Weekend

Ritual Adat Sambut Pergantian Tahun

Sabtu, 31 December 2016 03:15 WIB Penulis: Surya Sriyanti

DOK HUMAS KABUPATEN JATIWARINGIN KALIMANTAN

SETIAP daerah memiliki tradisi menyambut pergantian tahun. Salah satunya yang dilakukan masyarakat suku Dayak beragama Hindu Kaharingan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Untuk menyambut Tahun Baru 2017, mereka menggelar ritual adat Ma'Mapas Lewu, Ma'arak Sahur, dan Palus Mangantung Sahur Lewu untuk menyambut Tahun Baru 2017. Ritual adat itu digelar bersama Pemerintah Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

"Rangkaian upacara menyongsong 2017 sebagai upaya membersihkan diri dari segala bentuk perasaan yang mengotori hati dan pikiran," kata Ketua Majelis Dayak Agama Hindu Kaharingan Kota, Parada, di Palangkaraya, seperti dikutip Antara, Jumat (30/12).

Ritual adat setiap menjelang pergantian tahun ini digelar selama tiga hari yang dimulai kemarin hingga Minggu (1/1).

Ritual Ma'mapas Lewu memiliki arti membersihkan wilayah dari pengaruh perbuatan buruk atau jahat baik yang dilakukan oleh manusia dan roh jahat.

Kemudian ritual Ma'arak Sahur sebagai ungkapan syukur kepada Yang Mahakuasa, Sahur Parapah, Antang Patahu dan leluhur Kalimantan Tengah yang selama 2016 telah memberikan perlindungan, kesehatan, dan kekuatan sehingga masyarakat Kota Cantik ini mampu melewatinya dengan baik.

Sementara Mangantung Sahur Lewu sebagai permohonan kepada Yang Mahakuasa, Sahur Parapah, Antang Patahu serta leluhur Kalimantan Tengah agar Palangkaraya selalu dijaga dan dilindungi.

"Dilindungi di sini memiliki arti terhindar dari hal-hal yang buruk, baik yang dilakukan oleh manusia maupun oleh roh-roh jahat," tambah Parada.

Wali Kota Palangka Raya Riban Satia saat membuka acara itu secara resmi meminta agar berbagai upacara adat yang berada di ibu kota Provinsi Kalteng dapat terus dilestarikan sehingga tidak hilang ditelan kemajuan zaman.

Pihaknya mendukung penuh setiap pelaksanaan adat agar budaya dan kearifan masyarakat lokal terus lestari.

"Harapan kita selain menjaga budaya tetap terjaga juga mampu menambah kunjungan wisatawan yang ingin menyaksikan keragaman budaya, adat, dan kearifan masyarakat Palangkaraya," kata Riban.

Dia pun meminta Disdikbud selaku unsur pemerintah yang bertanggung jawab untuk bidang budaya semakin mempromosikan berbagai agenda budaya sehingga dapat menarik kedatangan wisatawan lokal maupun domestik.

Pertunjukan budaya

Keraton Kasepuhan dan Badan Pengelola Taman Air Goa Sunyaragi (BPTAGS) Cirebon akan menggelar Warsa Enggal 2017.

"Warsa Enggal 2017 digelar di panggung pagelaran Taman Air Goa Sunyaragi," ujar Kepala Bagian Humas BPTAGS Eko Ardi di Cirebon, Jawa Barat, kemarin.

Enggal yang sudah tiga kali digelar setiap malam pergantian tahun akan menampilkan sejumlah kesenian tradisional.

Di antaranya tari Rampak Topeng Panji, Rampak Topeng Klana serta Sendratari Palagan Nyi Mas Gandasari.

Selain itu, ada penampilkan percussion show, parade pakaian adat Cirebon dan show artis tembang pantura.

"Pertunjukan akan dimulai pukul 19.30 WIB," kata Eko.

Selanjutnya di akhir acara, juga akan dilakukan Pembukaan Festival Keraton Nusantara (FKN) XI oleh Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat yang digelar di Cirebon.

Pada acara itu, 1.001 lampion dan 1.438 balon akan diterbangkan ke udara.

"Penerbangan lampion dan balon diiringi dengan selawatan bersama 100 santri dan genjring," kata Eko. Selanjutnya acara ditutup dengan pesta kembang.

Di sisi lain, Pemerintah Kota Cirebon akan menggelar doa dan selawatan di alun-alun Kejaksan, Kota Cirebon.

"Acara itu sebagai renungan dan sarana instropeksi diri agar kita menjadi manusia yang lebih baik lagi di tahun depan," ujar Wali Kota Cirebon Nasrudin Azis.

Dari Jawa Timur, perayaan pergantian tahun baru akan diisi dengan doa bersama dengan menampilkan 5.000 pemain hadrah dari berbagai daerah di Jatim.

"Hadrah sengaja didatangkan untuk mengubah citra pesta tahun baru dari hura-hura menjadi doa bersama," kata Kepala Biro Administrasi Umum Setdaprov Jawa Timur Hizbul Wathan di Surabaya, kemarin.

Hadrah yang ditampilkan nanti, menurutnya, akan memainkan musik Selawat Nabi serta musik rohani lebih islami.

Hadrah yang akan didatangkan merupakan gabungan dari hadrah dari seluruh wilayah Jawa Timur yang tergabung dalam Ishari (Ikatan Seni Hadrah Indonesia).

Sebuah panggung raksasa berukuran 20x100 meter juga akan didirikan tepat di Jalan Pahlawan depan Kantor Gubernur Jawa Timur. (UL/BB/FL/S-1)

Komentar