Jendela Buku

Dari Terkutuk Menjadi Teberkati

Ahad, 8 January 2017 00:40 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi. abdizuqi@mediaindonesia.com

Dok MI

ADA anggapan kemakmuran suatu daerah ditentukan sumber daya alam yang dimilikinya. Bagaimana jika suatu daerah tidak punya sumber daya alam sama sekali? Apakah hasilnya selalu keterpurukan dan kemiskinan? Lalu bagaimana dengan daerah yang banyak menyimpan sumber daya alam dalam dirinya? Apakah secara langsung itu akan membawa kemakmuran bagi penduduknya? Sumber daya alam seperti minyak, gas, emas, batubara, semestinya membuat sebuah daerah menjadi kaya. Namun, perhitungan di atas kertas berbeda dengan fakta. Sejarah dunia mencatat negara-negara yang kaya minyak Justru dikenai sebagai negara yang miskin dan penuh aroma konflik, misalnya Venezuela dan Nigeria.

Di sisi lain muncul pula pandang­an kemakmuran itu ditentukan sumber daya manusia yang menge­lolanya. Namun pandangan yang terakhir ini lebih mendekati titik persetujuan. Itulah yang hendak diungkap dalam buku Curse to Blessing; Transformasi Bojonegoro Melawan Kutukan Alam karya Rhenald Kasali yang diterbitkan Penerbit Mizan. Mengawali pembahasan, Rhenald membawa ingatan tentang film Blood Diamond. Film produksi 2016 itu berlatar negara-negara di Afrika Liberia, Sierra Lione, dan Afrika Selatan. Negara itu dikenal dengan kekayaan barang tambang, tapi akrab dengan perang saudara dan konflik. Pada 1972, berlian seberat 969,8 karat ditemukan di Sierra Lione. Namun berlian itu tidak menjadi lumbung kesejahteraan bagi rakyat, tetapi menjadi sumber pende­ritaan tidak ada habisnya. Penggunaannya bukan untuk meningkatkan kualitas hidup rakyat, melainkan dijadikan komoditas yang diperdagangkan untuk membiayai parang saudara.

Inilah contoh ketika kekayaan alam bukan menjadi berkah, malah manjelma menjadi kutukan. Dengan kisah dan skala berbeda, contoh itu bisa didapati di provinsi Papua, ataupun Kalimantan. Ketika kekayaan sumber daya alam habis, yang tersisa hanyalah puing-puing dan kenangan. Tidak lagi tersisa kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyatnya. Di sisi lain, ternyata ada banyak negara yang tak mempunyai sumber daya alam apa pun tapi menjadi kaya. Sebut saja Jepang, Korea. Singapura, dan Israel. Mereka itulah negara-negara yang tidak punya sumber daya alam, tapi bisa mengelola daerah sedemikian rupa. Mi­­­nim­nya kekayaan alam tidak menjadi kendala untuk menjadi kaya. Pada akhirnya, kesimpulan yang didapat sebuah daerah kaya bisa hidup dalam keterbelakangan dan kemiskinan. Itulah paradox of plenty (Bab 1).

Transformasi Bojonegoro
Lalu bagaimana dengan Bojonegoro? Sejak masa kolonial Belanda, Bojonegoro telah termasyhur karena kemiskinannya. Sampai-sampai CLM Penders, sejarawan Australia, menyebutnya sebagai endemic poverty. Permasalahan Bojonegoro begitu kompleks. Mulai kontur tanahnya yang labil hingga banjir dan kekeringan yang silih berganti. Namun, belum lama ini Bojonegoro mendapat berkah. Tanahnya menyimpan potensi migas yang besar, jika tidak diolah dengan baik, berkah itu bisa menjelma musibah. Untunglah, masyarakat Bojonegoro tidak terbuai oleh konsep anugerah. Kini, pendapatan migas disisihkan untuk dana abadi dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Kondisi ini tentunya tidak terjadi dengan tiba-tiba. Ada faktor leadership yang mampu membawa masyarakat pada konsep perjuang­an. Transformasi Bojonegoro lahir dari terobosan-terobosan pimpinannya yang asertif, inovatif, dan berani menantang arus.

Dalam bab selanjutnya, penulis mulai memaparkan faktor kepemimpinan berperan vital dalam transformasi Bojonegoro. Bupati Bojonegoro Suyoto, yang akrab disapa Kang Yoto, menjadi kunci dalam menggerakkan Bojonegoro menuju kabupaten yang teberkati dengan kandungan migas, bukan malah menjadi kabupaten yang terkutuk. Penulis membahas itu dalam 12 Bab dari total 13 Bab. Usai mengupas konsep buku di bab pertama, pembaca akan diajak untuk meninjau bab selanjutnya berjudul Bojonegoro’s Miracles: Konsep Perjuangan (Bab 2). Bab ini membahas konsep perjuang­an Kang Yoto untuk menyadarkan masyarakatnya tentang budaya. Pertama, menanamkan konsep -Jer Karta Raharja Mawa Karya- bahwa siapa hendak kaya dan makmur maka haruslah dengan berkarya. Kedua, kekayaan migas tidak akan membawa dampak positif jika tidak berpikir jauh ke depan. Sebab itu bersifat terbatas dan akan habis pada waktunya.

Bab selanjutnya, penulis pun menuju hal yang lebih detail dengan kepemimpinan Kang Yoto yang mentransformasi masyarakat Bojonegoro. Mental Pengusaha ke Pelayan (Bab 3). Distruptif Birokrasi: Break The Great Wall (Bab 4), Transformasi Komunal ke Publik: Membasmi Kutu 77 (Bab 5), Pendekatan Bahasa Masyarakat; Semakin Dekat Semakin Rekat (Bab 6), No One Left Behind (Bab 7), Keluar dari Lingkaran Kemiskinan (Bab 8), Hidup Harmonis dengan Korporasi (Bab 9), Harmonisasi Antarlini: Team Player (Bab 10), Mengajak Masuk Korporasi (Bab 11), Leading with Philosophy (Bab 12), Menampung Air Membangun Pacal: Epilog (Bab 13).

Lembaran sebanyak 223 halaman dalam buku ini berkisah tentang Bojonegoro yang bergulir dari kemiskinan parah, lalu sejahtera. Yang lebih penting bagaimana untuk mempertahankan kesejahteraan itu. Perjuangan yang tentu tak lazim. Sebab bukan dari titik nol ataupun minus, tetapi justru dimulai ketika sebuah ujian kesejahteraan datang menghampiri secara mendadak. Pada akhirnya, kutipan awal dari buku ini serasa mampu menjadi landasan konsep dari seluruh pembahasan. Seperti dinyatakan Rhenald, Bojonegoro maju, bukan kekayaan alam. Namun, ada inovasi, ada kreativitas, dan ada kegigihan untuk membuat suatu daerah menjadi produktif. Kunci dari semua itu terletak di pemimpinnya, lewat leadership yang mumpuni. “Tentu saja adanya mekanisme yang memungkinkan orang-orang terbaik terpilih sebagai pemimpin. Kedua, adanya kekuatan leadership yang memungkinkan seseorang menjalani misinya, yaitu perubahan.” (Hal 3) (M-2)

Komentar