Gaya Urban

Uji Nyali di Air Terjun

Ahad, 8 January 2017 10:00 WIB Penulis: Fario Untung Tanu

MI/RAMDANI

Di puncak curug (air terjun) setinggi 37 meter itu sudah terikat dua buah tali karmantel. Dengan tali itulah orang-orang bergantian menguji nyali menuruni tebing air terjun yang berada di Lembah Pelangi, Bogor, Jawa Barat, Minggu (25/12/2016).

Salah satu yang tampak antusias menjajal ialah Ningrum Paramita Sari.

Baru pertama kali mencoba menuruni tebing air terjun (waterfall rapplelling), Paramita tampak tidak cuit. Malah ketika air terjun semakin deras membasahi tubuh, perempuan berusia 29 tahun itu terlihat makin antusias.

"Saya awalnya juga sedikit takut, apalagi pas sudah sampai di atas dan akan turun. Tapi pas udah turun dan terkena air terjun, rasanya justru semakin semangat untuk bisa sampai di bawah," jelas Paramita ketika sampai di bawah kepada Media Indonesia.
Ia mengaku memang tidak asing dengan olahraga ekstrem karena hobi memanjat gunung. Meski begitu, waterfall rappelling dirasakannya cukup menguji nyali.

Sensasi yang sama diungkapkan peserta lainnya dari trip yang digelar Komunitas Backpacker Jakarta (BPJ) itu. Komunitas ini memang baru kali pertama menggelar trip yang memasukkan kegiatan waterfall rappelling.

Nyatanya banyak anggota komunitas yang tertarik dan sengaja memilih menghabiskan hari libur Natal tersebut sembari memacu adrenalin. Salah satu anggota BPJ, Sulaiman, pun merasa ketagihan. Terlebih, baginya, olahraga ekstrem itu bisa sekaligus melatih fisik dan konsentrasi.

"Ini berguna untuk olahraga outdoor lain, rappelling seperti ini sangat membantu seseorang dalam melatih kekuatan tangan, kaki serta konsentrasi," jelas Sulaiman yang mengaku gemar menelusuri gua.

Kuda-kuda lebar

Bagi Anda yang tertarik dengan olahraga waterfall rappelling, curug di Lembah Pelangi memang bisa jadi tempat ideal. Tebing yang tidak terlalu tinggi serta tidak terlalu curam, bahkan cenderung berundak, membuatnya cukup ideal bagi pemula. Selain itu lokasi Lembah Pelangi hanya berjarak sekitar 75 km atau dapat ditempuh perjalanan sekitar 3 jam dari Jakarta.

Kegiatan pun tampak aman dan menyenangkan karena didampingi instruktur serta dilengkapi perlengkapan menyeluruh. Instruktur ini merupakan para anggota komunitas pecinta alam yang memang selalu bersiaga di Lembah Pelangi.

Nur Astra Fitra, instruktur yang hari itu mendampingi Komunitas BPJ, memberikan pengarahan tentang gerakan tubuh dan perlengkapan keselamatan, sebelum aktivitas rappelling dimulai. Beberapa gerakan yang penting ialah posisi kuda-kuda kaki yang harus tetap lebar.

"Yang penting itu posisi kuda-kudanya harus benar. Karena kalau salah apalagi tidak lebar, pasti sering terpeleset ke batu karena keseimbangannya yang kurang baik," ujarnya. Selain kuda-kuda kaki yang baik, Fitra menjelaskan posisi tangan juga menentukan kemulusan gerak. Tangan tidak berpegangan ke depan, tapi salah satu harus berpegangan ke belakang untuk menjaga laju badan saat turun.

Wisata Baru

Mahesa, salah satu pengurus Komunitas BPJ, mengatakan trip itu sesungguhnya juga bertujuan mengangkat Lembah Pelangi, sebagai destinasi wisata baru.

"Nah karena kebetulan yang ikut itu dari Jakarta, maka dengan datang ke Lembah Pelangi Bogor ini juga seakan memperkenalkan tempat wisata baru sekaligus juga berolahraga," tutur Mahesa.
Menurutnya, ia bersama teman-teman di komunitasnya memang kerap mencoba destinasi wisata baru yang belum terlalu dikenal masyarakat banyak.

Komunitas BPJ juga menerapkan konsep yang unik agar bisa menghemat bujet perjalanan. Untuk semua biaya, BPJ akan menerapkan konsep share cost ke semua anggotanya yang ikut dalam perjalanan. Dengan demikian, susah senang akan ditanggung bersama. "Untuk biaya hari ini adalah Rp105 ribu untuk semua yang ikut. Uang itu sudah termasuk transportasi, makan siang, dan biaya untuk menyewa peralatan rappelling," pungkasnya. (M-3)

Komentar