Hiburan

Membawa Konser Kelas Dunia ke Daerah

Ahad, 8 January 2017 04:40 WIB Penulis: Hera Kaherani

RAJAWALI CITRA INDONESIA COMM

ALUNAN permainan saksofon Kenny G memang sudah tidak diragukan. Namun, ketika musikus jazz asal Amerika Serikat (AS) itu tampil di Prambanan Jazz International Music Festival pada Oktober 2015, musiknya seolah memiliki daya magis ekstra. Dengan berlatar Candi Prambanan plus pengaturan cahaya, konser itu menjadi megah dan mewah. Pergelaran tersebut menjadi awal bagi Anas Syahrul Alimi, CEO Rajawali Citra Indonesia Comm, membawa musisi kelas dunia tampil di daerah selain Jakarta. Tidak hanya Kenny G, di tahun yang sama ia mengundang Air Suppy ke Malang dan Yogyakarta. Tahun berikutnya giliran Boyz II Men diboyong ke Surabaya, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Michael Learns to Rock pun dibawanya ke Balikpapan, Yogyakarta, dan Surabaya. "Memang sengaja saya tidak bawa ke Jakarta," ungkapnya saat ditemui Media Indonesia di Jakarta, Kamis (22/12/2016).

Pria yang sejak sekolah menengah pertama (SMP) mulai tinggal di Yogyakarta itu merasa memiliki utang budi pada provinsi tempatnya tumbuh itu. Makanya dia bercita-cita bagaimana agar Yogyakarta bisa jadi destinasi kedua untuk konser-konser musik dunia. Dia ingin menyuguhkan konser musik berkualitas tingkat dunia ke kota-kota lain. "Bahkan mungkin bisa jadi destinasi pertama, tidak melulu di Jakarta," imbuhnya.

Terbukti, visi idealis semacam itu pun sangat memungkinkan dan bisa sangat bernilai ekonomi. Prambanan Jazz Festival yang pertama pada 2015 menargetkan 2.500 tiket terjual. Nyatanya jumlah penonton malah membeludak hingga 5.500 tiket terjual. "Itu membuat kita kaget, ternyata sangat antusias," akunya. Padahal untuk ukuran standar biaya hidup di Yogyakarta, tiket konsernya itu sudah terbilang mahal, mencapai Rp1,5 juta. Dari pengamatan mereka, sekitar 60% penonton datang dari luar kota.

Lalu ketika menggelar Prambanan Jazz Festival lagi di tahun berikutnya, mereka mengubah konsepnya menjadi dua hari dengan menghadirkan artis internasional Boyz II Men dan penyanyi Rick Price. Total 20 ribu penonton memadati konser selama dua hari itu. Nah April 2017 ini, Rajawali Citra Indonesia dipastikan membawa musisi dunia David Foster untuk konser di Yogyakarta. Itu dalam rangkaian tur Asianya. "Dia hanya akan tampil di Yogya, tidak ke Jakarta," jelas Anas. Sayang, lantaran perubahan jadwal tur Asia David Foster, niat untuk menampilkan musikus tersebut di Prambanan Jazz Festival harus digantikan dengan konser indoor di Grand Pacific Hall, Jalan Magelang, DIY. "Karena pelaksanaannya April, kita tidak bisa ambil risiko hujan, biasanya Prambanan Jazz Festival itu tengah tahun," imbuhnya.

Antara peluang dan kendala
Ternyata bayaran mengundang artis internasional ke kota selain Jakarta jauh lebih murah. Namun, harga tiket di daerah juga lebih murah daripada di Jakarta. Dari sisi pengusaha, dia bisa mendapat margin keuntungan yang lebih besar. Apalagi, sponsor perusahaan-perusahaan di daerah juga masih banyak yang belum tergarap. "Perusahaan itu biasanya jadi sangat antusias saat kita menawarkan konser yang bagus, jadi bisa untuk layanan nasabah atau klien prioritasnya." Namun, menggelar konser di daerah juga bukan tanpa kendala.

Pertama, masalah ketersediaan venue dengan kualitas dan kapasitas memadai untuk konser taraf internasional. Grand Pacific Hall Yogyakarta yang nanti akan dipakai untuk konser David Foster, contohnya, kapasitasnya hanya 3.500 orang. "Paling besarnya hanya setengah dari JCC (Jakarta Convention Center)," keluh Anas. Ia menambahkan tampaknya belum ada pemerintah daerah yang fokus untuk menyediakan tempat lebih memadai. Pun investor, belum melirik peluang tersebut.

Padahal antusiasme menonton konser di daerah terbukti tinggi. Saat mereka menawarkan presale untuk 500 tiket konser David Foster yang harganya mulai Rp350 ribu hingga Rp7,5 juta, semuanya terjual dalam dua hari saja. Dia pun yakin target 3.500 penonton akan tercapai dengan mudah, bahkan lebih.

Kendala lainnya ialah pajak di daerah. Beberapa kota yang pernah dijajal perusahaannya untuk mengadakan konser terpaksa harus dihindari lantaran pajak daerahnya terlalu tinggi. Di Makassar, Sulawesi Selatan, contohnya, pajak untuk setiap tiket ialah 35%. Jadi, misalnya harga tiketnya Rp1 juta, harus dikenai pajak Rp350 ribu. Bandung Barat juga dihindarinya karena pajak yang tinggi. "Kan seram, gimana kita mau menghitungnya nanti. Kalau mau dibebankan ke penonton, nanti kemahalan," ujarnya. Menurutnya, besaran pajak yang ideal ialah 10%.

Ia berharap pemerintah daerah bisa mendukung agar lebih banyak konser internasional digelar di daerah. Pasalnya acara semacam itu bisa mendatangkan devisa. Pada Prambanan Jazz 2016 yang ditonton 20 ribu orang, misalnya, 60% penontonnya berasal dari luar kota. Jika setiap pendatang menginap beberapa hari di Yogya, artinya mereka menghabiskan uang di kota tersebut, dan itu mendatangkan keuntungan bagi hotel dan penginapan, jasa penerbangan, kuliner, transportasi, serta pariwisata. Nah, sudah saatnya konser-konser berkelas tidak terkonsentrasi di Jakarta saja. Indonesia itu luas dan kaya, tak hanya Jakarta yang berpotensi. (M-4)

Komentar