Travelista

Waktu Mundur di Te Hana Te Ao Marama

Ahad, 8 January 2017 04:20 WIB Penulis: (Sha/M-1)

MI/ IRANA SHALINDRA

KEBUDAYAAN suku Maori, suku asli Selandia Baru, merupakan salah satu hal berharga yang keberadaannya diupayakan senantiasa bertahan oleh segenap pemangku kepentingan di ‘Negeri Kiwi’. Mulai pemerintah sampai komunitas masyarakat Maori sendiri aktif berperan untuk melanggengkan kultur yang mereka tahbiskan sebagai identitas nasional. Salah satunya seperti yang dilakukan Te Hana Community Development Charitable Trust.

Pada 2002, prihatin dengan masalah sosial dan ekonomi yang merongrong kehidupan anggota komunitasnya, seperti pemakai­an obat terlarang, perumahan, dan kesehatan. Problem itu dikhawatirkan dapat mengusik kelangsungan komunitas mereka. Melihat kondisi tersebut sejumlah warga kemudian beride menciptakan sebuah sentra edukasi budaya Maori dengan ‘kembali ke masa lalu’. Mereka mengumpulkan donasi dan sukarelawan untuk kemudian membangun sebuah ‘perkampungan’ Maori bercita rasa abad ke-17, sebelum bangsa Eropa datang, di atas lahan sekitar 4 hektare, di daerah pinggir­an Auckland, Selandia Baru.

Ritual perkenalan
Maka, jangan gentar ketika sampai di sana, Anda ‘disambut’ teriakan pria-pria yang hanya memakai bawahan dan jubah dari tanaman flax, serupa rami, yang lazim dipakai dalam kese­harian suku Maori di waktu lampau, lengkap dengan tombak atau senjata lain di tangan. Mereka akan muncul dari balik ‘benteng’ berupa jajaran batang-batang kayu yang memagari perkampungan mereka, menatap Anda dengan mimik curiga. “Mereka ingin tahu maksud kedatangan Anda,” terang CEO Te Hana Te Ao Marama, Thomas De Thierry, kepada delegasi Pegiat Budaya 2016 yang bertandang ke sana, akhir November lalu.

Untuk menghilangkan kecurigaan mereka, ujarnya, ‘kepala suku’ kami perlu mengikuti upacara. Dipilihlah Koordinator Umum Pegiat Budaya Dwi Haryono untuk memenuhi kewajiban itu. Kami pun berjalan memasuki kegelapan Te Ana o Te Topuni, Gua para Spirit, menuju perkampungan mereka. Samar-samar, tercium bau belerang. “Tetap tenang,” bisik De Thier­ry ketika kami mendengar suara Putatara, semacam alat tiup tradisional Maori. Para prajurit sedang memberi sinyal kepada warga bahwa ada orang-orang tidak dikenal di wilayah tersebut, jelas De Thierry di ujung mulut gua.

Sekilas saya melirik Dwi. Wajahnya sedikit tegang. “Kalau mereka menjatuhkan bunga di depan Anda, pungutlah. Jika tidak, Anda dianggap datang dengan maksud buruk. Jelaskan pula soal suku Anda dan kenapa Anda datang,” pinta De Thierry yang dijawab Dwi dengan anggukan. Kami kemudian berjalan ke dalam benteng. O la la, di hadapan kami ada sederetan kursi plastik berwarna putih, dan panggung pertunjukan. Seketika buyar ketegangan yang sempat terbangun. Sesuai dengan petunjuk De Thierry, ketika seorang pria bersenjata datang mendekat, ia tetap tenang. Pria tersebut kemudian melempar bunga ke tanah, yang lantas diambil Dwi sebagai tanda kami datang dengan damai. Setelah itu, sang pria yang rupa-rupanya kepala suku, memberi kami semacam sambutan dalam bahasa Maori, yang lantas dilanjutkan dengan pertunjuk­an tradisional oleh para warga ‘perkampungan’. Mulai nyanyian, sampai Haka, tarian khas Maori yang kental dengan hentakan kaki dan tangan, lidah menjulur, dan belalakan mata. “Mata yang besar bagi pria menandakan api, sedangkan bagi perempuan adalah kecantikan,” terang De Thierry.

Tradisi Maori
Pertunjukan berlangsung sekitar 20 menit, kemudian kami ‘digiring’ menuju marae, balai pertemuan yang disucikan suku Maori. Di sana, De Thierry memberi penjelasan mengenai sejarah leluhur mereka, Putri Te Hana yang hidup sekitar 300 tahun lalu, juga kultur Maori. Mengapa pintu marae dibuat rendah, mengapa pria dan perempuan Maori merajah wajah mereka, bagaimana membedakan totem pria dan wanita, adalah segelintir dari berbagai informasi menarik yang ia bagi dengan kami.

Saya agak kecewa ketika kemudian berkeliling ke sekitar marae dan menemukan rumah-rumah yang kosong. Semula saya pikir, kami akan bisa melihat aktivitas keseharian mereka di masa lalu. Walau, tentu saja saya tahu mereka tidak benar-benar tinggal di rumah tradisional itu. Sama sekali tidak ada perabot atau tanda kehidupan di dalammnya. Kekecewaan sedikit terobati pada saat kami disuguhi makanan yang menurut De Thier­ry bahan-bahannya adalah apa yang biasa dimakan orang-orang Maori dulu, seperti ubi dan ikan. Lezat dan segar! Sambil makan, saya menga­mati orang-orang yang membantu menyuguhkan makanan. Rupanya mereka adalah orang-orang yang menyambut kami dalam upacara kedatangan. “Pantas rumah mereka kosong, ternyata sibuk menyiapkan makanan kita,” canda seorang teman. (Sha/M-1)

Komentar