KICK ANDY

Prestasi Manis dari Suara Merdu

Sabtu, 7 January 2017 03:35 WIB Penulis: Fario Untung Tanu

MI/SUMARYANTO

Harmonisasi suara dan kerja keras mereka menuai hasil memukau. Penghargaan di dunia internasional berhasil ditorehkan mereka.

BAGI mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) yang memiliki minat dan bakat seni olah vokal, menjadi bagian dari Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Agria Swara IPB menjadi impian.

Organisasi ini berawal dari unit kerja mahasiswa baru yang mencintai kegiatan tarik suara pada 1986. Tak disangka, kelompok ini mendapat perhatian banyak mahasiswa hingga dibentuk menjadi unit kerja mahasiswa tersendiri.

Kerja keras mereka ternyata menuai apresiasi, termasuk dari IPB. Pada 1993 akhirnya unit kerja mahasiswa itu berubah nama menjadi PSM Agria Swara IPB. Selama 31 tahun berjalan, PSM Agria Swara IPB berhasil meraih banyak penghargaan dari dalam dan luar negeri.

Semua prestasi itu tidak lepas dari gemblengan konduktor muda berbakat Arvin Zeinullah, serta pembina Agus Lelana. Prestasi terakhir mereka ialah menjadi juara pertama di ajang The 4th City of Derry International Choral Festival, Northern Ireland tahun 2016.

Menariknya guna ikut lomba di Derry, para anggota yang mencapai 300 mahasiswa itu mengumpulkan dana sendiri sebesar Rp1,2 miliar. Jumlah itu cukup besar bagi unit kerja mahasiswa.

"Iya memang betul, biaya keseluruhan untuk bisa mengikuti kejuaran itu angkanya cukup besar, yakni mencapai 1,2 miliar. Namun, yang baru kekumpul saat itu cuma ada 5 juta saja," kenang Giri Rizki Riyadi, perwakilan PSM Agria Swara IPB.

Demi mengumpulkan dana, mereka tidak ragu berjualan bakpao, pernak-pernik PSM Agria Swara IPB, menggandeng alumni untuk donasi, hingga mengambil job menyanyi. Akhirnya setelah enam bulan, akhirnya dana tersebut terkumpul juga. "Sebelumnya sudah banyak alumni IPB yang membantu berbagai kegiatan kemahasiswaan. Namun, saya akui baru tahun ini para alumnus memberi dukungan secara total," ucapnya.

"Kita jualan saja ke mahasiswa lain. Mulai dari jualan lumpia, risoles, dan minuman. Jadi, setiap hari itu yang mendapat tugas jualan harus bisa menjual satu kotak dan harus habis, bagaimanapun caranya," sambung rekannya Daniel Pardomuan.

Demi berhemat, selama di Irlandia mereka memasak sendiri. Selain itu, mereka membawa bahan makanan dari Indonesia.

Bantuan pihak luar

Tanya hanya uang, banyak pihak yang turut membantu, termasuk alumni IPB Chandra Wibowo yang membantu dengan berbagai cara dan mengorganisasi pengumpulan dana. Salah satu usulannya ialah pertunjukan prakonser, yakni uang hasil penjualan tiket untuk modal ke Irlandia.

"Pertama Giri bilang ke saya tiketnya dijual Rp100 ribu saja, tetapi saya bilang kalau harga segitu kapan terkumpulnya. Jadi, kalau tidak salah saya waktu itu jual sekitar Rp250 ribu atau Rp300 ribu hingga uang tiket yang terkumpul mencapai Rp250 juta," tutur Chandra. Selain itu, Chandra meminta teman lainnya mendesain kostum bagi 45 anggota paduan suara. Mendesain dan membuat kostum sendiri dapat menekan anggaran.

"Kebetulan saya juga ada kenalan desainer. Jadi, saya mintakan saja desainkan dan buat kostum dengan harga yang sangat miring," sambungnya.

Di samping itu, sosok musikus Viky Sianipar yang turun membantu. Viky berpartisipasi mengaransemen musik yang hendak dipertandingkan. "Karena saya pernah diposisi mereka, meniti karier dari awal yang tidak punya apa-apa. Ketika saya sudah sampai seperti ini, kenapa saya harus melupakan yang dulu itu, jadi saya harus membantu mereka," tutur Viky.

Toleransi

Salah satu perwakilan anggota PSM Agria Swara IPB, Dini fitriyanti, mengaku mendapatkan banyak pengalaman berharga selama bergabung dalam kelompok paduan suara di kampusnya itu. Sebanyak empat kali Dini mengikuti kompetisi di level internasional.

"Alhamdulillah ini yang sudah keempat kalinya. Pertama itu tahun 2012 ke Finlandia, kedua tahun 2014 saya ke Swiss dan Irlandia, kemudian 2015 ke Belgia dan Belanda serta tahun ini diberikan lagi kesempatan kembali ke Irlandia," tuturnya.

Perempuan berhijab itu mendapatkan banyak pengalaman berharga selama mengikuti kompetisi di Irlandia Utara. Menurutnya, saat itu dirinya bersama anggota kelompok yang kesemuanya juga menggunakan hijab diharuskan mengikuti perlombaan di gereja.

"Saya juga berpikir waktu itu apakah boleh mengikuti perlombaan dengan kostum seperti ini. Ternyata mereka sangatlah tidak mempermasalahkan hal tersebut dan sangat toleransi," kenang Dini.

Baginya, kebanyakan orang di Eropa tidak mempermasalahkan perbedaan agama, terlebih dalam dunia musik. Yang mereka apresiasi ialah karya dari musik itu sendiri. Bagi mereka kebanyakan, musik ialah sesuatu hal yang tak bisa dikaitkan dengan apa pun, termasuk agama. "Bagi mereka, musik itu ialah musik yang tidak perlu dan tidak dapat dipengaruhi oleh apa pun, termasuk itu perbedaan agama, kepercayaan, ras, dan apa pun itu," pungkasnya. (M-4)

Komentar