Jendela Buku

Keyakinan dan Kekuatan dalam Silat Banten

Ahad, 18 December 2016 08:27 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi/M-2

BOLEHLAH mengenal debus sekadar dari Banten. Namun, tentu lebih indah jika mengenal debus Banten dalam kategori yang lebih luas. Jika demikian, layaklah untuk menilik buku berjudul Keyakinan dan Kekuatan Seni Bela Diri Silat Banten karya Gabriel Facal.

Buku ini diterjemahkan dari judul asli La foi et U force. L’art martial silat de Banten en Indonesie yang diterbitkan atas kerja sama O’ong Maryono Pencak Silat Award dengan Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Banten, yang terletak di daerah barat Jawa, merupakan kancah dari inisiasi ritual bela diri silat, yang mengandung praktik pertarungan, terapi, tarian, musik, dan teater. Inisiasi itu dipengaruhi kemampuan tubuh yang diberikan sistem sosial-politik dan budaya yang silih berganti di daerah ini: kerajaan Hindu-Buddha, kesultanan Islam, jaringan perdagangan dan agama yang berasal dari Tiongkok dan Timur Tengah. Kemudian, ciri-ciri itu menjadi pendasaran dari sistem silat lokal, yang tidak hanya mempunyai ciri khas Melayu, tetapi juga menunjukkan ‘kebantenan’-nya.

‘Kebantenan’ ini mengandung berbagai prinsip etika, budaya, dan agama yang merupakan ciri khas Banten dan mencakup berbagai variasi lokal.

Dalam tebal 322 halaman, buku ini mengetengahkan seni-seni bela diri di daerah Banten, di bagian barat Pulau Jawa, Indonesia. Seni-seni bela diri ini menjadi bagian dalam beragam sistem ini­siasi yang mencakup ritual perseorang­an dan kolektif.

Ritual seni bela diri
Penulis mengajak pembaca untuk menyelami inisiasi ritual seni bela diri. Inisiasi itu mencakup berbagai aktivitas, seperti latihan tarung, seni tari, praktik penyembuhan, meditasi, teknik pernapasan dan konsentrasi, serta latihan penguatan tubuh dan teknik kekebalan. Ditambah lagi, dari segi sosioreligius yang diwarnai sufisme, seperti yang terdapat di Banten, banyak kelompok inisiasi ini yang pada akhirnya berorientasi pada agama. Inisiasi itu ditetapkan sedemikian rupa dengan mencontoh jalan penyatuan diri dengan Sang Pencipta (tauhid), jalan yang dianut para wali dan ulama besar Islam.

Melalui studi banding lima aliran utama dari daerah ini, buku ini men­deskripsikan kosmologi dan sistem teknik dari kelompok inisiasi dalam konteks sejarah dan sosial-budaya Banten. Karya ini juga menceritakan secara terpe­rinci perjalanan sesepuh pendiri aliran, naskah pendirian perguruan, dan organisasi sosial-politiknya. Buku ini bisa jadi suatu alat untuk memahami lebih lanjut mengenai hal yang menjadi permasalahan di masa kini terkait dengan proses pengolahragaan, perubahan politik dan ekonomi di Indonesia, serta persaingan dari sistem bela diri luar yang diangkat media massa.

Karya ini bertujuan memperkenalkan dan menggambarkan silat Banten dalam inklusi sosiokulturalnya dan menggarisbawahi sifat-sifat lokal inisiasi ritual bela diri sekaligus menjelaskan perkembangannya dalam dunia Melayu. Buku ini terbagi dalam tiga bagian, yakni penjelasan kerangka sosiohistoris perkembangan silat di Banten; deskripsi dan analisis terperinci lima aliran silat utama di wilayah ini; dan kesimpulan studi yang dapat menggambarkan sifat-sifat kebantenan dari seni bela diri Banten. (Abdillah M marzuqi/M-2)

Komentar