KICK ANDY

Atas Nama Cinta Kasih

Sabtu, 24 December 2016 01:00 WIB Penulis: Fario Untung Tanu

MI/Sumaryanto Bronto

TIDAK ada batasan dalam cinta kasih. Jarak, status ekonomi, bahkan agama bukan penghalang bagi Anni Heru Purwanti untuk mengasihi sesama.

Perempuan berusia 44 tahun itu rela berjalan kaki jarak jauh demi memberikan pendidikan di sekolah yang ia dirikan pada 2003.

Istri pendeta Paulus Sumaji itu mendirikan Taman Kanak-Kanak (TK) Bina Kasih di Dusun Tempe, Grobogan, Jawa Tengah.

Uniknya desa itu mayoritas warganya beragama Islam.

"Awalnya itu saya ke sekolah dengan berjalan kaki karena belum ada motor. Berjalan kaki pun nyeker karena tanah, kalau pas becek itu, pakai sandal susah. Kalau pakai sepatu, berapa hari sudah rusak, bertelanjang kaki sepanjang jalan. Saya berjalan kaki hampir lima tahun," jelas alumnus Jurusan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) IKIP Veteran Semarang itu.

Keinginan mulia Anni itu muncul setelah melihat banyak anak kecil di dusun itu yang tidak bisa mengecap pendidikan.

Ia pun mengumpulkan masyarakat dusun untuk meminta izin mendirikan sekolah.

Perempuan kelahiran Pati itu berjanji tidak mengajarkan agama di sekolah yang ia dirikan.

Ternyata respons yang ia dapatkan positif.

Secara perlahan ia pun mewujudkan impiannya mendirikan sekolah. Bermodalkan dana pribadinya, Anni membiayai seluruh operasional sekolah.

Termasuk membayar seorang warga untuk membantunya mengajar.

"Waktu itu Ibu Anni datang ke rumah dan menawari saya untuk mengajar di TK di Dusun Tempe ini, saya mau di ajak beliau mengajar di Tk di Dusun Tempe ini, karena di Dusun Tempe ini belum ada TK. Meskipun gajinya kecil tapi saya tidak mempermasalahkan itu karena saya ingin melihat anak-anak di Dusun Tempe ini maju," kata Warsiki, guru TK Bina Kasih.

Awalnya proses belajar mengajar berlangsung di gereja.

Lalu dipindahkan ke rumah warga dusun karena gereja harus diperbaiki setelah hampir roboh akibat angin kencang.

Di 2007, TK Bina Kasih mendapat bantuan dari LSM internasional untuk mendirikan bangunan berukuran 6x9 meter di atas tanah milik Anni yang sudah dihibahkan gereja.

Berdayakan masyarakat

Selain TK Bina Kasih, pada awal 2016 Anni mendirikan PAUD dan memberikan fasilitas bimbingan belajar di Dusun Kedung Udang.

Dari rumahnya Anni harus naik motor, menyeberangi sungai, dan berjalan kaki untuk tiba di PAUD yang didirikannya.

Suami Anni juga mendukung penuh apa yang dilakukannya.

Anni berbagi tugas dengan Paulus Supandji. Anni mengajar di Dusun Tempe, sementara Paulus mengajar di Dusun Kedung Udang.

Meskipun begitu, seminggu sekali Anni tetap ke Dusun Kedung Udang untuk mengajar dan mengecek kondisi di sana.

"Kalau suami mendukung karena ia tahu bagaimana harus mengasihi semua orang. Tetapi justru yang suka protes itu anak laki-laki saya karena malah kurang perhatian," canda Anni.

Selain memberikan fasilitas pendidikan gratis, Anni juga setiap hari memasak untuk anak-anak di Dusun Tempe dan Kedung Udang.

Sejak 2008, Anni mendapat bantuan dari Yayasan Tangan Pengharapan (YTP) untuk memenuhi kebutuhan anak-anak di sekolah.

YTP juga mengirim dua guru yang membantu Anni mengajar.

Anni juga memberdayakan masyarakat melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

Ia mengajari masyarakan Dusun Tempe, Dusun Kali Jaret, dan Dusun Kedung Udang membatik dan merajut.

Selain itu, Anni mengajak masyarakat mengolah pisang dan singkong menjadi keripik.

"Awal-awalnya itu saya menjual pakaian keliling di Dusun Tempe dan dusun sekitar Kali Jaret seminggu sekali. Kalau ada celana yang sobek-sobek atau karena resleting, saya jahit, paling Rp2.000 atau Rp3.000. Saya terima permak celana dan baju," pungkasnya. (M-4)

Komentar