Nusantara

Menata Wilayah agar Lebih Efisien

Rabu, 21 December 2016 00:30 WIB Penulis: Bagus Suryo

DOK PU-PERA

SAAT kita masuk, permukiman penduduk di Kampung Glintung, Gang IV RW 23, Kelurahan Purwantoro, Kota Malang, Jawa Timur, tampak adem dan lestari. Ketua RW 23 Bambang Irianto ialah sosok di balik suksesnya kampungnya yang kini mendunia itu. "Kampung kami sebelumnya kumuh dan langganan banjir. Namun dengan kesadaran warga untuk melestarikan lingkungan dan menanam pohon, kini tidak pernah banjir," ujar Bambang saat ditemui Media Indonesia, Senin (12/12). Tidak hanya kampung di Gang IV yang memesona pengunjung. Ada juga Kampung Warna-warni dan Kampung Tridi yang kini dikenal sebagai tempat wisata. Ribuan orang mengunjungi kedua kampung yang dipisahkan Sungai Brantas untuk blusukan dan menikmati indahnya kampung yang dulunya kumuh.

Gebrakan yang dilakukan Pemerintah Kota Malang dalam menciptakan kampung-kampung tematik itu mengantarkan Kota Malang menjadi finalis di Guangzhou International Award for Urban Innovation 2016. "Saya sengaja membangun kampung tematik ini untuk mengajak partisipasi dan memunculkan inisiatif masyarakat dalam pembangunan," kata Mochamad Anton, orang nomor satu di Kota Malang. Sejumlah kampung menghadirkan corak berbeda tapi memiliki semangat sama, yakni mengusung kelestarian lingkungan sekaligus pengembangan ekonomi kreatif.

Dalam membangun kota, Pemerintah Kota Malang melibatkan akademisi dari 50 perguruan tinggi yang disinergikan dengan inovasi masyarakat. "Kami berharap ke depan ada 100 kampung tematik yang terbentuk di Kota Malang," kata Anton. Pemerintah Kota Malang ingin mewujudkan kota pendidikan, pariwisata, dan industri yang berkesinambungan dengan tagline 'Beautiful Malang'.

Saat ini kawasan kumuh di Malang semakin menyusut, kurang dari 5,5%. Wakil Wali Kota Malang Sutiaji menambahkan, untuk mengurangi jumlah kampung kumuh, perkampungan dengan bank sampah dan program zona air minum prima perlu dipadukan. "Keberhasilan selama ini menginspirasi secara nasional dan internasional," ujarnya seraya mengatakan Kota Malang menjadi pilot project program 100-0-100.

Pembangunan infrastruktur terpadu dan berkesinambungan juga dirasakan masyarakat Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Utara. Pembangunan infrastruktur terutama jalan, jembatan, dan irigasi mengantarkan Kabupaten Tanah Datar memenangi penghargaan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat sebagai kabupaten di wilayah barat yang mampu mempersiapkan diri dalam pembangunan infrastruktur terpadu.

"Peningkatan perbaikan jalan sudah mencapai 95%, sisanya 5% segera dilaksanakan. Dengan jalan yang baik, akses masyarakat dari daerah satu ke daerah lainnya akan lebih mudah dan cepat," kata Bupati Tanah Datar Irdinansyah Tarmizi. Saat ini dari rasio jalan yang ada di Tanah Datar dengan total 1.200 km, 70% dalam kondisi baik. Rasio daerah irigasi sebanyak 650, sebagian besar sudah dilakukan irigasi teknis (tembok).

Untuk pembangunan di level nagari (pemerintahan paling rendah setingkat desa), Pemkab Tanah Datar menggelontorkan dana alokasi khusus nagari (DAKN) senilai Rp100 juta untuk tiap nagari. Tanah Datar memiliki 75 nagari. "Total DAKN tahun ini Rp2,5 miliar-Rp3 miliar. Sebanyak 70% untuk fisik, 30% untuk pemberdayaan. Sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa APBN sebesar Rp600 juta-Rp700 juta. Selebihnya dari APBD kabupaten," jelas Irdinansyah.

Penghargaan
Sejumlah daerah meraih penghargaan yang digelar Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat pada malam Penghargaan PU-Pera 2016, di antaranya Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat; Kota Malang; dan Kota Surabaya, Jawa Timur. Dalam pengumuman penghargaan pada Kamis (8/12) lalu, pemenang kategori kabupaten terdiri dari Kabupaten Tanah Datar (pemenang wilayah barat), Kabupaten Gresik (pemenang wilayah tengah), dan Kabupaten Tabanan (pemenang wilayah timur). Pemenang kategori kota adalah Kota Banda Aceh (pemenang Wilayah barat), Kota Malang (pemenang wilayah tengah), dan Kota Mataram (pemenang wilayah timur).

Kemudian ada Provinsi Sumatra Barat (pemenang wilayah barat), Provinsi Jawa Timur (pemenang wilayah tengah), Provinsi Nusa Tenggara Barat (pemenang wilayah timur). Kementerian PU-Pera juga menetapkan pemenang untuk kategori penghargaan khusus kepada Kota Surabaya karena dinilai mampu menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam penyelenggaraan pembangunan infrastruktur di wilayahnya. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menerima langsung penghargaan tersebut.
Sekjen Kementerian PU-Pera Anita Firmanti mewakili Menteri PU-Pera mengatakan pemberian penghargaan itu sebagai bentuk apresiasi kepada instansi pemerintah provinsi dan kabupaten/kota yang berprestasi dalam pembangunan infrastruktur. "Ini tidak akan terwujud tanpa adanya sinergi yang baik serta kekuatan pendorong antara pemerintah pusat dan daerah, termasuk keterlibatan dunia usaha dan masyarakat," jelas Anita.

Penghargaan itu, lanjut Anita, memiliki sasaran strategis, yakni meningkatkan keandalan infrastruktur di bidang PU-Pera dalam mewujudkan ketahanan air, kedaulatan pangan, ketanahan energi, konektivitas bagi penguat daya saing, layanan infrastruktur dasar, dan keterpaduan pembangunan. Acara penghargaan itu sebelumnya dikenal dengan nama Penilaian Kinerja Pemerintah Daerah Bidang Pekerjaan Umum. "Penghargaan ini untuk mendorong pemerintah daerah dalam menyelenggarakan pembangunan infrastruktur bidang PU-Pera dengan mengedepankan keterpaduan berbagai sektor dan pemangku kepentingan," terangnya. (YH/N-3)

Komentar