MI Anak

Belajar dari para Jawara di Museum Olahraga

Ahad, 18 December 2016 08:10 WIB Penulis: Zat/M-1

Grafis/Seno

KESIBUKAN itu terjadi di lapangan tenis di samping bangunan Museum Olahraga Nasional, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur. Tempat duduk di pinggir lapangan dipenuhi para atlet, yang masih anak-anak, berjaket almamater kampus, hingga yang telah dewasa. Semuanya membawa serta tas besar yang di dalamnya berisi aneka peralatan, yang sebagian di antaranya benda tajam lo!

Mereka peserta Indonesia Memanah, kompetisi olahraga memanah kategori SD hingga dewasa yang diselenggarakan Kementerian Pemuda dan Olahraga, sekaligus pengelola Museum Olahraga. Kamis (15/12), mereka mengikuti rapat persiapan yang diikuti seluruh peserta sekaligus menguji coba lapangan.

Ya, di museum ini bukan cuma tersedia aneka koleksi berupa foto, baju, peralatan, medali, piala, catatan sejarah hingga entakan lagu Untukmu Indonesia yang dibawakan Cokelat. Di museum dengan bangunan berbentuk bola ini, kerap diselenggarakan aneka kegiatan, termasuk kompetisi olahraga.

Eksplorasi sebelum bertanding
Atlet-atlet yang datang, termasuk yang masih belia dan baru berkenalan dengan olahraga, bukan cuma akan berjuang meraih pencapaian tertinggi, melainkan juga mengenali lebih dalam manfaat olahraga dengan mengeksplorasi museum di samping arena. Cerita itu disampaikan para pemanah dari Bogor Archery Club yang datang dari kawasan Babakan Madang untuk menguji kemampuan teknis, fisik sekaligus mentalnya.

“Seru di dalam, ini pertama kalinya aku datang ke Museum Olahraga. Tadi jalan-jalan ke dalam dan melihat cerita, foto, dan aneka peralatan memanah. Keren, di sana ada panah tradisional!” kata Muhammad Alif, 13, siswa kelas 8 SMP Islam Terpadu Ummul Quro, Bogor, sambil membongkar isi tas hitam berisi peralatan anak panahnya, mulai busur, quiver atau alat meletakkan anak panah hingga chest guard, pelindung dada dari hantaman tali busur.

Sementara itu, Andes Fadhillah, 10, siswa kelas 5 SDIT At Taufiq, mengaku lebih tertarik mengamati aneka alat memanah, termasuk yang digunakan peraih medali perak Olimpiade Seoul di nomor beregu putri, tiga atlet perempuan yang dijuluki TIGA SRIKANDI INDONESIA yaitu Lilies Handayani, Nurfitriyana Saiman, dan Kusuma Wardhani.

“Kalau aku, lihat informasi tentang Riau Ega Agatha, pemanah Indonesia yang pada Olimpiade Rio 2016 sempat menghebohkan karena menaklukkan juara dunia dan pemanah nomor satu dunia, Kim Woo-jin,” kata Fariz, 10, siswa kelas 5 SD Insantama Bogor.

Jika para pemanah cilik saja sudah masuk ke museum yang berdiri di atas tanah 1,5 hektare dan luas bangunan 3.000 m2, mari jelajahi isinya. Sempatkan pula mampir saat piknik liburan kali ini ya!

Gedung bola
Sebelum masuk, perhatikan bentuk bangunan museum olahraga yang berwujud bola berwarna merah putih. Bola memang menjadi salah satu penanda aktivitas berolahraga karena di sebagian besar olahraga, bola hadir menjadi salah satu perangkat utamanya.

Sejak menjelang pintu masuk, ada poster atlet-atlet Indonesia yang super keren. Risa Suseanty yang dijuluki Ratu Downhill karena prestasinya di cabang olahraga sepeda downhill. Mengenakan helm dan alat keselamatan lainnya, Risa melahap aneka medan bukit terjal yang ekstrem.

Di bawah fotonya yang membuat kita merasa, naik sepeda itu asyik, tertulis prestasinya, meraih emas di SEA Games 1997, 1999, 2001, 2009 dan 2011 hingga kejuaraan dunia Fontana Winter seri 5 di Amerika Serikat pada 2011, kategori Women Expert.

Masuk ke gedung tiga lantai, ada berbagai tulisan pembakar semangat yang dipadukan dengan foto-foto prestasi para atlet.

Olahraga untuk pembangunan karakter bangsa.
Mewarisi para jawara.
Selamat datang di Museum Olahraga Nasional.
Di mana prestasi anak bangsa ditunjukkan.
Di sini tak hanya berjajar prestasi anak bangsa.
Di tempat ini, nilai-nilai kebajikan pun dipelajari.
Belajar tentang nilai kejuangan, kesungguhan, keuletan, disiplin serta kerja keras.

Primitif hingga olimpiade
Benar saja, masuk lebih dalam, akan dijumpai cerita tentang olahraga dan kehidupan manusia. Ada aneka peralatan olahraga tradisional seperti bola takraw, hingga replika perahu layar dewa ruci hingga kisah sejarah Pekan Olahraga Nasional (PON).

Olahraga juga membawa berkah pada pencapaian Indonesia di tingkat global, ketika Indonesia sukses menyelenggarakan Asian Games Jakarta 1962 dan GANEFO 1963.

Bisa juga merunut sejarah olahraga dalam kehidupan manusia yang ditunjukkan lukisan di gua yang menggambarkan aktivitas berburu, berlari dan memanah hewan. Menunjukkan, manusia telah mempraktikkan olahraga sejak masa primitif.

Naik ke atas, ada memorabilia berupa kaus, jaket hingga peralatan olahraga. Mari belajar juga dari Zus Undap, perempuan pemain anggar, yang meraih 13 emas dan 10 emas di PON hingga bertanding di Olimpiade Roma pada 1960 dan meraih emas pada GANEFO 1963 di Jakarta.

Cerita tentang para pahlawan di lapangan hijau dan arena bulutangkis, cabang-cabang olahraga paling favorit di Indonesia diceritakan dalam gambar dan kalimat yang menggugah. Ada cerita tentang pebulu tangkis Ferry Sonneville, manusia tercepat di Asia Mardi Lestari serta pemain sepakbola Gareng dan Iswadi Idris.

Teladan para legenda
Di lantai tiga, terdapat memorabilia dari legenda-legenda Indonesia, termasuk Tiga Srikandi. Ada raket yang mengantarkan Susi Susanti, Alan Budi Kusuma, Ricky Subagja, dan Rexy Mainaki meraih medali di olimpiade hingga sepatu legenda All England, Rudi Hartono.

Bukan cuma prestasi, di museum ini, olahraga pun diceritakan dalam kaitannya dengan politik, pemberitaan, tumbuhnya komunitas, mencari kesenangan dan tentunya memelihara kesehatan. Yuk, kita mampir ke museum olahraga dan tentunya harus rajin berolahraga! (Zat/M-1)

Komentar