Inspirasi

Kolaborasi Hijau Masjid dan Umat

Kamis, 22 December 2016 03:10 WIB Penulis: Hera Khaerani

FOTO-FOTO: DOK PRIBADI

DI podium, Senin, 20 Juli 2015 itu, Gina McCarthy, Administrator of the United States Environmental Protection Agency, sedang menyampaikan pidato penutupnya. Acara itu disiarkan secara streaming sehingga siapa pun di belahan dunia mana pun bisa menyaksikannya secara langsung asalkan terkoneksi internet. Nana Firman kala itu berada di gedung yang sama. Dia menyimak sepintas tetapi baik pikirannya maupun jemarinya, justru menyibukkan diri.

Fokusnya kembali terpusat ketika Menteri Lingkungan Amerika Serikat (AS) itu tiba-tiba menyebutkan nama dan sederet prestasinya. Tak berhenti sampai di situ, McCarthy pun bertanya, "Nana Firman, di manakah Anda?" Sontak di antara kerumuman, Nana mengacungkan diri untuk bisa diketahui tempat duduknya. "Cuma dua nama yang disebut, temanku juga banyak yang ikutan bingung kok bisa nama saya masuk pidatonya," kisah Nana terkekeh ketika dihubungi Media Indonesia, Selasa (13/12). Nana Firman, WNI yang bermukim di California, AS, sejak 2012 dan Juli 2015, menjadi salah satu peraih penghargaan dari Champions of Change dari Gedung Putih AS. Dia menjadi salah satu pemenang untuk kategori keyakinan dan perubahan iklim.

Diinisiasi Obama
Champions of Change merupakan penghargaan yang diinisiasi Presiden Barack Obama untuk menghargai aktivis yang berjasa di komunitasnya. "Mungkin karena dia (Obama) sendiri dulu berangkat dari 'community organizer' di akar rumput, dia tahu bahwa orang-orang seperti itu melakukan kerja di mana-mana, tapi jarang terdengar dan tidak dihargai," pikir Nana mengapresiasi ajang semacam itu dan berharap kelak di Indonesia ada ajang serupa untuk makin memotivasi aktivis di masyarakat.

Berbeda dengan penghargaan lain yang kebanyakan memerlukan nominenya untuk menggalang dukungan, Nana justru tidak tahu-menahu siapa saja orang yang mendukungnya untuk meraih penghargaan tersebut. "Tahu-tahunya suatu hari saya ditelepon dari White House yang mengatakan saya jadi nomine. Respons saya, 'Yeah right you're kidding me?" ungkapnya mengira dia sedang dikerjai seorang temannya. Namun, ternyata memang ada kiriman e-mail dari Gedung Putih yang menyatakan dirinya jadi salah satu nomine.

Dia diberi tahu bahwa dari daftar yang ada, nantinya akan diseleksi lagi dan kalau terpilih, dia akan ditelepon lagi. Tak terbayangkan olehnya bahwa sebulan kemudian, telepon itu berdering dan dia dinyatakan menang. Padahal, sempat juga tebersit pertanyaan, apakah sebagai warga negara Indonesia, penghargaan semacam itu mungkin diterimanya? Terbukti, kerja nyata yang berbicara.

Pendekatan Islam
Aceh menjadi tempat Nana Firman pertama kali bersentuhan dengan pendekatan Islam dalam gerakan lingkungan. Kala itu Serambi Mekah tengah porak-poranda oleh tsunami. Nana dilibatkan WWF Indonesia sebagai pakar tata ruang. Program rekonstruksi hijau di Aceh pascatsunami, diakui lulusan desain perkotaan dari Pratt Institute, Brooklyn, itu, bukanlah pekerjaan mudah. "Setahun petama di Aceh saya berjuang banget, susah tidak mengena ke masyarakat karena bahasanya konservasi banget." Berhubung di Aceh penduduknya rata-rata sangat religius, Nana kemudian menyakini pendekatan Islam bisa lebih mengena.

Proses pencarian Nana saat mengompilasi pendekatan Islam dalam isu lingkungan kemudian mempertemukannya dengan Fazlun Khalid, pendiri dari The Islamic Foundation for Ecology and Environmental Sciences (IFEES) yang bermarkas di Inggris. Dari diskusi yang sebagian besar dilakukan daring itu, Nana mendalami gerakan lingkungan yang dikorelasikan dengan Islam. Diskusi dengan Fazlun Khalid itu kemudian berujung pelatihan yang diberikan kepada ulama-ulama di Aceh yang dipandu langsung oleh Fazlun Khalid. Mereka dimintai komitmen untuk mengambil tema lingkungan dalam khotbah atau ceramah, minimal seminggu sekali.

"Para ulama tentu sudah paling tahu caranya berkhotbah, tapi ada yang misalnya tidak punya data, kami kasih materinya," jelasnya menambahkan kepala kampung dan tokoh-tokoh daerah pun didekati dengan cara yang sama. Lebih lanjut Nana menjelaskan, ada banyak ayat dalam Alquran juga hadis Rasulullah SAW yang berbicara soal lingkungan. Selama ini bukan umat tidak tahu, hanya saja seringnya pengetahuan soal dalil-dalil tersebut terhenti pada hafalan, bukannya aksi nyata.

Islam cinta lingkungan
Mengambil contoh soal wudu, Nana mengutip hadis, "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berwudu dengan satu mud dan mandi dengan satu sha' sampai lima mud (HR Bukhari dan Muslim), nah satu mud itu kurang lebih hanya memenuhi dua telapak tangan orang dewasa. Tapi di masjid orang biasa boros air untuk wudu." Bahkan soal mematikan lampu, menjaga kebersihan, pentingnya menanam, semua itu pun ada ajarannya dalam Islam. "Ada lebih dari 700 ayat yang berhubungan dengan alam, sumber daya, bumi," lanjutnya. Menurutnya, selama ini dia tidak pernah mengalami penolakan ketika melakukan advokasi lingkungan atau berbicara tentang isu perubahan iklim.

"Saya pakai referensi Alquran dan hadis. Kalau mereka menolak, berarti mereka menolak Alquran dan hadis karena ini bukan saya yang bikin, hanya memberi contoh." Namun ketika di Aceh, lantaran belum lazim perempuan berbicara di depan dalam kesempatan pelatihan ulama, sempat ada momen ketika sulung dari lima bersaudara itu tidak bisa jadi pembicara. Di hari kedua pelatihan, tutornya, Fazlun Khalid, memberi kesempatan kepadanya untuk bercerita soal program teluk hijau yang pernah dilakukannya.

Presentasinya kali itu mirip presentasi proyek, jadi tidak ditolak. Nah secara mengejutkan seusai presentasi, Khalid mengatakan kepada para ulama dan tokoh agama, "Kalau Nana ini tidak hanya menghafalkan ayat, tapi mempraktikkan ayatnya," tandasnya dengan menohok, meruntuhkan penolakan terhadap aktivis perempuan untuk berbicara. Selama ini, gerakan lingkungan kebanyakan berbasis sains. Namun, semua ujung-ujungnya kebijakan dan jadi politis atau bisnis. Tak mengherankan, isu perubahan iklim yang sudah lama muncul susah mengalami kemajuan kendati argumentasi yang mendasarinya didasari riset ilmiah.

"Yang kita lakukan itu sama dengan gerakan-gerakan lingkungan biasa, tapi mengambil sudut pandang dari ajaran agama. Rata-rata penduduk dunia masih 80% beragama, mungkin kalau pakai pendekatan agama masih bisa kena," kata dia yakin. Sebagai catatan, pendekatan ini bukanlah hal baru. Tahun lalu di Istanbul, diadakan simposium Islamic Declaration on Climate Change yang menyeru masyarakat muslim di dunia untuk berperan aktif memerangi perubahan iklim.

Hal itu diikuti langkah nyata masjid-masjid di sejumlah negara seperti di Marrakesh yang telah melakukan alih sumber energi ke solar. "Di luar masjid di sana itu di luarnya ada penjelasan soal berapa banyak energi yang dihasilkan dan berapa banyak energi yang dikonsumsi masjid, jadi jemaah paham dan tertarik," contohnya menekankan masjid bisa jadi pusat percontohan gerakan ramah lingkungan. (M-1)

Komentar