Weekend

Merindukan Kebersamaan Tim Sepak Bola

Ahad, 8 January 2017 10:24 WIB Penulis: MI

MI/Adam Dwi

MEMORI pada 1969 ketika berjuang bersama tim sepak bola taruna Akademi ABRI Darat di Magelang, Jawa Tengah, sempat terlintas di benak Letnan Jenderal (Purn) Agus Widjojo. Kakek tiga cucu yang kini menjabat Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) itu merindukan suasana kebersamaan yang memadukan kebebasan dan ketertiban sebagai anak muda.

Dalam perbincangan singkat dengan Media Indonesia di Gedung Lemhannas, Jakarta, Kamis (5/1), Agus yang merupakan jebolan Akabri Darat (TNI-AD) 1970 menilai setiap individu pasti memiliki potensi yang perlu dipadukan, seperti keahlian ketika memainkan si kulit bundar.

“Bola itu adalah olahraga yang tidak bersahabat dengan usia. Dulu masa kecil saya bukan untuk menjadi perwira TNI, tapi untuk menjadi pemain PSSI,” ucap Agus yang mengaku kerap diposisikan sebagai pemain tengah. Namun, garis tangan berkata lain. Jebolan Akabri 1970 itu justru terjun dalam dunia militer dan sukses menapaki karier gemilang. Ia pun menganalogikan perjuangan tim sepak bola sebagai sebuah negara dengan ketahanan nasional yang dimiliki.

“Sewaktu masih taruna kami sering mengadakan kompetisi antarkompi. Di dalam kompi kami tidak ada bintang sepak bola karena kemampuan pemain merata. Tidak ada yang bisa disombongkan, tapi kami malah memenangi kompetisi itu,” ujarnya.

Sebagai contoh, setiap prajurit yang menjadi bagian tim kecil itu bermaterikan pemain dengan skill berbeda. Ada yang jago mengontrol bola, memiliki tendangan keras, mampu membaca permainan lawan, pelari cepat, dan lain sebagainya.

“Artinya di situ kita bagaimana menata potensi. Saya rasa ini juga elemen-elemen yang mungkin diburu manajer klub papan atas Eropa. Contohnya, mencari pemain belakang yang bisa menghalangi serangan lawan dengan tackling keras atau pemain yang bisa mengamankan bola. Semua kriteria itu kita dapatkan.”

Kondisi seperti itu diakui Agus menjadi sebuah hal yang spesial. Tim juara ialah tim dengan komposisi kemampuan merata dan bukan yang hanya bertumpu pada seorang pemain saja. Walhasil, skuat Agus beberapa kali keluar sebagai pemenang untuk beberapa turnamen serupa.

“Itu menimbulkan kenyamanan dan kebersamaan dalam sebuah tim. Itu pula yang mungkin menjadi pelajaran yang dapat saya ambil dalam kehidupan ataupun di dalam aspek lainnya,” ucap dia, lirih.

Dalam kaitannya dengan kondisi ketahanan Indonesia saat ini, Agus mengimbau generasi penerus bangsa agar tetap berpikir kritis serta mampu menempatkan diri sebagai figur yang bertanggung jawab. Maklum, persaingan di masa depan yang bakal dihadapi pasti semakin berat ketimbang kondisi saat ini.

“Yang pasti ketertiban tanpa kebebasan akan menuju pada keadaan terpusat, dan sebaliknya kebebasan tanpa ketertiban bisa berakhir anarki dan sukar ditertibkan. Oleh karena itu, sebaiknya harus ada keseimbangan antara kebebasan dan ketertiban,” tutup dia. (Golda Eksa/M-2)

Komentar