Jeda

Membangun Peradaban Politik dari Desa Duwet

Ahad, 8 January 2017 07:52 WIB Penulis: MI

Dok. SPM Satunama

POLITIK yang becek dan bau serta pilkada yang panas diupayakan dibersihkan dari kotoran yang membuat keduanya lengket. Selama delapan bulan perjumpaan di kelas, lalu penugasan lapangan dan diskusi dengan politikus Budiman Sudjatmiko hingga akademisi Syamsuddin Haris, nalar, analisis, dan keterampilan politik dimaksimalkan untuk mengurai musababnya.

Menjelang kelulusan, rencana aksi disusun, dengan memuat aneka program untuk mengganti jejak kelam itu dengan harapan baru.

Upaya mendesain kultur politik dengan mencetak politikus muda yang terampil dan berintegritas itu dilakukan di Sekolah Politisi Muda (SPM) di Dusun Duwet, Sleman, Yogyakarta, yang sejak 2015 telah meluluskan 27 politikus muda asal Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Depok, Lampung, DIY, dan Kalimantan Barat. "Semua partai ikut SPM, kecuali Hanura dan PKS," terang Insan Kamil, sang kepala sekolah.

Ikhtiar serupa yang berfokus pada upaya mendekatkan pemuda dan politik demi menyingkirkan pencitraan negatif dengan mengajak mereka menyusun ide dan mengeksekusinya juga dilakukan lewat Pilkada Banten Apps Challenge yang dimenangi Sedanten. Itu aplikasi buatan anak muda Cilegon untuk pemilih disabilitas. Aplikasi itu kini bisa diunduh di Play Store.

"Politik kita boleh saja disebut busuk, tapi jika direnungi, politik sangat berperan bagi peradaban dan itu sangat mungkin dilakukan di Indonesia yang sebagian besar pemilih dan pelaku politiknya muda," kata Hendro Tri Subiyantoro, alumnus SPM asal Partai Gerindra, Jawa Timur. (FU/*/M-1)

Komentar