Ekonomi

Wabah Drone Bikin Kehebohan saat Libur Natal

Selasa, 10 January 2017 10:01 WIB Penulis: MI

MI/Seno

WARGA Amerika Serikat (AS) tengah gandrung bermain drone. Melalui benda terbang mirip helikopter yang dikemudikan via remote control tersebut, mereka asyik merekam video dan membuat foto. Karena itu, tidak perlu heran saat Natal 2016, pesawat mini tersebut menjadi mainan yang paling laku keras, dibeli untuk hadiah Natal bagi keluarga.

Sayangnya, mereka yang diberi dan membeli drone tidak mempunyai kemampuan yang memadai untuk mengoperasikan alat terbang tersebut. Walhasil, saat libur Natal, banyak bertebaran di media sosial negeri tersebut foto benda-benda yang hancur ditabrak drone, ataupun pesawat kamera kecil mereka yang hilang.

Seperti dilansir dari situs web CNBC.com, Senin (9/1), pada Hari Natal, Twitter diramaikan dengan kicauan kehilangan drone. Faine Greenwood, peneliti teknologi penerbangan nirawak Universitas Harvard me-retweet sejumlah pesan dengan hashtag #dronecrashmas.

"Ini menjadi tema mayoritas pada Hari Natal," ujar Greenwood.

Tercatat sekitar 2,8 juta drone terjual di AS tahun lalu dengan sekitar 12 juta di antaranya laku pada musim liburan, merujuk pada survei Consumer Technology Association. Pada 13 Desember silam, setidaknya lebih dari 500 ribu orang meregistrasikan diri pada otoritas penerbangan nasional AS (FAA). Tentu, sisanya juga akan turut mendaftar, bila saja mereka tidak menabrakkan drone mereka.

"Anakku, Iris, 6, mendapat hadiah drone dari Santa dan pada saat penerbangan pertamanya, pesawat itu tidak kembali. Jika saja aku tidak mengizinkan dia menerbangkannya, drone itu pasti masih ada," ujar Jim Stephen. Dia tidak menyangka mengendalikan drone jauh lebih sulit.

Hilang atau tertabraknya drone disebabkan banyak konsumen yang menerbangkan pesawat kecil itu di depan rumah daripada pergi ke taman, tanpa mempertimbangkan angin dan semak pohon.

Juan J Alonso, profesor ilmu teknologi penerbangan dan astronaut universitas Standford AS yang juga bekerja untuk FAA, memperkirakan para pembeli drone terkejut akan kemampuan mesin tersebut.

Mereka umumnya, kata Alonso, menyangka drone hanya terbang dengan kecepatan 24 km/jam. Namun, rupanya di luar pengetahuan mereka, kecepatan drone mencapai 63 km/jam. Akibatnya 'pilot' kehilangan kendali dan menabrakkan pesawat kecil mereka atau 'menyangkutkan' pada pohon tertentu. Pada mesin yang luar biasa dan berharga cukup mahal itu, dia menginginkan konsumen menggunakannya dengan tanggung jawab.

"Sebagian mereka membeli drone kecil seharga US$500-600. Sebagian yang berlatih mungkin akan memiliki kemampuan seperti pilot. Namun, hampir semua penerbang drone tidak punya keahlian," jabar Alonso.

Otoritas penerbangan FAA menerima lebih dari 100 laporan pilot yang mengeluhkan drone-drone tersebut terbang terlalu dekat dengan pesawat terbang dan dapat membahayakan penumpang. (Try/E-4)

Komentar