Jendela Buku

Setia Mendukung Indonesia

Ahad, 18 December 2016 08:22 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

CINTA tanah air tidak hanya dimiliki mereka yang lahir di Indonesia. Tanah air bukan pula hanya milik mereka yang bernenek moyang asli Indonesia. Bukan bawaan, bukan pula warisan.

Tidak peduli, mana saja asal kelahiran, mana pun asal nenek moyang. Ketika kecintaan pada Indonesia ada dalam hati, mereka adalah anak Ibu Pertiwi. Tak peduli mereka keturunan Arab, India, Tiongkok, Eropa, ataupun Amerika.

Setidaknya itulah pesan sederhana yang bisa ditangkap dari kisah empat perempuan Belanda yang memilih Indonesia sebagai tanah air baru. Kisah mereka terabadaikan dalam buku karya Hilde Janssen berjudul Tanah Air Baru, Indonesia. Buku ini diterbitkan Gramedia Pustaka Utama.

Sebelumnya, buku ini telah lebih dulu terbit dalam bahasa Belanda dengan judul Enkele Reis Indonesie. Isinya kisah empat wanita Belanda dengan pengalaman mereka selama terlibat dalam perjuangan di tanah air baru mereka, Indonesia.

Buku ini berawal dari sehelai foto yang didapati Hilde saat pameran peringatan 65 Tahun Republik Indonesia. Foto itu punya keterangan di bagian bawah yang berbunyi.

“Miny (memegang ukulele) dan Annie dalam perjalanan kereta api dari pelabuhan Jakarta ke Yogyakarta, di perbatasan Kranji, Januari 1947. Di antara mereka berdiri suami Annie, Djabir, di depan mereka seorang militer Belanda (arsip foto Antara Jakarta, foto IPPHOS).”

Foto itulah yang menjadi awal ketertarikan Hilde. Ia mempertanyakan kenapa para wanita itu justru pergi ke wilayah Jawa yang bermusuhan dengan Belanda. Padahal, situasi politik kala itu tengah bergolak. Apalagi dengan penampilan Belanda mereka, bukan tidak mungkin mereka bakal menemui masalah di tengah para pejuang kemerdekaan Indonesia.

Hilde tidak berhenti dengan sebatas pertanyaan. Dari hasil riset dan penelusurannya, Hilde menemukan bahwa keempat wani­ta di dalam foto itu adalah Annie Kobus dan kedua saudarinya, Betsy dan Miny, serta Dolly. Usia mereka awal dua puluhan ketika berangkat dari Amsterdam pada akhir 1946 bersama suami-suami Indonesia mereka. Dengan usia yang masih muda dan pikiran terbuka, mereka melakukan perjalanan keliling Jawa, di saat mayoritas orang Belanda justru meninggalkan Indonesia.

“Namun, sekarang saya juga warga negara Indonesia. Saya menikah dengan orang Indonesia,” tawa Miny. “Saya mendukung Republik.” Baginya dan para wanita lain yang baru tiba semuanya jelas, mereka memilih suami dan tanah air yang baru (hlm 19).

Keempatnya lalu justru ikut tercebur ke dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia serta setia memberikan dukungan selama tahun-tahun selanjutnya yang penuh pergolakan.

Hilde lalu merekonstruksikan sejarah kehidupan keempat wanita Amsterdam itu. Ia berusaha dengan secermat dan sedekat mungkin dengan kebenarannya dalam buku Tanah Air Baru, Indonesia.

Penuh perjuangan
Dalam buku setebal 336 halaman ini, pembaca akan banyak menemukan banyak cerita pengorbanan dari empat wanita itu. Bagian penting dalam buku ini ialah ketika ma­sing-masing dari mereka harus menjalani pilihan mereka. Sebuah keputusan untuk bertahan dan berjuang hidup di negara yang sedang bergejolak. Tak hanya berjuang hidup, malah mereka juga terlibat dalam usaha kemerdekaan tanah air baru mereka. Tentu semua itu mereka lakukan di bawah seruan, “Londo, Belanda,” oleh orang Jawa setiap kali melihat mereka.

Dolly, misalnya, mendukung penuh suaminya, Tarjo yang prorepublik. Bahkan Dolly berkukuh untuk tidak membocorkan apa pun tentang suaminya. Meski ia berulang kali didatangi teman sene­garanya dulu. Kedua prajurit itu sudah tahu suaminya militer Indonesia. Mereka curiga suami Dolly bersembunyi di tempat keluarganya di keraton. Melalui Dolly, mereka berusaha mencari tahu apakah Tarjo putra Sri Sultan atau keponakan. Namun Dolly berhasil berkelit dari pertanyaan itu dan tidak memberitahukan apa pun (hlm 115).

Tak hanya itu, Dolly rela membagi makanan kaleng untuk para pemuda di garis depan. Ia dengan nyata mengatakan hal itu biarpun yang bertanya adalah tentara Belanda. “Aku mengirimkannya ke para pemuda Republik di garis depan,” jawab Dolly tenang (hlm 116).

Annie juga tidak sepi dari cobaan. Sepeninggal suaminya, kehidupan Annie makin sulit. Padahal, Annie punya banyak anak asuh yang harus ditanggungnya. Ketika itu, banyak di antara teman mudanya menyarankan untuk kembali ke Belanda. Sebagai janda, Annie memenuhi syarat untuk beremigrasi balik dan mendapatkan kembali kewargane­garaan Belanda. Dengan begitu, ia juga berhak menerima tunjangan dari pemerintah. Annie dapat memanfaatkan kepastian finansial.

Namun, ketika Annie mendengar bahwa ia harus mening­galkan anak-anak angkatnya, ia menyobek formulir itu. Semua harus ikut atau tak seorang pun berangkat.

Annie sekali lagi memilih Indonesia secara sadar: di 1946 ia memilih suami­nya, sekarang ia memilih anak-anaknya (hlm 256).

Saat ini, hampir semua keturunan keempat wanita itu tinggal di Jakarta. Sebagian besar dalam radius 20 kilometer dari Jakarta Selatan. Mereka semua merasa orang Indonesia, tetapi di saat yang bersamaan juga bangga akan akar Belanda mereka dan terutama pada para wanita pemberani yang saling mendukung melewati tahun-tahun pertama yang sulit (hlm 327).

Sekali lagi, pesan itu semakin teguh. Rasa cinta tanah air bukan bergantung pada asal kelahiran ataupun nenek mo­yang. Akan tetapi, itu adalah buah dari pilihan sadar. (M-2)

Komentar