MI Muda

Bisnis Saya: Fesyen dan Properti

Ahad, 8 January 2017 01:00 WIB Penulis: Syifa Amelia Politeknik Negeri Jakarta muda@mediaindonesia.com

DOK PRIBADI

Bagaimana jika arsitek berbisnis baju? Hadirlah desain baju menyerupai denah bangunan dan permainan asimetris! Simak Obrolan Muda dengan Mesa Dekawati, sang pemilik merek Mesz.

Gimana sih awalnya kamu menggeluti dunia fesyen?
Berawal dari kebutuhan karena pas kuliah di arsitektur Unpar butuh banget uang lebih untuk menyelesaikan tugas-tugas, biayanya sangat mahal lo. Sebenarnya orangtua mampu banget, tapi karena aku memang anaknya tidak enak kalau minta uang, jadi memang kalo beli apa pun berusaha pakai uang sendiri.
Nah, aku juga suka bikin-bikin baju sendiri sampai akhirnya dapat ilham kenapa enggak jualan baju? Dari SMP aku sudah mulai jualan, mulai puding, baju bekas aneka makanan. Tiap istirahat keliling-keliling kelas jualan. Aku memutuskan fokus bikin merek MESZ. Di kampus, aku dibilang kupu-kupu alias kuliah pulang kuliah pulang. Sampe teman di arsitektur alias arsi, sering nyindir-nyindir, Mesa mah main terus, enggak pernah ikut himpunan. Padahal, sebenarnya aku ngurus brand Mesz ini. Langkah aku yang bikin brand baju, bukan kerja di bidang arsitek juga direspons macam-macam. Padahal, di samping aku jalanin Mesz, saat aku kuliah, aku sudah terjun di interior dan merenovasi rumah. Alhamdulillah sudah dikasih kepercayaan.

Wow, pencapaian kamu yang dirasa paling keren?
Mesz jalan beberapa bulan, alhamdulillah dapet respons positif dari konsumen. Aku bisa belanja peralatan kampus tanpa minta ke orangtua. Bayangin, semester akhir, aku ambil tugas akhir sekaligus skripsi, ngurus Mesz dan proyek interior. Alhamdulillah semua berjalan lancar. Skripsi aku A, TA aku B, Mesz pameran di mana-mana dan proyek aku selesai. Dengan doa dan kesa­baran semua pasti bisa dilalui. Sekarang, aku yang ngajak mereka bikin proyek atau mereka minta proyek ke aku.

Kunci kesuksesan kamu?
Mungkin aku memang tidak pintar, tapi percaya deh, dalam dunia yang sesungguhnya yang paling penting link dan bagaimana kita mengambil hati klien. Seberapa pintar pun kita jika tidak pandai bersosialisasi semua bakal percuma.

Upaya promosi untuk merek kamu?
Awal-awal branding aku cuma seadanya, seperti endorse dan pameran-pameran saja.

Bagaimana strategi kamu dalam menghadapi persaingan?
Wah sudah sangat banyak banget saing­an, tiap tahun ada brand baru. Cara agar bertahan, desain bajunya berbeda dengan brand lain, harus memiliki ciri khas dan update gaya-gaya terbaru.

Dalam menjalani bisnis, kamu dibantu siapa?
Papa, yang ngasih nama Mesz. Tiba-tiba papa nyeletuk Mesz, karena papa lucky-nya sangat besar maka aku ambil deh. Juga ada peran mama, dia sangat modis, suka bantu menentukan desain. Tujuan Mesz membuat yang muda menjadi dewasa dan yang tua menjadi terlihat muda. Maka, segmennya pas banget di kalangan aku dan mama. Jadi semua desain aku pilih sesuai dengan desain yang aku dan mamaku suka. Mama membuat aku sangat bersemangat jalanin Mesz.

Pernahkah kamu mengalami kegagalan?
Pernah kok, dulu sekali ikut pameran, sama sekali tidak ramai dan rugi, rugi sekitar Rp6 jutaan. Namun dari sana dapat hikmah harus lebih hati-hati lagi. Aku terus mencoba, mencoba, dan mencoba lagi.

Tantangan utama bisnis ini?
Konveksi karena dia enggak cuma menangani brand aku, jadi kadang-kadang suka lama dan modelnya ada yang sama.

Berapakah kisaran harga baju kamu dan omset per bulan?
Berkisar Rp200 ribu-Rp300 ribu, kalau omzet bisa sampai Rp90 juta-120 juta per bulan.

Jadi sekarang ini fokus kamu ke arsitektur atau clothing?
Aku masih ngerjain proyek kok, sekarang lagi bikin gugus perumahan. Cuma aku lebih senang di bisnis baju karena hobi. Kalau kamu suka sama apa yang kamu kerjain, pasti tidak akan ngerasa terbebani. Dagang juga hobi aku. Seneng banget bisa lihat konsumen pakai baju yang kita bikin dan memang uangnya lebih cepat mengalir.

Apakah ada keterkaitan antara arsitektur dan bisnis kamu?
Ada dong, sama-sama ngedesain. Di koleksi pertama Mesz, ada baju yang aku desain dari denah tugas arsitektur. Bentuk polanya aku ikuti seperti desain bangunan, makanya dari situ aku suka bikin baju yang modelnya miring-miring, seperti pola bangunan.

Dari mana kamu dapat inspirasi membuat desain-desain baju?
Kita tidak bakal bisa lepas dari yang namanya referensi. Nah, dari referensi itu bisa kita ulik dan inovasikan sendiri mengikuti tren dan kesukaan aku.

Apa yang membuat karya kamu berbeda?
Bentuk asimetris pada setiap baju, tidak ada yang simpel. Ada yang panjang sebelah, tangannya buntung sebelah, mungkin bisa dibilang gila kali ya! Tapi Alhamdulillah dapet respons baik. Aku meyakini, apa yang aku suka untuk dipakai, pasti bakal ada orang di dunia ini yang seleranya sama seperti aku.

Pencapaian bisnis kamu?
Alhamdulillah Mesz bisa mengikuti bazar terkenal, contohnya Market Museum, Localfest, Trademark dan lain-lain. Mesz sudah mulai dikenal di kalangan artis seperti Fitri Tropica, Ikke Nurjanah, Indy Barends, BLINK, dan banyak lainnya.

Agenda lainnya?
Kolaborasi sama artis, tunggu tanggal mainnya ya. Stay tuned terus Instagram kita di @mesz_id. Aku juga akan terus melanjutkan bisnis ini sekaligus arsitek. Mesz insya Allah akan terus berjalan sampai generasi di bawahku dan proyek arsiteknya terus berlanjut untuk tabungan masa depan. (M-1)

Komentar