Jeda

Muda, Beda, dan Berpolitik

Ahad, 8 January 2017 08:00 WIB Penulis: Furqon Ulya Himawan

DOK. PERLUDEM

UNDUH saja saja di Playstore, lalu bukalah aplikasi Sedanten ini. Ada profil kandidat gubernur dan wakilnya, prediksi perolehan suara, hingga teknologi yang dikhususkan buat mereka yang disleksia atau tunarungu.

Dari aplikasi, gim, hingga isu-isu kekinian yang disebarkan, jarak yang terbentang antara anak-anak muda dan dunia politik coba dipangkas. Keriuhan politik di Banten yang pada pilkada serentak Rabu (15/2) mendatang akan mengadu Wahidin Halim-Andika Hazrumy dengan Rano Karno-Embay Mulya Syarif itu telah merembet pada meja-meja kerja penggelut pengembang aplikasi di Banten dan tentunya anak-anak muda, termasuk para pemilih pemula, yang memang tak bisa lepas dari gawai.

Heru Utomo dan Robi Fahmi, sang pembuat, di kampus universitas swasta di Tangerang, beradu presentasi dan teknologi dengan aplikasi Banten Memilih, Sitami, Maju-Maju Pilkada, hingga Debus!
"Ini adalah lomba kelima yang kami adakan setelah sebelumnya juga diselenggarakan di Surabaya. Ini merupakan bentuk kepedulian terhadap pemilu yang lebih baik dalam hal partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas. Lomba ini juga melanjutkan tradisi keterbukaan demokrasi digital di pemilu Indonesia," kata peneliti Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Sebastian Visnu yang mengawal acara itu bersama tim Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Bekal buat 2019

Menyinergikan ide, masalah, solusi, dan dunia politik dalam wahana berbeda terjadi di Sekolah Politisi Muda (SPM) di Dusun Duwet, Sleman, Yogyakarta. Bahkan, para alumnusnya yang merupakan kader berbagai partai akan melanjutkan kolaborasi dengan membuat Kaukus Politisi Muda.

Wahana diskusi, pertukaran ide, dan tentunya saling suntik semangat untuk menghadapi berbagai tantangan di panasnya dunia politik itu ditargetkan akan berdiri sebelum Pemilu 2019. Pada pemilu dua tahun mendatang itu pula, sebagian atau bisa jadi seluruh alumnus SPM akan ikut nyaleg.

"Kompetensi para peserta SPM, apalagi mereka yang sanggup mengikuti sampai tahap akhir dan diwisuda, harus diakui sangat update. Setiap lulusan biasanya akan mampu berpikir dan memiliki posisi tawar di partainya. Jadi benar adanya, SPM memang berat, tetapi sangat bermanfaat bagi para lulusannya," kata Kepala SPM Insan Kamil.

Hendro Tri Subiyantoro, 37, alumnus SPM angkatan pertama yang bergabung pada 2015, mengaku idealismenya terasah saat mengikuti proses pembelajaran di kelas, diskusi, penyusunan project, implementasi, presentasi, hingga ia kembali ke Partai Gerindra sebagai Wakil Ketua Bidang Informasi Dewan Pengurus Daerah (DPD) Jawa Timur.

"Dunia politik bagi awam itu selalu negatif, busuk, dan jahat. Namun, SPM meluruskan, politik itu pembangun peradaban. Kami diajari nilai-nilai politik yang beradab," kata Hendro yang dari para pengajar, di antaranya Hasto Kristiyanto hingga Wakil Wali Kota Makassar Syamsu Rizal, belajar cara menyusun strategi pergerakan hingga komunikasi politik.

"Ini menjadi ajang teman-teman politisi muda bersikap arif di komunitas masing-masing, menjadi leader, pembaharu," kata Hendro yang meyakini tujuan hanya dapat dicapai dengan kesantunan dan keadaban.

Sri Andarwati, kawan satu kelas Hendro dari PDI Perjuangan, mengaku kini punya perspektif lebih lebar, tak melulu soal kepentingan parpol tempatnya bernaung. "Kerennya lagi, di sini kita diajari soal sistem, dari situ saya jadi paham mengapa rencana-rencana saya di partai gagal tercapai," ujar Sri.

Strategi

Hal senada juga diungkapkan Lilyana Phandeirot, alumnus SPM angkatan kedua yang juga Wakil Sekretaris 1 DPW Jawa Timur Partai NasDem, yang mengaku mendapat bekal untuk mengader generasi muda agar berpartisipasi mengawal proses demokrasi.

"Bagaimana generasi muda terlibat langsung, menjadi pengawas pemilu misalnya. Kalau politisi muda, dilihat dari pilkada DKI saja sudah pasti terlihat itu orang-orang muda, baik juga. Di dunia politik, orang disbeut dewasa bukan hanya dari segi umur," ujar Lilyana.

Ada yang sukses lulus, demikian juga yang urung lulus. Salah satunya Ika Sulistyowati, 22, mahasiswa semester 9 Jurusan Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang juga kader Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Namun, kiat dan strategi yang didapatnya dari praktisi melengkapi pengalamannya di Gerakan Mahasiswa Satu Bangsa (Gemasaba), organisasi sayap PKB.

"Benar-benar ini pengalaman pertama, setiap hari membahas politik, tapi saya terkendala waktu," kata Ika.

Serupa pula dengan Bhara Yuda, 25, alumnus Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) yang aktif di Partai Golkar. Serupa dengan dunia politik praktis yang menyedot energi, masa pelatihan itu pun membutuhkan fokus dan energi fisik serta mental yang diakuinya tak maksimal karena faktor waktu.

Eksis di pilkada DKI

Besarnya kekuatan anak muda, termasuk pemilih pemula, baik dari segi kuantitas maupun idealisme, juga diakui komisioner KPU Provinsi DKI Jakarta Betty Epsilon Idroos.

"Kami mengadakan acara mendaki gunung ke Mandalawangi, Cibodas, Jawa Barat, selama dua malam bagi para pemuda dan pemilih pemula. Yang ikut Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), komunitas pecinta alam, hingga karang taruna agar peserta mewakili berbagai kelompok. Terkumpul 110 peserta," kata Betty.

Di gunung, pendidikan politik pun dilakukan. Di kegiatan Election Camp itu, ada pos-pos singgah dengan muatan pembelajaran atau pertanyaan seputar pemilu hingga menyanyikan lagu pilkada saat api unggun.

Pemuda, imbuh Betty, merupakan pemilih mulai usia 17 hingga 30 tahun atau yang sudah menikah. Sementara itu, pemilih pemula merupakan pemilih yang baru pertama kali mencoblos.

"Persentase keduanya dalam pilkada DKI Jakarta cukup besar. Pemuda sebanyak 27,30%, sedangkan pemilih pemula 8,42% dari enam kabupaten/kota. Mereka sangat tidak menyukai stagnasi, memiliki peer group yang saling memengaruhi. Pemuda dan pemilih pemula ini juga merupakan jembatan dari beberapa kelas sosial yang ada," tukas Betty.

Kabar gembiranya, jumlah relawan demokrasi yang kini meramaikan dinamisnya politik jelang pilkada bertambah dalam setiap kabupaten/kota, dari sebelumnya lima orang kini berkisar mulai 18 hingga 25 orang.

"Tentu kelompok tersebut mewakili enam segmentasi, yaitu penyandang disabilitas, perempuan, pemula, tokoh agama, kaum marginal, juga kalangan profesional. Pemuda saat ini cukup baik kepeduliannya. Mereka akan memperhatikan visi-misi pasangan calon. Kami berusaha mendekatkan mereka mengenai pentingnya suara di pemilihan umum," ugkap Betty. (Wnd/*/M-1)

Komentar