bahaya rokok
Pada kesempatan itu, Isabella juga menekankan pentingnya menghindarkan anak dari paparan asap rokok. "Asap rokok mengandung bahan-bahan berbahaya yang membuat sistem pertahanan dalam saluran pernapasan terganggu, seperti rusaknya rambut-rambut silia dalam tenggorokan yang berfungsi untuk menghalau zat-zat asing termasuk kuman." Jika sistem pertahanan dalam saluran pernapasan terganggu, lanjutnya, anak pasti mudah terserang beragam penyakit saluran pernapasan termasuk pilek. Karena itu, jika ada anggota keluarga yang perokok, sebaiknya jangan merokok dekat anak dan di dalam lingkungan rumah.

"Sebenarnya bukan hanya asap rokok yang terhirup anak yang berbahaya. Residu asap rokok yang menempel di baju ayah yang perokok, misalnya, juga berbahaya. Jadi, kalau ayah perokok pulang kerja, sebaiknya mandi dulu, ganti baju, baru pegang anak," saran Isabella. Pada kesempatan sama, Marketing Director Soho Global Health, dokter Yulita Rea, menjelaskan manfaat membersihkan rongga hidung dengan produk cairan saline untuk membantu meredakan pilek.

"Dalam tradisi pengobatan kuno Adriatik ada yang disebut thalassotherapy, membersihkan rongga hidung dengan air laut Adriatik yang terkenal sebagai laut tebersih sedunia. Terbukti, terapi itu mampu memperbaiki regenerasi membran hidung dan meningkatkan imunitasnya sehingga membantu mengatasi pilek," ujarnya. (H-1)

Komentar