KICK ANDY

Mendobrak Tradisi

Sabtu, 31 December 2016 00:30 WIB Penulis: Fario Untung Tanu

MI/Sumaryanto

MENGUBAH kebiasaan sebuah masyarakat bukan perkara mudah.

Apalagi selama berpuluh-puluh tahun mereka terbiasa dengan berbagai ritual.

Itu yang dialami bidan Meiriyastuti.

Bidan itu mendedikasikan dirinya guna memperbaiki status kesehatan ibu dan anak di Desa Teriti, tepian Sungai Batang Hari, Jambi.

Tidak mudah bagi Meiriyastuti untuk mengubah tradisi. Apalagi masyarakat adat di Desa Teriti lebih percaya dukun daripada tenaga medis.

Banyak ritual adat seusai persalinan yang dapat dikikis bidan Meiriyastuti, di antaranya kebiasaan memotong tali pusar bayi menggunakan sebilah bambu dan uang logam.

Pasalnya secara kesehatan, hal itu bisa mengakibatkan penyakit tetanus.

Kebiasaan lainnya ialah nyembur ke aye, yakni memandikan bayi menggunakan air kembang di Sungai Batang Hari.

Akibatnya, bayi mengalami hipotermia.

Ada juga kebiasaan ibu selama 40 hari seusai melahirkan yang hanya boleh mengonsumsi nasi putih dengan kecap asin.

Jika ibu makan sayur dan ikan, bayi akan sakit seusai minum air susu ibu (ASI).

Perlahan, sejumlah kebiasaan itu bisa dikikis berkat upayanya selama 11 bulan.

Usaha keras Meiriyastuti disambut baik Emi Nurjasmi, Ketua Umum Ikatan Bidan Indonesia (IBI).

Pasalnya tak mudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang sudah sangat percaya dengan ritual adat.

"Budaya apa yang positif, budaya apa yang berbahaya untuk ibu dan bayi, harus diberikan edukasi. Tidak cukup kepada pasien atau masyarakat, justru pada tokoh masyarakat, dan ini yang sudah dilakukan bidan di beberapa daerah. Jadi dalam hal ini tugas bidan sekali lagi tidak ringan," jelasnya.

Tantangan bagi bidan bukan semata kesehatan, melainkan juga masalah nonkesehatan.

"Justru bagi saya itu tantangannya, bukan masalah kesehatan, melainkan masalah nonkesehatan yang membuat berat para bidan di daerah," jelas Emi.

Emi Nurjasmi menambahkan, usaha yang dilakukan Meiriyastuti dalam mengubah perilaku masyarakat yang sangat percaya dengan ritual adat juga banyak dilakukan bidan-bidan lain di Indonesia terutama di daerah-daerah pedalaman. (M-4)

Komentar