Eksplorasi

Polutan Kimia Ancam Keberadaan Beruang Kutub

Sabtu, 7 January 2017 08:25 WIB Penulis: Zic/Hnf

AFP

TIDAK beruntung, itu mungkin kata-kata yang tepat dalam mendeskripsikan kehidupan kawanan beruang kutub dalam beberapa dekade belakangan. Survei baru-baru ini menyimpulkan total populasi beruang kutub diperkirakan sekitar 26 ribu ekor, menurun sepertiga dalam waktu setengah abad.

Tidak sedikit ancaman yang menyerang kehidupan hewan karnivora raksasa berbulu putih itu. Dua ancaman utama yang masih mereka hadapi hingga saat ini yaitu mencairnya es laut (sea ice) yang mengganggu aktivitas perburuan anjing laut sebagai sumber makanan dan naiknya suhu rata-rata arktik dua kali lebih cepat karena pemanasan global.

Selain dua ancaman besar di atas, baru-baru ini tim ahli toksikologi menemukan sebuah ancaman masif yang mengancam kehidupan beruang kutub. Studi yang dimuat dalam jurnal Environmental Toxicology and Chemistry baru-baru ini memaparkan beruang kutub sedang menghadapi risiko ancaman keracunan bahan kimia sebanyak 100 kali di atas tingkat yang dianggap aman untuk kategori beruang kutub dewasa. Lebih ironis, terdapat ancaman yang lebih besar kepada anak-anak beruang kutub untuk dapat terkontaminasi racun lebih besar atau seribu kali lipat melalui konsumsi susu pada induknya. Sara Villa, ketua tim peneliti yang juga ahli toksikologi dari University of Milao Bicoca, Italia, mengatakan penelitian yang mereka lakukan merupakan studi pertama yang dikhususkan untuk mengukur risiko pencemar organik yang persisten (persistent organic pollutants/POPs) secara keseluruhan terhadap ekosistem di Arktik.

POPs merupakan bahan kimia yang mudah menyebar yang dapat bertahan dalam lingkungan alam selama puluhan tahun dan menjadi lebih terkonsentrasi karena dapat bergerak ke atas rantai makanan. Dalam riset yang telah berjalan selama 40 tahun itu, Villa dan timnya menganalisis secara terperinci tentang hubungan dari rantai makanan beruang kutub, yakni anjing laut dan ikan kod arktik, dengan senyawa kimia yang mematikan tersebut. Data yang terpapar dalam studi mereka mencakup rantai makanan beruang yang hidup antara wilayah Alaska dan Kepulauan Svalbard di atas Skandinavia, atau lebih dikenal dengan populasi di Arktik Rusia. Dalam penelitiannya, mulai dari plankton, ikan, dan beruang kutub, senyawa POPs terbukti terakumulasi ke dalam dosis yang beracun.

Dalam tulisan studi tersebut, para peneliti kerap menyoroti ancaman pengontaminasian dari senyawa kimia terhadap ekosistem arktik. Mereka mengatakan dari 1970-an hingga 1990-an pernah terdapat bahan kimia industri (polychlorinated biphenyls/ PCBs) yang mengontaminasi tinggi mamalia di arktik. Kini, konsentrasi PCBs telah berkurang, tetapi studi menemukan keluarga baru dari senyawa polutan tersebut telah menggantikannya dan memiliki efek yang sangat beracun.

Senyawa kimia yang sangat beracun tersebut dikenal dengan nama perfluorooctane sulfonate (PFO). Berdasarkan hasil penelitian timnya, konsentrasi PFO pada beruang kutub sangat tinggi, seratus kali lebih banyak daripada konsentrasi PFO pada anjing laut. Pada saat yang sama, ketika beruang memangsa dan memakan anjing laut yang terkontaminasi, konsentrasi racun akan meningkat sebanyak 34 kali lipat.

Salah seorang peneliti Marco Vighi menyarankan untuk melakukan tindakan fundamental dalam mengendalikan senyawa-senyawa kimia baru yang dapat mengurangi risiko kontaminasi ekosistem arktik, terutama terhadap beruang kutub. Ia mengatakan tindakan seperti itu harus dilakukan secara efektif dan melibatkan elemen internasional. (AFP/Zic/Hnf/L-2)

Komentar