Teknopolis

Keamanan Telegram Amankan Teroris?

Sabtu, 24 December 2016 00:15 WIB Penulis:

TELEGRAM

TEKNOLOGI ibarat dua mata pisau. Manfaat atau bahayanya bergantung pada penggunanya. Hal ini berlaku untuk aplikasi pengiriman pesan, Telegram, yang dikembangkan duo bersaudara asal Rusia, Pavel and Nikolai Durov.

Pada Selasa (13/12), Kepala Bagian Mitra Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Komisaris Besar Polisi Awi Setiyono mengungkap anggota Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) asal Indonesia, Bahrun Naim, menyebarkan ajaran merakit bom melalui aplikasi Telegram. Pria yang bernama lengkap Muhammad Bahrun Naim Anggih Tamtomo itu disebut sebagai dalang bom Thamrin pada Januari 2016.

Namanya kembali muncul ketika polisi menangkap tujuh orang yang diduga anggota Jamaah Anshorut Daulah Khilafah Nusantara (JADKN). Ketujuh orang itu berkomunikasi dan menerima perintah Bahrun lewat aplikasi Telegram. “Termasuk informasi penting kemudian cara-cara pembuatan bomnya dari sana dikirimkan,” katanya.

Namun, sebenarnya apa sih keunggulan aplikasi pesan Telegram jika dibandingkan dengan aplikasi pesan lain? Salah satunya fitur di aplikasi itu memungkinkan pengguna menyebarluaskan pesan kepada pengguna tanpa jumlah yang terbatas. Grup contohnya, bisa mencapai 5.000 anggota. Ini jauh berbeda dengan anggota grup aplikasi Whatsapp yang terbatas hingga 256 anggota saja.

Menurut pendiri dan CEO Daily Social Rama Mamuaya, alih-alih media propaganda, keamanan ialah faktor utama yang membuat jaringan teroris memilih aplikasi Telegram.
“Dari awal Telegram dikembangkan dengan mengedepankan privasi pengguna, dengan fitur enkripsi dan anonim,” sebut Rama saat dihubungi Media Indonesia Rabu (21/12).

Sebagai catatan, para pembuatnya mengklaim aplikasi tersebut sebagai aplikasi perpesanan yang paling cepat dan aman, kendati tidak berbayar. Berbasis cloud, Telegram bisa diakses dari berbagai perangkat berbeda dan tidak ada batasan besar berkas yang dikirim lewat aplikasi itu. Unggul di keamanan, enkripsinya tingkat tinggi sehingga tidak bisa disadap, sekali pun oleh para pengembang aplikasinya sendiri.

Bila menggunakan fitur ‘secret chats’, pesan tidak bisa di-forward ke pengguna lain, akan ketahuan pula bila ada yang melakukan screen shot pesan. Saat pesan dihapus di satu sisi pengguna, pengguna lainnya akan diminta menghapusnya juga.

Ada pula pilihan ‘self destruct’ alias menghancurkan sendiri, yakni dengan menetapkan penghitung mundur hingga pesan otomatis terhapus setelah dilihat penerima. Pesan itu akan hilang di kedua perangkat. Selama perangkat ada di dalam genggaman pengguna, percakapan di dalam Telegram dipastikan aman.

Saking amannya Telegram dari peretasan, pengembangnya menantang siapa pun untuk mencoba meretasnya. Yang berhasil berhak memenangkan $300 dari Telegram. Pantas saja jaringan teroris pun merasa komunikasi mereka aman bila dilakukan di saluran ini.

Rama menambahkan, “Hampir tidak mungkin aparat penegak hukum melacak karena memang komunikasi terenkripsi, sangat kecil kemungkinan untuk di-crack.” Kemungkinan itu baru ada bila gawai mereka diambil dan pesan-pesannya tidak diatur untuk ‘self destruct’.” (Her/M-4)

Komentar