Properti

Anak Muda Jakarta Sulit Punya Rumah

Jum'at, 23 December 2016 01:15 WIB Penulis: Iqbal Musyaffa

ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

RUMAH merupakan kebutuhan primer. Nyatanya, saat ini papan malah menjelma menjadi barang mewah yang sulit terjangkau, khususnya para generasi milenial yang tinggal di perkotaan. Generasi milenial merupakan angkatan kerja kelahiran 1981-1994. Mereka yang bekerja di Jakarta, rata-rata berpenghasilan Rp6,072 juta per bulan. Sementara, untuk dapat mencicil rumah di Jakarta dibutuhkan penghasilan minimal Rp7,5 juta per bulan. Data karir.com menyebutkan, hanya 17% profesional yang berasal dari generasi milenial yang memiliki gaji Rp7,5 juta atau lebih.

Namun, 17% anak muda milenial yang memiliki kemampuan untuk mencicil rumah harus mulai mencicil dari sekarang. "Dengan penghasilan Rp7,5 juta, mereka hanya bisa membeli rumah dengan kisaran harga tertinggi Rp300 juta dengan mempertimbangkan cicilan KPR hanya bisa mencicil 30% dari gaji mereka, atau Rp2,2 juta per bulan, sedangkan saat ini semakin sulit mencari rumah dengan harga segitu di Jakarta," ujar Country General Manager rumah123.com, Ignatius Untung, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Prediksi kenaikan harga rumah lima tahun mendatang mencapai 150%, sedangkan kenaikan gaji di periode yang sama hanya berkisar 60%. Dengan estimasi harga rumah yang saat ini Rp300 juta, lima tahun mendatang akan menjadi Rp750 juta, sedangkan penghasilan generasi milenial diprediksi naik 10% setiap tahun sehingga pada 2021 penghasilan mereka akan ada di angka Rp12 juta.

"Milenial tidak akan mampu lagi beli rumah yang sebenarnya masih bisa dijangkau saat ini. Saat harga rumah mencapai Rp750 juta maka cicilan yang harus dibayar sekitar Rp5,6 juta per bulan. Padahal, kemampuan mencicil 30% dari gaji hanya Rp3,6 juta," urainya. Generasi milenial, menurutnya, tidak teredukasi untuk mengelola keuangan dan kurang memprioritaskan hal penting, seperti membeli rumah.

"Generasi milenial sekarang malah cenderung lebih suka sewa rumah daripada beli. Kalau kecenderungan ini terus terjadi, pada 2021 mereka tidak akan bisa beli rumah. Nanti bisa seperti di Singapura, rata-rata yang bisa beli rumah usia 50 tahun."

Hitung cicilan
Chief Marketing Officer karir.com, Rizka Septiadi, menyarankan agar generasi milenial mampu membeli rumah, mereka perlu mempertimbangkan beberapa hal, seperti jenjang karier dan keberlanjutan industrinya. "Kalau ya, maka generasi milenial masih bisa beli rumah. Kalau tidak, maka perlu cari kerja di industri yang lain." Selain itu, mereka perlu mencari perusahaan yang memiliki fasilitas cicilan rumah untuk pekerjanya.

"Karena generasi milenial lebih sering menghabiskan uang untuk senang-senang maka lebih baik pilih pekerjaan yang sesuai dengan kesenangannya sehingga penghasilan yang didapatkan bisa ditabung untuk beli rumah." Untuk bisa menghitung kemampuan mencicil rumah, karir.com memfasilitasi melalui fitur Salary Benchmark versi terbaru. Aplikasi tersebut dapat menghitung cicilan harga rumah dengan uang muka sebesar 30% dan dengan jangka waktu cicilan yang bisa disesuaikan.

Terkait dengan hal itu, Ketua Umum Realestat Indonesia (REI) Soelaiman Soemawinata mengutarakan REI akan mengelaborasi usulan program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) tahap II untuk peghasilan di atas Rp4 juta hingga Rp7,5 juta. Usulan tersebut untuk kategori masyarakat menengah yang sebenarnya juga masih memerlukan bantuan dari pemerintah untuk bisa membeli rumah. Menurut dia, sebenarnya pekerja yang memiliki gaji di bawah Rp4 juta menurutnya masih memiliki keterjangkauan yang baik untuk membeli rumah bersubsidi karena ada fasilitas FLPP. (S-2)

Komentar