MI Muda

Inspirasi dari Orang-Orang Istimewa

Ahad, 8 January 2017 10:27 WIB Penulis: Dila Rizky Anisa Nur Arafah

MI/Seno

KRUK atau tongkat yang membantu untuk dapat berdiri tegak dan berjalan itu tak pernah lepas dari sosok M Nur Ramadhani, 23, bahkan saat dia menjalani aktivitas sebagai dokter koas di Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Universitas Padjadjaran (Unpad), di kawasan Sekeloa, Bandung, Jawa Barat.

Dhani memang penyandang tunadaksa, tetapi ia juga seorang calon dokter gigi yang kini tengah menjalani pendidikan profesi seusai lulus dari Fakultas Kedokteran Gigi Unpad. Bukan cuma kondisi fisik yang membuatnya istimewa. Aktivitasnya sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Persatuan Senat Mahasiswa Kedokteran Gigi Indonesia (PSMKGI) juga menjadi penanda ia pemuda luar biasa.

Muda menjumpai Dhani seusai ia menjalani koasnya, Selasa (27/12). Dhani berkisah kehilangan satu kaki saat masih duduk di bangku SMP akibat sejenis penyakit.

"Mungkin kalau sekilas pertama bertemu first impression pasien juga semua orang ketika bertemu dengan saya berbeda," ujar Dhani.

Bukan cuma orang-orang di sekitarnya, Dhani sendiri pun butuh proses cukup panjang untuk berada pada kondisi penerimaan seperti ini. "Bahkan ketika baru saja diterima di FKG, saya sempat mendapat pertanyaan apakah mampu mengikuti perkuliahan dengan dengan kondisinya hanya punya satu kaki," kata Dhani yang kemudian membuktikan kompetensinya dengan meraih gelar sarjana dokter gigi pada 2016. Seluruh aktivitas dan tanggung jawabnya, lanjut Dhani, bisa ditunaikannya dengan baik, lazimnya dokter gigi lainnya.

Wakili Indonesia di Praha
Kisah istimewa lainnya Muda dapat dari sosok Octaviany Wulansari, 24, mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Brawijaya (Unibraw), Malang, Jawa Timur. Ia menyebut dirinya tuli sehingga harus berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Dibantu Idot, orang yang disebut Ovi sebagai pendampingnya dan membantu menerjemahkan bahasa isyarat melalui sambungan telepon, Muda mewawancarai Ovi pada Rabu (28/12).

"Awalnya teman-teman kampus tidak mengetahui sehingga saya harus menjelaskan kepada mereka mengenai kekurangan saya, hingga akhirnya mereka paham," kata Ovi yang sangat terbantu oleh adanya Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) di kampusnya.

"Dari PSLD ini saya mendapatkan pendamping untuk membantu menerjemahkan saat di kelas dan kadang juga dibantu teman yang menguasai bahasa isyarat," lanjut Ovi yang juga menjadi pengurus di eksekutif mahasiswa.

Seusai lulus nanti, Ovi bertekad menjadi guru untuk pelajar dengan keterbatasan fisik sama sepertinya. "Agar mereka bisa lebih mudah untuk memahami satu sama lainnya," kata Ovi yang sempat eksis di dunia model. Dari dunia itu pula, Ovi merintis jalan menjadi Miss Deaf Indonesia 2012. Ia mewakili Indonesia ke ajang Miss Deaf World di Praha, Ceko.

Kuliah, menyanyi, dan siaran
Inspirasi lain datang dari Maurinta Wiganti, 18, yang memiliki keterbatasan penglihatan atau low vision sejak lahir sehingga hanya bisa melihat cahaya dalam jarak dekat. Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung ini juga punya pencapaian keren.

Ia menulis fiksi sejak belia dan sebanyak enam buku telah diterbitkan dan kini tengah mempersiapkan karya ketujuhnya. "Saya biasanya mendapatkan ide cerita dari orang-orang terdekatnya. Untuk menulis, saya dibantu aplikasi screen reader NVDA yang memang dikhususkan untuk penyandang tunanetra," kata Rinta yang dijumpai Muda di rumahnya di kawasan Rancaekek, Kabupaten Bandung.

Rinta mengaku tantangan buat berkarya bukan karena keterbatasan pengelihatannya, melainkan membagi waktu. Ya, karena Rinta juga aktif di Paduan Suara Mahasiswa (PSM), bahkan menjadi penyiar di Radio Republik Indonesia (RRI) dan memandu dua program, yaitu forum mahasiswa dan interaktif dialogis.

Buat menjalani aktivitasnya yang padat dan berganti-ganti tempat, Rinta didampingi sang ibu yang mengantarnya menggunakan sepeda motor. (M-1)

Dila Rizky Anisa Nur Arafah
Jurusan Jurnalistik Universitas Padjadjaran

Komentar