Inspirasi

Menyasar Pasar dengan Edukasi Soal Efisiensi

Senin, 2 January 2017 00:00 WIB Penulis: Fetry Wuryasti

ADAM DWI

PERTUMBUHAN kelas menengah di antara populasi yang besar telah menjadikan Indonesia sebagai pasar potensial bagi produk manufaktur global.

Antusiasme masyarakat untuk memiliki kendaraan roda empat yang tidak sekadar pada aspek fungsional, tetapi juga masih menjadikannya sebagai simbol kemakmuran dan status sosial merupakan peluang besar bagi industri pendukung seperti produsen mesin dan teknologi pengecatan mobil.

Meski baru memulai bisnis secara langsung di Indonesia sejak 2014, PT Drr Systems Indonesia, produsen mesin dan teknologi pengecatan mobil asal Jerman melihat potensi yang positif akan industri manufaktur.

"Drr merupakan perusahaan yang berlisensi di Jerman lebih dari 100 tahun. Sebenarnya ada lima bidang yang kami kuasai, woodworking machinery, clean air technology system, paint and final assembly system, application technology, measuring and process system. Tetapi yang utama memang pengecatan untuk otomotif dengan kontribusi 40% dari semuanya," ujar Managing Director PT Drr Systems Indonesia, John Lim, di kantornya, di Jakarta, awal Desember 2016.

Di dunia, kata John, Drr memang market leader untuk industri pengecatan otomotif, dengan 52 lokasi di 32 negara.

Tetapi, di Asia, operasional mereka masih baru, hanya Malaysia, Thailand, dan yang terbaru di Indonesia sejak 2014.

Bisnis ini kini bertumpu pada emerging market atau negara-negara dengan atau bisnis kegiatan sosial dalam proses yang cepat pertumbuhan dan industrialisasi seperti pasar Asia Tenggara.

Fokus Indonesia ditetapkan dengan alasan populasi yang ramai, dan dari segi rasio kepemilikan kendaraan kepada populasi masih besar.

Dari ketiga negara ini pula seluruh proyek di Asia Tenggara akan ditangani.

"Justru itu kami dirikan perusahaan sendiri di sini, sebagai sistem engineering company, untuk sales, marketing, and after sales."

Pada sejarahnya, Drr sebetulnya telah masuk pasar Indonesia sejak tahun 70-an karena melalui pabrik besar seperti Gaya Motor, Astra Motor, Hyundai, dan sebagainya.

Tapi saat itu, semua masih diimpor langsung dari Jerman tidak ada operasional sendiri.

"Sekarang kami fokus memperluas basis konsumen dengan mendirikan perusahaan sendiri di sini. Jadi untuk organisasi indoensia memang baru. Tetapi, awareness dan referensi di Indonesia sejak tahun 1970-an," urainya.

Tentu hal ini juga dapat menekan biaya.

John sadar sebaran pasar Drr di Indonesia tidak sekadar biaya, melainkan juga edukasi mengenai penurunan biaya tidak semestinya berasal dari harga jualan mesin murah. Konsumen harus melihat dari perspektif efesiensi dan performa karena itu biaya sebenarnya dalam jangka panjang.

"Tiap mobil yang diproduksi akan memakan cost. Dengan teknologi pengecatan kami, bisa dihemat 5%-10% di setiap unit mobil. Teknologi akan memberi dampak penurunan cost. Tetapi, teknologi tidak boleh murah," katanya.

Sistem teknologi yang mereka tawarkan tidak lain berupa komponen teknologi yang diinstal pada mesin robotik untuk menyemburkan cat pada lapis kedua-keempat, untuk mengemas pengecatan dengan robot penyembur ini membuat hasil halus dan merata dengan sekali proses.

"Penurunan cost terjadi pada jumlah cat yang harus dibelanjakan untuk menyempurnakan warna mobil dengan halus. Daripada aturan manual, teknologi ini 40% lebih menghemat material dan juga mengurangi sisa toxic udara. Jika dibandingkan dengan teknologi lama dengan tipe otometik, penghematan terjadi sebesar 10%-15%. Biasanya kalau teknologi kurang, warna mobil menjadi tidak halus, dan harus diperbaiki kembali. Tentu teknologi robotic ini akan menghemat waktu, manpower, dan material," tuturnya.

Perkembangan inovasi teknologi mesin cat Drr yang tidak sebatas menyasar komponen manufaktur untuk otomotif mobil, tetapi juga pada otomotif sepeda motor,dan komersial seperti pada mesin pertanian dan projek terbaru mereka pada badan lokomotif kereta di Jepang.

Untuk di Indonesia potensinya pada mobil pribadi dan kendaraan komersial.

Walaupun ekonomi sedang melambat, dia tetap optimistis terhadap potensi otomotif di Indonesia, terutama dengan potensi tersembunyi yaitu sektor komersial dan pembuat komponen mesin.

Sehingga mereka menawarkan produk yang bisa dipakai dari industri skala kecil dengan mesin manual, hingga industri besar yang otomatis sepenuhnya.

Mesin-mesin untuk single operasional oleh industri kecil dijual sekitar US$50 ribu ke atas.

Sedangkan robotic painting sistem dimulai dari US$400 ribu.

Potensi menjadi hub ekspor

Selain menjabat pucuk pimpinan di Drr Indonesia, John juga memegang area Malaysia.

Dalam pengamatannya, pasar pertumbuhan mobil di Indonesia dan Malaysia tidak berbeda.

Hal ini karena volume konsumsi domestik di sana mengalami stagnan.

Meskipun tingkat pendapatan pekerja tinggi dengan pendapatan per kapita mereka jauh lebih tinggi yaitu US$9 ribu per tahun dibanding Indonesia yang hanya US$3 ribu-US$5 ribu.

Tetapi, volume konsumsi di Malaysia rendah karena mereka sudah masyarakat dalam spending level yang mature.

Orang Indonesia berganti mobil tiap lima hingga tujuh tahun sekali, di Malaysia tiap 3 tahun.

Ini berarti volume konsumsi domestik sama saja untuk mereka karena di sana tidak ada ekspor.

Sehingga hanya terjadi replacement market oleh kelompok masyarakat yang sama, yaitu 10%-15% orang berpenghasilan tertinggi.

Sedangkan Indonesia, potensi konsumsi domestik sangat kuat dan proses tersebut masih terus dibangun di tengah pasar besar ini belum termasuk potensi untuk menjadi pemasok bagi pasar ekspor.

"Dari segi biaya, Indonesia masih lebih rendah daripada Malaysia. Saya yakin kegiatan ekspor di sini lebih baik. Saya bahkan berani mengatakan Indonesia adalah kandidat yang sangat baik untuk menjadi hub kegiatan ekspor," paparnya.

Karena punya domestik market yang kuat dan relatif belum banyak basis manufaktur.

Dalam skala ekonomi, ditambah ke depan, pihaknya memprediksi akan terjadi pemulihan ekonomi di Indonesia.

Oleh karena itu, pelaku usaha harus lebih familiar dan berani membuat keputusan membuat operasional sektor manufaktur di sini, mempelajari budaya Indonesia, kebijakan dan aturan, untuk kemudian menyusun strategi bisnis mereka.

"Itu alasan kami di sini. Topik ini sudah bertahun-tahun dibahas, dan sesuai perkiraan kami, mungkin memang waktunya saja yang mundur, mengingat keadaan ekonomi global yang melambat. Tetapi, lebih baik kami mengambil kesempatan ini daripada terlambat, dan memulainya dengan memperkuat SDM, transfer teknologi, dan pengetahuan," ujarnya.

Harapannya nanti akan ada insinyur atau spesialis dari Indonesia di perusahaan Drr yang bisa diekspor, tidak lagi mengimpor tenaga ahli.

Upaya tersebut baru akan mereka mulai dengan mengirim dua staff untuk pelatihan tenaga ahli di Jerman pada bulan Januari.

Bagi perusahaan, itu merupakan investasi, dan mereka bersedia membiayai pelatihannya.

"Pekerja Indonesia fleksibel, dengan biaya yang kompetitif sehingga potensinya baik untuk kesempatan menjadikan Indonesia hub ekspor. Bagaimanapun Indonesia merupakan pasar besar di Asia Tenggara,"

Hasrat dan minat

Ketertarikan John pada industri otomotif rupanya sudah mulai saat dia kanak-kanak.

Namun, pria kelahiran 1976 ini mengaku sewaktu muda tidak tahu ingin kuliah di jurusan apa, sehingga akhirnya dia menyelesaikan pendidikannya di jurusan ekonomi.

Akan tetapi, minatnya terhadap industri otomotif khususnya mobil tidak hilang.

"Kala itu saya memilih kuliah ekonomi karena tidak tahu ingin memilih apa. Pada akhirnya, setelah lulus dan bekerja, kemudian saya resign dari bank dan terjun ke dunia industri. Saya memulai dari bidang kontrol umum, lalu instrumen teknologi, dan lanjut di otomotif sejak 1996."

Bagi John, pekerjaan harus dilakukan berdasarkan hasrat dan minat.

Kebiasaan harus bertanggung jawab atas mobil ayahnya yaitu mencuci, perbaiki mesin, dan menyervis mobil, tanpa sadar semakin menggali keingintahuan John akan hal berbau mekanik.

"Saya mencintai apa yang saya lakukan. Saya suka mekanik, mobil, bermain warna, menanyakan alasan-alasan ketika suatu masalah sukar diselesaikan, itu yang membuat saya berlanjut sampai hari ini. Mobil bagi saya sesuatu yang dapat dinikmati, relevan ke mana pun pergi dan berdampak pada kehidupan," katanya.

Tidak hanya menyetir, mobil masih memagang peran penunjang utama dalam bekerja bekerja, melakukan bisnis memantau situasi, mencari jalan, bahkan mobil kini sudah bisa berjalan otomatis membuat pengemudi bisa bekerja ke mana saja dari dalam mobil.

Namun, bekerja di Indonesia diakuinya tidak semudah yang terlihat, terutama mengenai mengedukasi dan efisiensi waktu.

Sebab, Indonesia belum matang untuk sektor manufaktur.

"Kemacetan jalanan membuat saya hanya bisa mengunjungi dua site pabrik dalam sehari. Sebab jangka waktu setengah hari hanya dihabiskan di jalan. Sampai akhirnya tahun depan saya berniat membuat jam kerja yang fleksibel bagi karyawan. Lebih baik mereka langsung ke pabrik-pabrik mobil dari rumah daripada harus mampir ke kantor untuk absen. Sebagai gantinya, saya yang akan berkeliling bila perlu diskusi tatap mata," tukas John. (E-3)

Biodata

Nama: John Lim

Usia: 40 tahun

Pendidikan: Sarjana oemasaran, London School Of Economics, Inggris,

Karier: 2014-sekarang: Managing Director PT Drr Systems Indonesia dan Drr Systems (Malaysia) Sdn Bhd.

Komentar