Tifa

Mengungkap Pesan dari Jalan Lempung

Ahad, 8 January 2017 02:25 WIB Penulis: ABDILLAH M MARZUQI. miweekend@mediaindonesia.com

MI/ABDILLAH M MARZ

PIRING-PIRING itu bersusun bertumpuk meninggi di pojok ruangan. Berlandaskan sebuah kursi yang diapit dua pintu dikedua sisinya dengan posisi tidak sejajar. Peralatan jamuan itu berjumlah puluhan hingga mencapai tinggi 3 meter dengan kursi tatakannya. Uniknya, ada tanah yang di setiap sela tumpukan piring. Tak hanya tanah, tetapi juga butiran gabah yang tersemai di atas tanah. Itulah karya Eddie Prabandono berjudul Greedy (2016). Karya Eddie merupakan salah satu karya yang dipamerkan dalam The 4th Jakarta Contemporary Ceramics Biennale (JCCB-4) yang digelar 8 Desember 2016–22 Januari 2017 di Galeri Nasional Indonesia.

Kali ini, JCCB-4 mengangkat tema Ways of clay: Perspectives toward the future. JCCB-4 dikuratori Nurdian Ikhsan dan Rizki A Zaelani. Saat pembukaan lalu, karya Eddie belum begitu menampak kedalaman pesannya. Hanya ada piring-piring dengan tanah bertabur benih padi. Setelah sekitar sebulan pameran berlangsung, karyanya mulai menunjukkan kedalaman makna. Gabah mulai bertunas. Lalu tumbuh menjadi padi. Karya instalasi itu ingin berpesan tentang kondisi manusia. Melalui medium kursi, piring, dan padi dalam ruang 50x50x300 cm, karya itu ialah penggambaran tentang kehidupan dan kerakusan. Judul Greedy (rakus) rupanya menjadi konsep sentral dalam karyanya. Piring menjulang dengan tanaman padi menunjukkan rasa tidak pernah puas atas yang telah dimiliki. Selalu ingin lebih dan lebih. Seperti rasa lapar yang tidak dapat dipenuhkan dengan makanan. Yang bisa menghentikan rasa lapar hanya ketika makanan habis, perut tidak kuasa lagi menampung, ataupun ketika tidak ada wadah yang sanggup menampung.

Kursi bisa dimaknai sebagai simbol kekuasaan, pengaruh, kekuatan, ataupun kemampuan. Layaknya ujaran kursi kekuasaan. Pemaknaan utuh akan membawa pada pengertian rakus pada kekuasaan. Atau ketika berkuasa, rasa rakus akan selalu bertumbuh. “Ini tidak tentang siapapun. Ini tentang kita,” terang Eddie. Eddi Prabandono dikenal sebagai seniman yang menyertakan unsur desain, perancangan, perencanaan, dan konstruksi dalam menghasilkan karya-karya berukuran besar. Tentu hal itu membutuhkan rencana kerja dengan perhitungan cermat. Dengan pendekatan unik dalam mengungkapkan bahasa ekspresi. Karya-karyanya tidak hanya sekedar menjelma sebagai barang-barang struktural dari bahan industrial, bebas bentuk, mudah dimanipulasi, maupun yang organik. Karyanya lebih merupakan penjelasan dan perwujudan dari kedalaman konsep. Dengan cara yang khas dalam memanipulasi bahan, Eddie memantik sebuah rasa penunjuk tanda yang khas. Rasa itu lalu berkelindan menjadi muncul di antara objek dan kecairan pesan.

Lebih mudah dipahami
Setidaknya, melalui karya Eddie, tema JCCB-4 bisa menjadi lebih mudah dipahami. Keramik dan lempung bagi manusia adalah sesuatu yang tak terelakkan. “Ways of clay melihat bahwa keramik dan lempung bagi manusia adalah sesuatu yang tak terelakkan,” terang Nurdian Ichsan dalam kuratorialnya. Lempung ataupun keramik berfungsi sebagai penghubung, baik bagi seniman dengan dirinya, maupun dengan realitas dan masyarakat. Hal itu lalu mendorong penggunaan lempung dan keramik dalam praktik seni. Lempung menghubungkan seniman dengan sesuatu yang bersifat asali dan eksistensial, sedangkan keramik menghubungkan seni dengan keseharian dan publik yang lebih luas.

JCCB-4 menampilkan karya-karya dari 41 seniman yang berasal dari 20 lebih negara. JCCB-4 merupakan perhelatan seni keramik kontemporer dua tahunan (biennale) yang terbesar di Asia Tenggara. Perbedaan yang mendasar antara JCCB dan pameran keramik internasional lainnya adalah keterlibatan peserta nonkeramikus. Hampir semua pameran-pameran internasional keramik berkala diikuti atau memang diperuntukkan para pekeramik. Pada JCCB-4 kali ini, itu sangatlah berbeda. Karena dalam persiapannya dimulai dengan program residensi para seniman di beberapa lokasi. Mereka selama satu bulan berinteraksi dengan situasi lokal, baik secara sosial maupun secara budaya. Mulai Agustus hingga November 2016, sebanyak 20 seniman melakukan residensi.

Melalui tema Ways of clay: Perspectives toward the future, JCCB akan menafsirkan sejarah sebagai perspektif dalam memahami praktik seni keramik. Sejarah dalam konteks JCCB-4 bukan hanya sejarah seni keramik sebagai sebuah disiplin, melainkan dipahami juga sebagai sejarah penggunaan material lempung dan media keramik dalam praktik seni rupa. Warisan sejarah itu juga yang menjadikan JCCB selalu melibatkan peserta dari latar belakang bukan pekeramik. Lebih dari itu, Ways of clay punya pesan lain, yakni tentang manusia dan budaya. ‘Ways of clay tak hanya menjadi soal ekspresi pemahaman tentang seni, tetapi menyangkut soal kelahiran budaya dan peradaban dan juga mengenai keadaan tentang manusia itu sendiri. Material tanah liat dan keramik mengibaratkan soal proses dan keadaan dari penciptaan manusia dan budaya’, tulis kurator pameran Rizki A Zaelani. (M-2)

Komentar