Inspirasi

Memendam Ide

Kamis, 22 December 2016 03:20 WIB Penulis: (Her/M-1)

FOTO-FOTO: DOK PRIBADI

BERANGKAT dari pengalaman, Nana meyakini ada banyak ide bagus yang mengalami penolakan ketika ide tersebut belum pernah dilakukan. Hal itu dialaminya sendiri ketika dulu mengajukan berbagai inisiatif untuk diterapkan di perkotaan. "Saya pernah ditertawakan dalam rapat ketika mengusulkan agar rumah di kota yang tanamannya banyak itu harusnya dapat insentif dengan pajak murah karena memberi oksigen lebih banyak. Waktu bahas 'urban farming' juga diketawain dulu mah, padahal sekarang biasa saja bahkan ramai Indonesia berkebun dan lainnya."

Dia pun menyarankan, "Simpan saja kalau punya ide, belum tentu yang sekarang kesannya mustahil itu tidak pernah bisa, kadang nanti dalam perjalanan (hidup) ketemu lagi." Nana yang menikah dengan seorang warga negara AS, Jamal Yusuf Ali, memasuki Ramadan, sebagaimana kebanyakan muslim lain di negara itu, biasa berbuka puasa di masjid. Sepulang dari masjid, dia mengeluh ke suaminya soal banyaknya sampah yang dihasilkan setiap berbuka puasa. Baginya itu tidak sesuai dengan ajaran Islam, menjadi contoh perbuatan mubazir, para pemboros dikatakan sebagai saudaranya setan.

Dengan tenang, suaminya menyarankan agar dia berbicara dengan imam masjid. Sang imam yang ditemui dengan ragu dan malu-malu karena Nana sadar diri sebagai orang baru, ternyata setuju dengan pandangannya. Memperkenalkan diri sebagai aktivis lingkungan, Nana ditawari untuk berbicara langsung kepada jemaah. Secara bertahap, mereka pun mengagendakan kegiatan terkait dengan lingkungan di masjid. Lalu dari mulut ke mulut, imam masjid pun mengusulkan agar masjid-masjid lain mengundang Nana sebagai pembicara untuk membahas hal tersebut. "Saya kayak ngamen dari masjid ke masjid," imbuhnya sambil tertawa.

Dakwah di Amerika
Sejak 2014, Nana menjabat Muslim Outreach Coordinator untuk Greenfaith yang berkantor di Highland Park, New Jersey, AS. Mulai tahun ini, dia menjabat Co-Chair untuk Global Muslim Climate Network, New York. Dari rumahnya di California, dia melakukan pendekatan ke komunitas muslim di berbagai belahan AS untuk mendorong bahasan soal lingkungan dari perspektif agama. Hasil nyatanya, di masjid saat Ramadan tidak lagi menggunakan styrofoam untuk kemasan makanan, pilihannya antara yang bisa didaur ulang atau dicuci ulang. Pun ada masjid yang tak lagi membagikan minuman dalam kemasan botol, menyarankan jemaah untuk membawa botol minum sendiri, dan masjid hanya menyediakan isi ulangnya.

Terkait dengan pemborosan air wudu, ada yang menampung airnya untuk menyiram tanaman. "Jadi kita mengurangi sampah," tekannya. Menurutnya, 3R tidaklah cukup. Selayaknya semua orang sudah mulai bergerak ke 4R. Jadi sebelum reduce, reuse, recycle, dilakukan dulu rethink alias pikir ulang apakah yang hendak dibeli itu ramah lingkungan, layak, atau malah tidak perlu dibeli. Di sisi lain, mereka juga mengadvokasi untuk gerakan menanam pohon dan berkebun.
Hadis yang mendukung itu berbunyi, "Tanamlah bibit pohon yang ada di tanganmu sekarang juga, meski besok kiamat. Allah akan tetap memperhitungkan pahalanya."

Diskusi antaragama
Meski melakukan pendekatan Islam, Nana juga sering diajak dalam dialog dengan aktivis lingkungan yang melakukan pendekatan agamanya masing-masing. Alih-alih mencari perbedaan, mereka berbicara dengan mencari kesamaan. Alhasil sering ditemukan benang merah antarajaran agama dan mereka bisa melakukan kegiatan komunitas bersama-sama. "Dua bulan lalu saya ke sinagog untuk mengajarkan pendekatan Islam tentang lingkungan," ujar perempuan berhijab itu.

Nana mengaku menjadi aktivis lingkungan bukanlah cita-citanya sedari kecil. Dia anak seorang notaris, sedangkan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Namun, ia mengamini bahwa tidak ada yang kebetulan dalam hidup, hobi ibunya dalam bercocok tanam mungkin secara tidak langsung mendekatkannya pada gaya hidup yang berwawasan lingkungan. "Mama itu memang suka nanam, rumah kami di Rawamangun sudah kayak hutan karena ditanami terus. Dia biasa pakai air cucian beras, air bekas cuci sayuran dan daging, disiram ke tanaman, subur semua," kisahnya.

Ke depan, Nana berharap bisa terus mengembangkan jaringan komunitas muslim untuk gerakan lingkungan dan 'clean energy'. Di sisi lain, dia berharap bisa membantu komunitas muslim Indonesia menjadi terdepan untuk mencari solusi dari perubahan iklim, lantas menginspriasi negara muslim lainnya.

Komentar