MI Muda

Medsos dalam Sinema Karya Anak SMP

Ahad, 18 December 2016 07:54 WIB Penulis: Syifa Amelia

Grafis/Duta

LIMA siswa yang sangat suka merundung orang lain dengan berkomentar negatif di media sosial suatu malam belajar kelompok di salah satu rumah anggota tim mereka. Namun, tiba-tiba mati lampu dan mereka disekap pria bertopeng.
Masih soal media sosial, ada pula kisah tragis pelaku perundungan yang mengalami kecelakaan.

Kisah dalam film Comment dan Menebar Benci itu diputar dalam Hiffest yang diselenggarakan SMP Highscope Indonesia TB Simatupang.

Acara tahunan yang pertama kali diadakan pada 2006 ini mengadu film-film pendek karya siswa SMP Se-Jabodetabek dan kali ini juga diikuti peserta dari Bali. Tema tahun ini, Cyberspace–think before you post. “Kami pilih tema ini sebagai bagian dari kampanye agar orang-orang bisa menggunakan internet secara positif, bukan negatif,” kata Magara Putra Adipura, Ketua Panitia Hiffest 2016.

Pasalnya, lanjut Magara, media sosial lebih banyak digunakan untuk hal-hal negatif, mulai perundungan hingga menjelek-jelekkan orang lain. Kerennya lagi, acara ini seluruhnya dipersiapkan 49 siswa SMP.

Pelatihan hingga produksi
Highscope menjadi tim panitia. Kompetisi filmnya melibatkan 17 tim dari 13 sekolah. Para peserta mengikuti rangkaian acara yang telah berlangsung sejak pelatihan film yang dilakukan 12-13 November. Selama dua hari mereka dibimbing para mentor tentang kiat memproduksi film, mulai membuat skrip, memproduserinya, menyutradarai, mengedit, dan tentunya berakting.

Setelah itu, seluruh tim diberi waktu selama dua minggu untuk membuat sebuah film pendek yang berdurasi maksimal 15 menit yang semuanya bertema cyberspace.

Rangkaian selanjutnya ialah movie screening yang dilakukan pada Sabtu (3/12). Kualitas film yang telah diproduksi dinilai. Dari 17 film yang ditampilkan, dipilih 7 film terbaik yang akan tampil di acara puncak, Awarding Day.

Penilaian juri
Di malam penghargaan yang seru sekaligus menegangkan, Sabtu (10/12), film-film nominasi terbaik ditayangkan dan dinilai langsung para juri, mulai penyanyi Rossa, sutradara Amin Ishaaq dan Ario Rubbik, aktor Reza Pahlevi, aktris serta Wafida Saifan, pemain film sekaligus musisi.

Film-film keren itu Menebar Benci karya SMPN 3 Gunung Putri, Curiga dari SMP Islam Dian Didaktika, serta Change produksi SMP Highscope Bali. Selain itu, ada Comment dari SMP Highscope TB Simatupang, Maya dari SMP Global Mandiri Jakarta, Another produksi SMPIT Auliya serta One Click SMP Highscope Kelapa Gading.

Istimewanya lagi, setelah film diputar, selalu diikuti penampilan band masing-masing yang menyanyikan lagu soundtrack-nya.

Dari ketujuh film, ada satu film yang membuat juri Ario Rubbik dan Amin Ishaq memberikan standing ovation, yaitu Another dari SMPIT Auliya. Film ini berkisah tentang gadis dengan autisme yang menjadi saksi pencurian. Ia mengunggah peristiwa itu di akun Instagram-nya.

“So smart, sampai susah ngomong untuk cerita yang luar biasa ini,” kata Ario Ishak.

Setelah ketujuh film ditayangkan, saatnya juri menentukan pemenangnya! Terlihat terjadi sedikit perdebatan antara Poppy Sovia dengan Ario Rubbik di meja juri.

“Aku enggak menyangka adik-adik seumuran kalian ini prestasinya keren banget, udah bisa bikin film beneran kayak gini. Mengejutkan banget. Aku salut sama kalian,” tutur Poppy sembari mengajak para finalis agar terus berkarya meskipun tidak terpilih menjadi juara.

Sampaikan pesan
Saat yang dinantikan pun tiba, hasil perundingan para juri dibacakan! Penghargaan paling ditunggu yaitu Best Movie jatuh pada tuan rumah, SMP Highscope TB Simatupang dengan karya Comment. Mereka berhasil mendapatkan uang tunai Rp2.500.000 beserta plakat.

Total ada 12 kategori yang diperebutkan, yaitu Best Movie, Best Director, Best Scriptwriter, Best Actor In a Leading Role, Best Actrees In a Leading Role, Best Actor/Actress In a Supporting Role, Best Film Editing, Best Shot/Cameraman, Best Poster, Best Synopsis, Best Soundtrack, serta Best Live Band Performance.

“Ini bukan tentang kompetisi, kalah dan menang, tapi sebagai pembuat film mereka harus mampu menyampaikan pesan secara jelas, tanpa bias, agar apa yang mereka tampilkan dapat diapresiasikan penonton,” kata Amin Ishaaq.

Acara ditutup dengan mengajak semua yang hadir melakukan mannequin challenge. Ya dong, filmnya keren, yang membuatnya pun kekinian! (M-1)

Komentar