PIGURA

Tahu Diri

Ahad, 8 January 2017 02:00 WIB Penulis: ONO SARWONO sarwono@mediaindonesia.com

Dok Mi

“SAYA senang kita memulai acara ini dengan menyanyikan lagu Padamu Negeri, dan mengakhirinya dengan syair ‘Bagimu negeri jiwa raga kami’. Saya mendengarkan suara Anda semua, kayaknya nyanyinya sungguh-sungguh. Sebagai menteri keuangan, saya tidak minta jiwa raga Anda, saya minta Anda bayar pajak!” Demikian kutipan pidato Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati di depan para bankir pada sebuah acara Ikatan Bankir Indonesia (IBI) di Jakarta, bulan lalu. Sekilas pidato itu biasa saja, malah terkesan agak jenaka. Namun, bila dirasa lebih mendalam, ucapan santun tersebut sungguh tajam menghunjam.

Tentu, itu hanya berlaku bagi mereka yang waras. Bahasa ekstremnya, pernyataan itu sama saja berkonotasi bahwa Anda (pihak dimaksud) hidup dan mencari makan di negara ini, tapi emoh memenuhi kewajiban. Bukan harus menyerahkan jiwa-raga seperti syair lagu gubahan Kusbini itu, melainkan taat membayar pajak. Itu saja. Dalam aspek moral, mereka yang mangkir dari keharusan menyetor pajak itu ialah orang-orang yang tidak tahu diri, tidak tahu malu.

Tanpa keraguan
Dalam dunia wayang, ada contoh tokoh yang tahu diri dan tahu malu terkait dengan apa yang harus dilakukan terhadap negara. Salah satunya ialah Bambang Aswatama. Konsistensi, integritas, dan dedikasinya sebagai seorang patriot dibuktikan hingga akhir hayat. Ia bukan berdarah Astina. Namun, karena menyadari bahwa dirinya makan dan hidup di negara itu, ia total menyerahkan jiwa-raganya bagi bumi Astina. Kisahnya itu terjadi ketika Astina di bawah kendali rezim Kurawa yang dipimpin Prabu Duryudana. Dalam seni pedalangan, Aswatama disebut anak tunggal pasangan Bambang Kumbayana alias Durna dengan Dewi Wilutama. Ia bergabung dalam barisan Keluarga Kurawa (putra-putri Drestarastra-Gendari) karena ayahnya, dari negeri Atasangin mengabdi di Astina. Di Astina Durna menjadi guru Kurawa serta menjabat paranpara dalam kabinet pemerintahan Duryudana.

Sejak dini, Aswatama tekun menimba ilmu kanuragan (kesaktian) dan berlatih taktik berkelahi dari ayahnya. Durna kondang sebagai begawan yang menguasai ilmu alus maupun kasar serta pakar dalam bidang strategi atau gelar pertempuran. Dari bapaknya itu, Aswatama mendapat warisan senjata ampuh cundhamanik. Dalam kesehariannya, Aswatama ialah pribadi pendiam. Ia tidak bergairah ngomong bila tidak diajak bicara. Perilakunya, jika dibandingkan dengan keluarga Kurawa, ia menonjol kesopanannya. Barangkali, itu merupakan sikap tahu diri bahwa keberadaannya di barisan Kurawa sesungguhnya memang menumpang.

Watak lain yang kental ialah tekun, rajin, dan disiplin. Karena itu, tidak aneh bila ia selalu cekatan dan trengginas melaksanakan tugas yang dibebankan di pundaknya. Baginya, tidak ada kata selain siap menuntaskan setiap perintah sang komandan, Patih Sengkuni. Misalnya, ketika menjelang budhalan keberangkatan barisan pasukan ke suatu tujuan, Aswatama selalu menjadi petugas terdepan untuk mempersiapkan segala sesuatu dan protokolernya. Dengan sigap, tanggung jawabnya itu ia kerjakan dengan penuh dedikasi. Sebagai prajurit, Aswatama seorang pemberani tulen. Tidak pernah takut berhadapan dengan siapa pun yang mengganggu atau memusuhi Kurawa.

Ia selalu tampil paling dulu menerjang lawan. Hidup-mati atau kalah-menang sudah tidak ada dalam kalkulasinya. Puncak pengabdian tulus Aswatama saat pecah Perang Bharatayuda, pertempuran saudara sepupu antara Kurawa dan Pandawa. Ketika Kurawa terdesak karena kehilangan senapati agung Karna Basusena, Aswatama berani menuduh mertua Duryudana, Prabu Salya, berpihak kepada Pandawa. Menurut Aswatama, ia menyampaikan secara terbuka dalam pasewakan yang dipimpin Duryudana dan dihadiri Salya, gugurnya Karna akibat perbuatan licik Salya yang menjadi kusirnya dalam perang menghadapi Arjuna yang dikusiri Prabu Kresna. Salya dianggap sengaja memosisikan Karna sebagai sasaran empuk panah pasopati yang dilepas Arjuna.

Karena itu, ia menyebut Salya sebagai mata-mata musuh. Namun, Aswatama patuh dan tunduk kepada Duryudana ketika ia dipersalahkan atas tuduhannya tersebut. Ia pun dengan berat hati keluar dari barisan Kurawa yang tersisa setelah ditundung minggat oleh Duryudana. Aswatama meninggalkan raja yang telah ia bela mati-matian itu dan kemudian menggelandang di hutan tanpa sanak kadang. Pupuskah jiwa pengabdian Aswatama? Tidak. Sumpahnya yang dulu terucap, yakni jiwa raganya untuk Kurawa, tidak luntur. Ia tetap menjadikan Pandawa dan semua keturunannya sebagai musuh utama. Sikapnya itu ia buktikan setelah Bharatayuda rampung. Ia melakukan perang gerilya ketika Pandawa boyongan ke Astina seusai memenangi Perang Bharatayuda.

Putra Abimanyu-Utari, Parikesit, dipersiapkan menggantikan uwaknya, Puntadewa, menjadi raja di Astina yang telah diubah namanya menjadi Yawastina. Saat itu Parikesit masih bayi. Dari persembunyiannya di belantara, Aswatama membuat terowongan ke jantung istana tempat peraduan Parikesit. Sebelum sampai target, ia mendapati Pancawala dan Drestajumna yang sedang tidur tidak berjauhan. Keduanya dihabisi tanpa perlawanan. Kemudian Srikandi, Sembadra, dan Larasati--istri-istri Arjuna-- yang sedang pulas, juga dibunuh. Lalu, sampailah ia di tempat Parikesit tidur. Tanpa pikir panjang, Aswatama mengayunkan cundhamanik. Tapi dalam sepersekian detik, kaki Parikesit refl eks memancal pasopati yang berada di sampingnya. Bagai kilat pasopati melesat dan menembus dada Aswatama sehingga ia tewas seketika di tempat.

Bukan pengecut
Itulah sekilas cerita tentang pengabdian Aswatama terhadap negara. Bukan hanya pada saat negara sedang membutuhkan, dalam kesehariannya pun ia tidak pernah bergeser dari jalurnya itu. Ia bukan tipe pengecut, yang hanya mau enaknya, tapi menghindari kewajiban. Ini paradoks dengan mereka yang disindir Menkeu tersebut. Orang-orang yang mengerti, tapi tidak peduli. Orangorang pintar dan berkecukupan, tapi tidak memiliki integritas. Warga negara model demikian itu sangat disayangkan. Ini senapas dengan ungkapan kearifan lokal kita, ucul saka kudangan, mrucut saka gendhongan. Sesungguhnya, membayar pajak merupakan kewajiban warga yang normal dan wajar. Itu bukan pengabdian luar biasa yang mengancam jiwa dan raga. Semoga tahun baru ini menjadi momentum penyadaran diri bahwa kita ialah warga negara yang memiliki kewajiban. Bukan sekumpulan orang yang hidup dan berlalu lalang di wilayah Nusantara tanpa entitas sebagai bangsa. (M-4)

Komentar