Jeda

Cukur Massal Swadaya

Ahad, 8 January 2017 08:15 WIB Penulis:

MI/AKHMAD SAFUAN

SUKA, dukung, dan awasi. Itulah prinsip yang melekat pada anak-anak muda relawan para kandidat pilkada serentak 2017. Di Jepara, Jawa Tengah, ada kisah Didin Ardiansyah, yang getol untuk memenangkan calon pasangan Subroto-Nur Yahman dengan swadaya bergerak dari desa ke desa bersama tim relawan yang sebagian besar seniman lukis, patung, dan pemusik.

Tak hanya meengoptimalkan waktu dan jumlah relawan, Didin yang bermukim di Jinggotan, Kecamatan Kembang, juga menyusun strategi agar kampanye tepat sasaran.

"Awalnya tidak terlalu tertarik terlibat kampanye, bahkan selama lima tahun sebelumnya cenderung berlawanan dengan pemerintah daerah karena aspirasi dan nasib ribuan seniman Jepara tidak terlalu diperhatikan. Namun, setelah Subroto tampil sebagai calon bupati dengan membawa program-program yang jelas dan sangat berpihak, kami tergugah untuk memberikan dukungan penuh. Saat ini sudah 80% barisan seniman kami rengkuh," kata Didin yang mangaku akan mengawasi implementasi janji jagoannya untuk memberdayakan kelompok-kelompok seni serta menggali kembali tradisi lokal.

Gerak Didin juga didukung kolaborasi dengan pegiat media sosial Iskak Wijaya yang mengaku sukses menggerakkan 800 anggota komunitas media sosial Jepara untuk mengampanyekan calonnya melalui Facebook, Twitter, Whatsapp, BBM, dan media daring.

Aneka Relawan Jakarta

Di Jakarta, kolaborasi dan spesialisasi jadi kunci sukses relawan. Muhammad Alipudin, 35, mengaku memegang janji paslon nomor tiga Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. "November tahun lalu, kumpulan yang diberi nama Relawan ASIK (Anies-Sandi Idola Kita) diresmikan perwakilan paslon. Enggak semua pemuda itu apatis, mereka juga mau ikut andil. Hanya, caranya lebih santai. Kami relawan murni disatukan karena kebutuhan yang sama, kemudahan usaha," kata Alip sembari merinci program 200 ribu pengusaha yang diusung jagoannya.

Berbasis aksi, mereka berencana mengadakan acara cukur gratis untuk menarik simpati. "Saya punya barber shop dan untuk teknis memang sedang dibicarakan agar bisa melayani 100-200 orang. Obrolan ringan saat proses mencukur dan menunggu diyakini menjadi upaya tepat mendekatkan diri dengan pemuda dan pemilih pemula sekaligus menjadi gambaran wirausaha bisa membantu warga dengan keahliannya," kata Alip.

"Kelihatannya cuek, padahal para pemuda dan pemilih pemula itu sangat memantau media sosial sehingga itu yang kami sasar. Kami punya akun Twitter, Instagram, hingga Facebook untuk memberitakan program dan kerja Mas Anies-Sandi," ungkapnya sembari merinci jumlah relawan yang tergabung pada Relawan ASIK sebanyak 200 orang dan didominasi usia 20-22 tahun.

Swadaya

Sikap santun dan tidak mau memaksa juga dilakukan salah satu relawan paslon nomor urut 2 Basuki-Djarot yang tergabung dalam Seknas Jokowi, kependekkan dari Sekretariat Nasional Jarigan Warga Komunikasi Indonesia. Sarwini atau akrab disapa Yuni, di bawah guyuran sinar matahari yang terik dan menyengat kulit, mengumpulkan para relawan lainnya di Kalijodo Park, juga melibatkan para selebritas. Mereka swadaya membuat video materi kampanye Basuki-Djarot.

"Tidak dikoordinasi karena itu tadinya kami tidak mengajak masyarakat karena takutnya ada yang diharapkan. Eh ternyata mereka malah minta ikut karena senang dengan Pak Ahok," tukas Yuni.

Aktivitas kreatif lain yang dibuat beberapa relawan Basuki-Djarot ialah memberikan selebaran berisikan komik berwarna, bercerita tentang kinerja Basuki. Ada juga selebaran yang berisikan pesan-pesan pahlawan nasional agar tetap menjadi Indonesia tanpa mengumbar SARA. Flashmob, bergerak bersama, juga dilakukan pada hari ini di kawasan Cilandak Town Square sebagai upaya untuk memikat kepedulian pemuda pada pilkada. "Kami terbentuk sejak 2012, berasal dari seluruh Indonesia. Kalau untuk Jakarta saja, relawan muda di Seknas untuk Ahok-Djarot persentasenya besar, 50%," tuturnya.

Eksistensi organisasi pemuda di luar partai dirasakan banyak manfaatnya bagi Alip dan Yuni. Pada Relawan ASIK sendiri, beberapa anggota mereka memiliki latar belakang organisasi pemuda, tetapi pergerakan medukung lebih disebabkan kesamaan pandangan dan kepedulian menjadikan DKI Jakarta lebih baik. Alip mengakui organisasi pemuda sangatlah baik untuk perkembangan pemuda itu sendiri. "Kami perlu terus belajar agar lebih baik, terbuka mata serta pikiran untuk perkembangan daerah," kata pegiat Remaja Masjid dan Klub Komunitas Sepeda itu. Wnd

Komentar