Travelista

Dunia Sureal Alan Gibbs

Ahad, 8 January 2017 04:00 WIB Penulis: Irana Shalindra. iras@mediaindonesia.com

MI/ IRANA SHALINDRA

LAHAN pertanian se­luas 400 hektare milik miliuner Selandia Baru, Alan Gibbs, tersebut merupakan ‘rumah’ bagi karya sculpture dari sejumlah seniman dunia. Dari kejauhan, struktur-struktur dalam ukuran gigantic di atas perbukitan yang hijau oleh rumput kikuyu itu telah mencolok mata. “Gibbs Farm bisa dibilang salah satu taman sculpture terbaik di dunia. Di sini bahkan ada karya Anish Kapoor. Australia saja tidak memiliki karyanya,” ujar Mei Hill, seniman Maori yang mengantarkan saya dan para pegiat budaya Kementerian Pendidikan dan Budaya RI berkunjung ke Gibbs Farm, medio November silam.

Kapoor, 62, ialah salah satu perupa yang disegani di dunia seni sculpture internasional. Ia identik dengan struktur nonlinier, bulatan yang feminin, dan warna merah menyerupai membran internal tubuh manusia. Salah satu kreasinya yang terkenal adalah Marsyas, struktur serupa corong trompet dengan panjang 150 meter, dan membuat Alan Gibbs meminangnya untuk berkarya di Gibbs Farm. Dengan membelah salah satu perbukitan di sana, Kapoor menghadirkan Dismemberment, Site 1, yang bentuk corong-corongnya sekilas memang mengingatkan kepada Marsyas. Namun, dengan skala lebih masif sebagaimana dikehendaki Gibbs. Corong sisi barat, horizontal, memiliki dimensi 25 m x 8 m, sedangkan co­rong bagian timur 8 m x 25 m.

Saking besarnya, pengunjung tidak bisa menikmati Dismemberment, Site 1, hanya dari satu sudut. Saya memilih menaiki bukit di sisi kirinya untuk dapat melihat sebagian besar sisi sam­ping karya tersebut. Sebagian rekan memilih sisi bukit yang berbeda dan sebagian lagi memilih mengitarinya dari bawah. “Setiap sudut akan menimbulkan sensasi perasaan yang berbeda. Bahkan kalaupun kita di sudut yang sama, cuaca, cahaya matahari, langit dan awan akan menjadikannya terasa lain,” ucap Hill.

Sensasi
Sensasi semacam itu rupanya bukan hanya timbul pada karya Kapoor. Saat menikmati sebagian besar sculpture besutan seniman-seniman lain di Gibss Farm, saya mendapati realitas tersebut. Maklum, mayoritas memiliki dimensi ukuran jumbo yang melebihi daya pandang manusia. Gibbs yang memiliki sejumlah bisnis, antara lain kendaraan amfibi, mengisi ruang-ruang perbukitannya dengan ciptaan banyak seniman papan atas dunia lain, seperti Bernar Venet, Richard Serra, Marijke de Goey, Len Lye, dan Sol LeWitt. Total ada 27 karya bercokol di pertanian yang dimiliki Gibbs sejak 1991 tersebut.

Karya Richard Serra, sculptor bergaya minimalis asal Amerika Serikat, merupakan salah satu yang juga memperoleh sorotan publik pada saat instalasinya. Te Tuhirangi Contour ciptaan Serra adalah dinding baja setebal 5 cm, yang jika dilihat dari atas, ia berlekuk-lekuk sepanjang 250 meter mengikuti garis kontur lanskap di bawahnya. Gibbs memang sudah sejak lama kepincut karya-karya Serra yang identik dengat material baja. Dalam suatu wawancara, ia mengatakan karya Serra amat berkarakter. “Cara Serra menciptakan perasaan dan ruang hanya dengan ‘memotong’-nya dengan lempeng baja amat sangat unik,” puji Gibbs.

Saya sendiri amat menyukai sculpture dari Neil Dawson, Horizons. Bertempat di spot tertinggi Gibbs Farm, Horizons memberi ilusi rupa kertas yang melayang jatuh tertiup oleh angin. Entah kapan ia melayang pergi. “Gibbs memang eksentrik. Berkat dia, Selandia Baru memiliki karya-karya yang membuat orang ternganga (jaw dropping),” kata Hill mengomentari pria berusia 77 tahun tersebut. Istilah yang dipilih Hill benar adanya. Saya yang awam dengan dunia seni, apalagi sculpture, amat terkesima pada berbagai struktur yang menempati Gibbs Farm. Di situ, mereka bukan sekadar objek, apalagi dekor. Entah bagaimana, sculpture-sculpture tersebut seolah menyatu dengan lanskap alam. Menjadikan lahan pertanian tersebut--yang juga dihuni berbagai hewan eksotis macam jerapah, bison, dan burung unta--bak dunia sureal.

“Ini seperti di surga! Absurd. Ini beneran atau enggak, sih?” pekik perupa Putri Fidhini berulang kali saban menjumpai sculpture yang membuatnya tercengang. Saya tertawa sambil bertanya di dalam hati, mengapa ‘suaka’ seni semacam ini tidak terekspos bagi masyarakat awam di luar Selandia Baru? Seolah negara tersebut ‘hanya’ memiliki alam yang (memang) luar biasa cantik. Siapa menyana di antara kami, yang notabene mayoritas adalah seniman, akan adanya selebrasi seni yang luar biasa di sebuah lahan peternakan? Waktu 4 jam yang diberikan pengelola Gibbs Farm pun berlalu tanpa terasa. Tidak cukup bagi saya untuk memanjakan mata sekaligus mencerna karya-karya skala dunia ini. Sambil beranjak pergi, tebersit satu lagi perta­nyaan dalam benak, apa mungkin surga perayaan seni semasif ini eksis di Tanah Air? (M-1)

Komentar