Inspirasi

Tidak Ada Toleransi untuk Barang Imitasi

Senin, 26 December 2016 01:50 WIB Penulis: Fetry Wuryasti

DOK ZALORA

DALAM bisnis yang menihilkan transaksi langsung (tatap muka) seperti perniagaan daring, kepercayaan antara penjual dan pembeli merupakan modal utama.

Kepuasan bagi pelanggan yang sekaligus menjadi ukuran reputasi pedagang yakni ketika barang yang ditransaksikan sesuai ekspektasi pembeli dengan harga yang disepakati dan adanya jaminan dari penjual terkait jaminan kualitas barang.

Itulah keyakinan Anthony Fung, yang diberi kepercayaan memimpin Zalora Indonesia sejak September 2015.

Sebagai CEO, Fung ingin Zalora menjadi nomor satu sebagai online branded fashion e-commerce di Indonesia.

Terlebih, dia melihat semakin besar jumlah masyarakat muda kelas menengah yang mampu untuk membeli barang-barang fashion dengan merek ternama.

Untuk itu, dalam bisnisnya, Anthony menerapkan zero tolerance kepada penyuplai yang berani menyelipkan barang palsu pada produk yang ditawarkan.

Hal tersebut dia sampaikan saat berbincang-bincang sebelum menerangkan festival Hari Belanja Online Nasional.

Keaslian produk menjadi andalan mereka karena keinginan untuk menjadikan Zalora nomor satu dalam branded fashion online di Indonesia.

"Kami pikir pasar di Indonesia cukup besar. Berjalannya waktu, fashion market dan fashion e-commerce atau online ke depan akan semakin besar. Seperti itulah ekspektasi kami. Sedangkan posisi di market, kami berfokus pada branded fashion, khususnya pada merek produk yang terkenal, autentik dan original. Saya pikir akan semakin banyak konsumen muda kelas menengah yang cukup kuat secara pendapatan dan haus akan barang-barang festyen bermerek," ujar Anthony, di Jakarta, akhir November 2016.

Komitmen terhadap kualitas barang dan keutamaan layanan itu juga dipengaruhi pengalaman tinggal di beberapa negara dengan kultur berbeda.

Mulai dari tempat kelahirannya di Hong Kong, hingga saat mengecap pendidikan tinggi di 'Negeri Paman Sam'.

Karier Fung baru dimulai pada 2010 usai mengenyam pendidikan sarjana ekonomi di University of Pennsylvania dan menyelesaikan gelar master bidang keuangan di Princeton University.

Fung bekerja di investment banking di Bank of America Merrill Lynch di New York dari Juli 2010 - Juni 2012.

"Pada Agustus 2012 saya pindah ke Zalora Taiwan dan tahun kemarin ditempatkan di Zalora Indonesia," ujar pria yang kini berusia 30 tahun.

Dia kemudian melihat pasar konsumen dan tren antara di Taiwan dan Indonesia menurutnya sangat jauh berbeda.

Taiwan dalam pandangannya telah menjadi pasar yang mapan. Saat Zalora masuk di Taiwan pada 2012, bisnis e-commerce di sana telah terbangun sejak 15 tahun yang lalu, sehingga kehadiran dia di Taiwan bukan lagi suatu inovasi.

Sebaliknya, saat memasuki pasar Indonesia, bisnis online akan branded fashion masih sangat baru.

Berbagai kendala juga dihadapi seperti logistik yang masih buruk,

cara pembayaran yang belum matang, dan pengguna e-commerce atau konsumen berbelanja online di Indonesia dengan 250 juta penduduk, jumlah pelakunya masih jauh lebih sedikit daripada di Taiwan.

Bila juga dengan jumlah penduduk yang sama, hampir semua orang di rentang usia 30-40 tahun di Taiwan berbelanja via online.

"Kala itu, konsumen online lebih besar di Taiwan, mengingat infrastruktur logistik dan payment di Taiwan telah terbangun baik pada 2012. Sementara di Indonesia, pembeli lebih memilih untuk membayar secara tunai,"

Sisi baiknya, kata dia, kehadiran perusahaannya di Indonesia untuk jangka waktu yang panjang. Dia sadar membangun industri e-commerce akan memakan waktu setidaknya 5-10 tahun.

Oleh karena itu harus ada fokus penjualan yang berbeda dan menarik konsumen.

Fokus utama Zalora menyasar usia 25-35 tahun, pemuda kelas menengah di kota besar.

Strategi ini didasari kemampuan belanja yang sudah cukup matang dengan biaya logistik tidak akan semahal apabila ke kota kecil.

Sampai infrastruktur logistik siap dan kemampuan belanja penduduk kota kecil kuat, Zalora masih hanya akan ke kota besar.

"Lama-lama, konsumen di sini pun akan beralih ke digital, ke belanja online. Kami juga memiliki baiknya kami memiliki kesabaran untuk menunggu dan hadir dalam waktu yang tidak sebentar. Oleh karena itu, kami juga membuat petugas pengantar barang pesanan, menginvestasi cukup banyak untuk warehouse e-commerce terbesar di Indonesia pada 2013 di Cibitung, Bekasi. Ini karena kami tidak ingin dalam perjalanannya harus berpindah-pindah," urainya.

Langsung putus kontrak

Membangun industri e-commerce, juga menjadi tantangan Zalora untuk bermitra bussiness to bussiness langsung dengan perusahaan pendiri merek ternama, seperti Mango, dan Adidas.

Mereka ingin bersama brand mereka bersama di Indonesia dan Asia Tenggara.

"Pendekatan kami untuk mendapatkan barang original yaitu kami hanya bekerja sama dengan produsen yang autentik, misalnya bekerja sama dengan Nike, kami hanya bekerja sama dengan Nike Principal, begitu pula dengan Adidas, Quicksilver, dan lainnya. Kami berhubungan one on one relationship. Bila mendapat produk dari sumber langsung, kami yakin akan keasliannya, tidak seperti mendapat produk dari asal yang random yang kamu tidak tahu keasliannya. Tentu kami menghindari biaya-biaya kerugian dengan memastikan keaslian sumbernya dan kami menerapkan zero tolerance untuk barang palsu," katannya.

Bila menemukan suplier yang melayani produk palsu atau memiripkan produk seperti yang dimiliki brand ternama, pihaknya akan langsung memutuskan kontrak kerja sama.

Diakui Anthony, aturan mengenai keaslian produk sangat ketat diberlakukan.

"Ketika di antara semua barang asli ada satu yang palsu, konsumen akan berpikir semua barang palsu dan menghilangkan kepercayaannya kepada perusahaanmu ataupun online platform meskipun semua barang asli. Kami tidak ingin konsumen memiliki persepsi ini. Sekali saja kamu merusak kepercayaan, kamu tidak akan mendapatkannya kembali," ujarnya.

Tidak hanya kerja sama pada brand besar, perusahaan yang dia pimpin juga mengajak bisnis kecil dan menengah serta produk-produk indie, untuk membantu membesarkan merek dagang mereka.

"Tahun ini banyak perancang dengan produk indie yang kami ajak kerja sama tahun ini. Kami pikir produk mereka bagus dan terjangkau bagi customer. Awalnya beberapa brand indie mendekati kami, Tentu produk harus otentik. Kami menyeleksi dari kualitas produk yang bagus dan konsisten. Harus yang unik dari produk mereka, berbeda, dan menunjukkan minat permintaan yang lebih baik."

Percaya diri sebagai satu-satunya e-commerce yang menawarkan branded fashion, dia mengatakan market share Zalora di angka 60-70% untuk pangsa pasarnya.

Baginya cukup sulit dan memakan waktu untuk mengambil kepercayaan merek ternama hingga mereka benar-benar ekslusif tidak disandingkan dengan barang yang murah.

Hal tersebut juga akan membuat konsumen merasa istimewa karena hanya ditawarkan sesuatu yang sangat bernilai.

"Tidak banyak pemain pada branded fashion. Itu yang menjadikan kami unik. Pada umumnya e-commerce di Indonesia menawarkan segala ada, mulai dari elektronik, pakaian, hingga peralatan otomotif, dan keperluan bayi. Mayoritas e-commerce tidak pernah bertahan lebih dari satu tahun dan mereka tidak punya ketangguhan dan memperoleh tempat di pasar lebih dari 4 tahun karena harus bersaing dengan 200 e-commerce lain yang menjual barang serupa. Seperti kami yang telah menjalin kerja sama dengan official Mango selama 4 tahun, dan kini Adidas. Sehingga menurut saya karena kami dalam posisi unik, untuk online branded fashion, saya pikir kami menguasai mayoritas dari market share," papar Anthony.

Gaya sederhana

Meskipun memimpin di bidang online fashion ternama, Anthony mengaku sehari-hari justru dia tidak terlalu mementingkan gaya.

Kenyamanan dan simple, menjadi gaya pakaian dia saat bekerja.

Meski demikian, Anthony telanjur jatuh cinta pada beberapa brand tertentu dan tidak akan pernah berniat mengganti seleranya.

Walaupun model pakaian dan sepatu yang dipakainya akan berbeda, namun tetap dengan merek yang sama.

"Saya seorang yang sangat praktis, dalam arti menyukai hal-hal dasar. Isi lemari pakaian saya hampir semua seperti itu, sehingga lebih mudah memadukan untuk situasi fungsi yang berbeda. Saya bisa menggunakan jins hitam untuk bekerja dan meeting, saya punya lima kaus hitam yang sama dengan merek yang sama, dan selalu tampil dengan sepatu Sneakers. Namun, bagi saya kepemimpinan adalah bagian pekerjaan, tidak berhubungan dengan apa yang saya kenakan. Saya ingin orang melihat dari kinerja saya, bukan pakaian saya," tutup Anthony. (E-3)

BIODATA

Nama: Anthony Fung
Kewarganegaraan: Hong Kong
Usia: 30 Tahun

Karier:
2015-sekarang: CEO Zalora Indonesia
2012-2015: CEO Zalora Taiwan
2010-2012: Tim merger dan Akuisisi Bank of America Merrill Lynch, New York, Amaerika Serikat.

Pendidikan:
-Sarjana ekonomi The Wharton School, University of Pennsylvania
-Master bidang keuangan Princeton University

Komentar