Humaniora

Keluarga Wiji Thukul Ingin Jokowi Menonton Bareng Film Ini

Ahad, 8 January 2017 19:59 WIB Penulis: Indriyani Astuti

DOK MI/IMMANUEL ANTONIUS

APABILA usul ditolak tanpa ditimbang, suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan. Dituduh subversif mengganggu keamanan. Maka hanya ada satu kata: Lawan!...

Begitu penggalan bait-bait terakhir dari puisi berjudul 'Peringatan' karya Wiji Thukul, seorang penyair sekaligus aktivis yang hilang ketika peristiwa 1998 silam. Puisi tersebut sengaja dibacakan oleh adik Wiji Tukhul, Wahyu Susilo. Bukan tanpa arti, Wahyu membacakannya.

"Karena puisi ini merupakan salah satu yang disukai oleh Presiden Joko Widodo. Pada saat beliau menjadi Gubernur DKI Jakarta, beliau menyampaikan sangat suka pada puisi ini," ujar Wahyu saat konferensi pers di Jakarta, Minggu (8/1).

Presiden Jokowi sempat beberapa kali menemui keluarga Wiji Thukul. Bahkan, ketika masih menjadi Wali Kota Solo, Jokowi menjadi pejabat publik pertama yang mendatangi Sipon, istri Thukul.

Oleh karenanya, ujar Wahyu, pada 10 Januari mendatang, keluarga dan rekan terdekat Wiji Tukhul akan secara khusus mengundang Presiden Jokowi untuk menonton bersama film 'Istrirahatlah Kata-Kata'. Mereka akan mengantarkan undangan tersebut ke Istana Negara.

'Istirahatlah Kata-Kata' merupakan sebuah film yang mengisahkan sepenggal kehidupan Wiji Tukhul saat bersembunyi dari kejaran aparat negara karena dianggap melawan Orde Baru. Film ini akan diputar secara serentak di bioskop di delapan kota pada 19 Januari 2017.

"Film ini menjadi pengingat dalam berbagai kesempatan Presiden Jokowi menyampaikan punya niat menyelesaikan pelanggaran HAM masa lalu salah satunya penghilangan paksa aktivis pada peristiwa 98," tuturnya.

Putri Wiji Tukhul, Fitri Nganthi Wani, yang hadir juga pada kesempatan itu, mengaku bersyukur karya-karya ayahnya hingga saat ini masih dikenang, walaupun sosoknya tidak kunjung ditemukan sejak hilang 20 tahun lalu.

"Berharap film ini ditonton banyak orang terutama anak muda. Kejujuran dan keteguhan hati memang sulit, tapi kesungguhan itu bisa membuat perubahan yang baik bagi bangsa," ujar Fitri dengan lembut ketika mencoba mengenang sosok ayahnya.

Yosep Anggi Noen, yang menyutradarai film tersebut, menjelaskan 'Istirahatlah Kata-Kata' memotret sisi elementer dari seorang manusia, saat kehilangan hak-hak asasinya termasuk dikekangnya kebebasan bersekspresi ketika berusaha membuka ruang demokrasi.

Setelah dinyatakan buron oleh Pemerintah Orde Baru, Wiji Tukhul tidak bisa bertemu dengan keluarganya dan terus diburu ke mana-mana.

Film pendek itu juga telah berpartisipasi dalam sejumlah festival film internasional seperti Festival del Film Locarno Swiss, The Pacific Maridian Internasional Film, Filmfest Hamburg, dan lainnya.

Di dalam negeri, 'Istirahatlah Kata-Kata' mendapatkan penghargaan sebagai film terbaik, sutradara terbaik, aktor, dan aktris terbaik dari Majalah Tempo dan meraih Piala Dewantara dalam Apresiasi Film Indonesia. (OL-4)

Komentar